The Way Back Home

The Way Back Home
Crimson


__ADS_3

“Ruberu!” Farrell melihat Ruberu menekan tubuh Olivia ke bawah, mengunci dan membuatnya tak bisa bergerak bebas.


Olivia berusaha berontak meski percuma. “Lepaskan aku! Akan kubunuh kamu!”


“Kamu serius mengatakan hal semacam itu padaku? Kamu hanya akan menambah panjang daftarmu. Melawan petugas jelas bukan hal baik.” Ruberu sudah memborgol kedua tangan Olivia. Gerakannya begitu cepat nyaris tak terlihat.


Remy berlari dari ujung lorong. “Ka— Kalian nggak apa-apa?”


William bangun sambil membersihkan lututnya. “Hampir terluka.”


Remy memutar kepalanya, dia melihat Farrell baik-baik saja. Sedangkan Milo nampak pucat. “Ka— Kamu nggak apa-apa? Kamu kelihatan shock.”


“Bagaimana aku tidak shock!?” Milo berseru sambil melempar kedua tangannya ke atas. “Ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi sekarang?” Dia menoleh langsung pada kakaknya. Farrell bergeming. Dia pun menoleh pada Remy.


Remy meremas kedua tangannya. “Ja— Jadi— Jadi tadi kami berpikir… Kalau saja… Maksudku, seandainya Farrell bisa membuat mereka mengaku, mu— mungkin…”


“Biar aku saja!” sahut William. “Jadi, tadi petugas kepolisian itu datang kepadaku bersama Remy. Kami merencakan untuk membuat Denise dan Olivia mengaku. Bagaimana caranya? Dia bilang akan menggunakan Farrell sebagai umpan.”


Farrell mengangguk. “Ya, aku sudah tahu itu. Ruberu sempat mengajari beberapa trik untuk memancing mereka bicara. Aku hanya nggak menyangka kamu…” Farrell membiarkan kalimatnya menggantung.


“Nggak menyangka kalau aku di pihak kalian?” William menengadah ke atas, ke arah dua burung elang. “Kamu sudah membebaskan Bailey dan Barney! Denise bahkan tidak menyadari kalau mereka hilang. Dia terlalu sibuk dengan ibumu. Tanpa sandera, mereka nggak bisa menyuruhku. Jadi, aku kabur saja. Aku menanti kedatanganmu ke sini untuk membantu. Aku juga membantu Remy menyelinap ke dapur lalu membantu mencari tempat untuk memancing Olivia. Bagaimana, kerjaku cukup bagus, eh?”


“Sangat bagus!” Farrell lega mendengar penjelasan William. “Sekarang, kembali soal paman. Di mana mereka?”


“Seharusnya ada di ruang pertemuan. Kamu mau ke sana?”


“Ya! Aku harus menyelamatkan paman dari…” Farrell menghentikan ucapannya. Dia melihat gadis lain bergabung dengan mereka. “Emily?”


Emily muncul. Langkahnya pelan, alisnya berkerut, giginya menggigit bibir. “Aku mendengar keributan. Apa yang terjadi?” Pertanyaannya terdengar bergetar. Apalagi setelah dia melihat Ruberu memaksa saudara kembarnya duduk di lantai. Bahunya merosot turun. Kelihatan sekali kalau dia ingin bicara tapi tak tahu harus bicara apa.


Ruberu berdiri menghadap pegawai wanita itu. “Kamu seharusnya ikut denganku, Emily. Aku bisa menjelaskan semuanya di kantor. Kupikir kamu juga punya banyak hal yang harus dijelaskan pada kami.” Ruberu bicara sembari menunjukkan sebuah lencana berornamen bintang. Tanpa perlu dijelaskan, Farrell memahami itu pastilah semacam lencana polisi atau sejenisnya.

__ADS_1


Mata Emily mulai berkaca-kaca. “Aku… Aku mencoba menghentikan mereka. Mereka keluargaku.”


“Tolong ikut denganku. Kita akan bicarakan semua di kantor.”


Olivia mulai terkekeh. “Ayah benar. Kamu memang anak durhaka, Emily! Sayang sekali, ya. Aku sudah berulang kali bilang, bukan? Bagaimana pun, kamu sudah terlanjur terlibat, Emily. Sekarang mereka akan memenjarakanmu juga bersama kami. Kamu seharusnya membantuku, Emily!”


“Nggak! Kamu nggak bisa memerintahku!”


“Oh, ya? Kamu lupa pada muffin yang biasa kuberikan padamu?”


Ruberu tak segan membentak tangkapannya. “Hei! Diam! Tutup mulutmu!”


