The Way Back Home

The Way Back Home
Value


__ADS_3

“Ayah?” suara Farrell bergetar ketika kata berkarat tersebut keluar dari mulutnya.


“Si- siapa?” jawaban itu tak kalah bergetar.


“Ayah, benarkah itu kamu? Ini aku, Farrell.”


“Farrell?” Ayah menatapnya dengan kebingungan. “Farrell?” tanyanya lagi, kali ini dengan sebuah senyuman. “Farrell? Anakku?”


“Ya, aku Farrell.”


“Astaga… Ayah tak mengenalimu. Kamu— Kamu— Kamu kelihatan lebih gagah, lebih dewasa. Ya ampun, sudah berapa tahun berlalu? Aku tak pernah melihatmu lagi sejak…” Kalimat ayah tak terselesaikan.


“Apa yang terjadi, ayah?”


“Aku… Aku dipenjara,” katanya sambil tersenyum. Namun, tak ada rasa senang di sana, justru kesedihan dan ketakutan. “Suatu hari, ada pengunjung hotel. Seorang pria… Lalu, dia… Esok harinya, dia… Dia mati. Dan, aku… Aku di sini.”


“Ayah membunuhnya?”


“Nggak!” sahut ayah cepat, hampir seperti seruan. “Aku nggak membunuh siapa pun. Farrell, percayalah pada ayah. Ayahmu ini nggak membunuh siapa pun. Aku nggak tahu kenapa dia mati. Aku bahkan nggak tahu siapa orang itu. Dia— Dia seperti orang biasa. Aku— Aku nggak membunuhnya… Percayalah!” Suara ayah masih bergetar. Kepahitan dan kesedihan tersembunyi di dalamnya.


“Aku percaya padamu.” Farrell bicara meski dia tak paham apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.


Ayah mengangguk. “Terima kasih, nak. Terima kasih…” Ayah mengedipkan mata dan tak sengaja membiarkan sebutir air mata menuruni pipi kirinya. Tangan kurusnya buru-buru menyeka. “Kukira kalian takut padaku atau malu. Malu karena ayah kalian masuk penjara. Kukira kalian sudah tak peduli lagi.”


“Nggak, ayah. Kami peduli padamu. Kami hanya nggak tahu apa yang terjadi. Kami hanya tahu kalau ayah menghilang tanpa kabar setelah Libby lahir. Setahu kami, ayah pergi meninggalkan kami. Pergi tanpa kabar. Justru kukira ayah sudah nggak peduli dengan kami. Itu menyakitkan dan pahit. Kami mencoba berjalan sendiri dan melupakanmu karena kami kira… kami kira ayah nggak akan kembali. Tapi, nyatanya... Ayah sama sakit dan pahitnya seperti kami. Kenapa ayah nggak pernah mencoba menghubungi kami?”


“Apa!? Aku melakukannya, Farrell. Aku selalu menulis surat untuk kalian. Tapi, Albert bilang kalian nggak mau menerimanya. Bagi kalian, aku sudah mati. Karena aku sekarang jadi narapidana pembunuh, aku bukan lagi keluarga kalian.”

__ADS_1


“Paman Albert?”


“Hanya dia yang kemari setiap tahun. Dia… Aku…” Ayah terdiam sebentar ketika kecanggungan datang menghampirinya. Lalu, dia bertanya, “Tunggu. Bagaimana caramu kemari? Aku dan pamanmu merahasiakan hal ini dari kalian dan baru akan memberitahukan semuanya saat kalian lebih besar. Soal penginapan, pintu ke dunia sihir, semua. Aku berpikir mungkin setelah lulus kuliah. Saat kalian siap untuk melanjutkan usaha kami. Apa kamu sudah lulus?”


“Ya, baru saja.”


“Ah, begitu rupanya! Jadi pamanmu menceritakan rahasia Eden’s Lodge lalu membawamu ke sini?”


“Tidak.” Farrell merasakan suatu rasa hitam kelam mencuat dari dasar hatinya. Kekesalan. “Paman nggak pernah bercerita apa pun pada kami. Dia nggak pernah memberitahu kalau ayah di penjara. Dia nggak pernah memberikan surat apa pun pada kami. Dia bilang ayah menghilang, tidak bertanggung jawab, dan kami harus melupakanmu.”


“Apa!?”


“Paman menggantikan posisi ayah dan ibu sekaligus saat ibu sakit—”


“Ibumu? Dia sakit?”


“Ibu sakit beberapa lama setelah ayah pergi. Dia tak bisa merespon atau bicara seperti dulu, hanya tertidur setiap hari. Paman membantu kami dalam masa-masa seperti itu. Dia mendukung kami secara finansial dan moral. Tapi, nggak pernah sekalipun paman bilang ayah di sini. Paman nggak pernah membawakan surat apalagi memberitahu portal sihir Eden’s Lodge.” Farrell menghela napas sebentar untuk meredam perasaannya. “Aku di sini karena Christo. Awalnya aku nggak percaya saat dia bilang paman nggak sebaik kelihatannya. Sekarang… Aku tahu kalau paman menyembunyikan banyak hal dari kami.”


“Itulah masalahnya.” Farrell sebenarnya tak mau bercerita. Dia merasa gagal sebagai kakak karena membiarkan kedua adiknya terperangkap bersama penyihir jahat. Namun, ayah perlu tahu semua kebenarannya. Sama seperti dirinya yang haus akan kebenaran. “Milo dan Libby ada di penginapan. Mereka berada di bawah pengaruh ramuan sihir seorang wanita bernama Denise.”


“Siapa Denise?”


“Teman paman. Christo bilang kalau dia ingin membeli penginapan.”


“Membeli penginapan? Lagi?”


“Lagi?” Farrell mengulang kata terakhir sambil mengernyit.

__ADS_1


“Pamanmu suka sekali judi. Aku nggak tahu berapa banyak yang dia berikan pada kalian, tapi aku yakin penginapan menghasilkan uang lebih banyak dari itu. Pamanmu ketagihan dengan judi. Dia bermain, lalu kalah, main lagi, lalu menang. Begitu seterusnya. Aku berulang kali bilang agar dia berhenti. Aku nggak mungkin membiarkan pendapatan penginapan terus menerus dipakai untuk membayar hutangnya. Ini bukan pertama kalinya pamanmu ingin menjual penginapan.”


“Aku— Aku nggak tahu kalau—”


“Pamanmu harus dihentikan! Kamu harus segera kembali ke sana. Ini— Ini bukan soal penginapannya. Ini soal adik-adikmu. Kamu harus membebaskan mereka dari pengaruh sihir — atau apa itu — secepatnya. Baru kali ini, pamanmu memakai cara nekat seperti itu. Dia pasti terlilit hutang. MAtanya sudah gelap. Aku nggak bisa membayangkan apa yang bisa pamanmu lakukan lagi. Dia harus segera dihentikan.”


“Ayah, ada satu hal lagi. Wanita yang ingin membeli penginapan, Denise, ingin kami mencarikan sesuatu. Apa hubungannya kami dengan penjualan penginapan? Kami hanya… anak-anak,” ujar Farrell sambil mengedikkan bahu.


Ayah mendadak terdiam. Dia menunduk. Meski Farrell menantikan jawaban, ayah tak kunjung bereaksi.


Farrell sampai perlu memanggilnya lagi, “Ayah?”


Ayah menatapnya dengan alis berkerut. “Maafkan aku. Ini salahku.”


“Apa maksud ayah?”


“Sertifikat penginapan…” Ayah mengatakannya seraya membiarkan tatapan matanya kembali turun. “Sertifikat itu ada pada kalian.”


“Sertifikat apa? Aku bahkan nggak pernah melihatnya.”


“Benar, Farrell. Kalian memang nggak pernah melihatnya,” Ayah menggeleng. “Aku menyembunyikannya dengan suatu mantra sihir. Mantra sihir itu hanya bisa dibuka oleh kalian. Saat kalian bersatu hati dan pikiran, sertifikat penginapan itu baru akan muncul.”


“Tu— Tunggu. Ayah menyembunyikan sertifikat dengan kami sebagai kuncinya. Semacam itu?”


Bahu ayah merosot saat menjawab, “Ya. Bodohnya aku! Aku seharusnya sadar itu akan membuat kalian dalam bahaya.”


“Apa penginapan itu segitu berharganya bagi ayah?” tanya Farrell.

__ADS_1


Ayah tak mampu menjawab, hanya menunduk. “Maafkan aku, Farrell. Aku… Aku…”


“Tidak apa, ayah.” Farrell berusaha tersenyum di depan ayah. “Sekarang aku paham apa masalahnya. Aku akan mencari cara. Aku akan menolong Milo dan Libby. Dan, sekalipun aku nggak tahu berapa harga Eden’s Lodge bagi ayah, aku juga nggak akan membiarkan paman menjualnya.”


__ADS_2