Emily tak lagi berani menjawab.


Olivia sama sekali tidak takut dengan Ruberu. Dia malah berteriak. “Lakukan tugasmu dengan benar, Emily! Ambil penawarnya dan bunuh Farrell Eden!”


Emily mendadak diam seperti patung. Matanya kosong, mulutnya terkatup rapat.


Farrell terkesiap. “Ramuan manekin!” Farrell seharusnya tahu kalau dia tidak boleh berada dekat dengan Emily. “Jangan, Emily!”


PRANG!


“Tidak!”


Belum sempat bereaksi, Emily sudah bergerak lagi. Dia mengambil sebilah belati dari balik kantungnya sendiri. Tangannya menghunuskan pisau tepat ke perut Farrell.


“Farrell!” Milo hanya sempat berteriak.


Kejadian itu terjadi begitu cepat. Farrell tak sempat menghindar atau kabur. Dia hanya bisa merasakan rasa sakit luar biasa merambat dari perutnya ke seluruh tubuhnya. Emily menarik pisau. Darah merah segar mengalir keluar dengan deras. Emily hendak menyerang lagi. Untungnya, William buru-buru menyergapnya dari belakang. Dia memegang erat kedua pergelangan tangan Emily, mencegahnya melakukan hal buruk lain. Emily menggeliat sesaat. Kemudian dia berhenti. Tatapannya hanya tertuju pada Farrell yang mundur perlahan.


Farrell mengulurkan tangan, memeriksa lukanya. Dia bisa melihat darah berpindah tangannya. Pandangannya mulai kabur. Dadanya terasa sesak. Dunianya mulai berputar. Tubuh Farrell merosot setelah menemukan dinding di belakangnya. Dia bisa melihat bayangan Milo mendekat juga mendengar seruan paniknya di balik suara dengung hebat.

__ADS_1


Milo menghampiri. “Farrell! Farrell, bertahanlah!”


“Milo…”


Ruberu melempar borgol lain pada William. “Borgol dia!”


Milo menoleh pada si polisi yang kini ikut mendekat. “Ti— Tidak bisakah kamu lakukan sihir apa pun untuk menyembuhkannya?”


“Maaf sekali. Aku polisi, bukan dokter,” sahut Ruberu cepat. “Kita harus cari sesuatu untuk menekan lukanya. Cepat!”


“A— A— Akan kuambilkan!” Remy pun berlari meninggalkan mereka.


“Milo… Cari paman…” Farrell mendapati dirinya mulai kesusahan bicara.


Milo spontan protes. “Apa!? Kenapa di saat seperti ini kamu masih memikirkan paman?”


Farrell menoleh pada Ruberu. “Ruberu… tolong selamatkan pamanku! Lalu, ayahku… Apa kamu juga bisa membebaskan dia? Dia… Dia tidak bersalah.” Kini rasa mual mulai naik ke tenggorokannya. Dia harus berusaha keras untuk tidak terbatuk atau lebih parah lagi.


“Aku tahu. Akan kulakukan yang kubisa. Sekarang, diamlah! Jangan bicara lagi!” pinta Ruberu.


Wajah Farrell makin memucat. Tubuhnya mulai oleng, tak sanggup menahan lagi. Di akhir sisa-sisa kekuatannya, Farrell menatap adiknya lekat-lekat. “Milo… Maaf… Sekarang, kamu yang harus menolong ayah… dan ibu…”


“Jangan bicara lagi!” sahut Milo. “Kamu nggak dengar apa kata—”


“Berjanjilah…”


“Oke, oke! Terserah!”


“Jaga Libby…”


“Jangan bicara lagi, kumohon!” Milo tak bisa menentukan mana yang lebih dominan dalam hatinya, kesal atau cemas. Benaknya dipenuhi kekhawatiran pada kondisi sang kakak. “Aku tadi sudah bilang nggak mau mendengar permintaan terakhir siapa pun. Apalagi darimu, Farrell! Kumohon, bertahanlah. Semuanya akan baik-baik saja!”

__ADS_1


Farrell ingin sekali melanjutkan dengan kalimat pernyataan kalau dia tidak keberatan foto dengan Milo sehabis pertandingan. Namun, sisa tenaganya hanya cukup untuk memulas senyum tipis. Dia bisa merasakan rasa pedih pada matanya sebelum seluruh dunianya menggelap.


“Farrell?” Milo mengulurkan tangan, mengguncang pelan tubuh Farrell yang kini bergeming di atas lantai. “Farrell!”


__ADS_2