
Vincent terdiam sebentar. Dia melipat tangannya ke depan dada. Setelah menarik napas dalam-dalam serta memilih kata, dia baru bicara. “Kedengarannya ada masalah serius di keluarga kalian. Jangan khawatir, aku nggak akan tanya lebih lanjut. Ngomong-ngomong, kalau kamu memang ingin pesan ramuan penawar, aku butuh jaminan.”
“Jaminan?”
“Peraturan mengatakan kami hanya bisa mengambil bahan dari gudang dan meraciknya setelah mendapat uang muka atau jaminan. Semacam itu.”
Farrell kembali menunduk. Dia punya tabungan di bank dan mobil terparkir di bagian depan Eden’s Lodge. Namun, detik ini, dia tak membawa apa pun selain dirinya dan ponsel yang baterainya sudah habis. “Menurutku, mata uang di sini berbeda dengan uang di dunia satunya, benar ‘kan?”
Vincent menggeleng. “Nggak masalah. Elioscavea bergerak di dua dunia. Dunia atas dan dunia bawah. Maksudku dunia normal dan dunia sihir. Jadi, kami menerima pembayaran dalam bentuk mata uang apa pun, emas, batu berharga, semuanya.”
“Kamu tadi bilang ingin menawarkan kerja sama dengan Eden’s Lodge. Kerja sama seperti apa itu?”
“Ya, mungkin kurang tepat kalau dibilang sebagai kerja sama. Kami berniat membuka toko di kota ini. Mungkin ini kota kecil, tapi arus dari luar kota cukup banyak. Coba saja lihat banyaknya penginapan di sini. Lagipula ada juga beberapa bahan langka yang hanya tumbuh di sini. Gawatnya, kami tak punya portal padahal kami sendiri harus sering bolak balik dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu, aku ingin bicara dengan pemilik Eden’s Lodge untuk harga khusus. Kupikir kami akan sering menginap di sana.”
“Bagaimana kalau kubantu mendapatkan harga spesial? Tukar dengan ramuan penawar.”
“Menarik. Bagaimana caramu membantuku?”
Farrell sekarang merasa tidak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya pada Vincent. “Pamanku, Albert Eden, berusaha menjual penginapan ke wanita bernama Denise tanpa izin dari keluarga. Lebih parahnya lagi, dia meracuni kedua adikku untuk menuruti semua perintahnya. Kalau kamu membantuku membebaskan saudaraku, aku akan mencari cara apa pun untuk harga spesial itu.”
“Aku bisa melihatnya. Sekarang saja kamu sedang mencari cara untuk mendapatkan ramuan penawar. Family man, eh?”
“Aku—” Farrell tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Vincent mengulurkan tangan. “Kurasa kita sepakat?”
Farrell pun menjabat uluran tangan tersebut. “Ya.”
__ADS_1
“Aku perlu tahu komposisi ramuan manekin yang dipakai. Kamu punya sample ramuannya?”
“Nggak, lebih baik. Aku sudah punya daftar komposisinya.” Farrell bersyukur dia masih menyimpan kertas yang ditulis Hendrick.
Vincent menerima dan mulai membacanya satu per satu. Dia melirik Farrell dan kembali pada kertas. Begitu beberapa kali sebelum kembali bicara. “Ramuan ini nggak begitu sulit. Aku yakin semua bahan penawarnya ada di gudang persediaan. Beri aku waktu empat jam. Subuh nanti, ramuan penawarnya sudah ada di tanganmu.”
Farrell tak tahu apa yang dipikirkannya saat bicara dengan Vincent. Beberapa saat lalu, dia berpikir bukan bagian dari keluarga Eden dan ingin meninggalkannya. Namun, beberapa saat berikutnya dia bicara dengan Vincent dan minta dibuatkan ramuan penawar. Vincent bahkan berjanji memberikan ramuan itu padanya di tempat ini esok hari.
Lagi-lagi, Farrell terduduk di kursi taman. Pandangannya menerawang ke langit malam. Tangannya masih menggenggam ramuan pemberian Vincent. Dia melirik ramuan tersebut dan mencobanya. Ramuan itu terasa seperti cherry dengan sedikit rasa lemon dan bau mint. Dia menyesapnya sebentar. Badannya mulai terasa lebih hangat. Pikirannya juga mulai lebih jernih. Mungkin dia terlalu kasar pada ayah beberapa saat lalu. Dia sudah membiarkan emosinya meluap lalu pergi begitu saja. Farrell pun berpikir untuk kembali.
Ketika melangkah memasuki kota, dia melihat burung hantu putih terbang rendah di atasnya. Gizmo. Burung itu berputar dan menghilang di perempatan depan. Tak lama kemudian, Farrell melihat Gizmo kembali bersama Christo yang sedang berlari padanya.
“Dari mana saja kamu?” Christo bertanya, masih terengah-engah.
“Kamu membuatku cemas—”
“Maaf,” sahut Farrel. “Aku terlalu emosi tadi. Aku pergi tanpa bicara apa pun padamu. Aku menemui ayahku dan marah padanya. Sekarang aku merasa sangat buruk.”
“Ya, aku tahu. Aku juga dari tempat ayahmu. Dia khawatir setengah mati.”
Farrell tak tahu apakah dirinya masih layak untuk dikhawatirkan orang yang tak punya hubungan darah dengannya. Meski di satu sisi Farrell senang, di sisi lain dia merasa tidak enak. “Aku hanya masih belum bisa menerima kenyataan kalau… kalau… aku bukan anak kandungnya. Ayah nggak mau mengakui semuanya. Itu membuatku kesal. Seberapa sulit mengatakan kebenarannya?”
“Sangat sulit.”
__ADS_1
“Menurutmu dia nggak mau mengatakannya karena takut aku akan lari?”
“Ya. Dan kamu memang baru saja lari darinya. Kamu membuat ketakutannya jadi kenyataan. Selamat.”
Farrell terdiam. Dia tidak tahu harus bereaksi apa dengan lelucon Christo.
Christo menepuk bahunya, “Ikut aku!”
“Ke mana?”
“Bermalam di padang.”
Farrell tak tahu kenapa dia menurut begitu saja. Dia mengikuti Christo berjalan keluar dari kota. Mereka menyusuri jalan setapak, memasuki hutan, dan menuruni perbukitan. Farrell tak lagi melihat pemukiman atau tanda-tanda kehidupan manusia di sekitarnya lagi. Kini, hanya ada pohon dan salju di sekelilingnya. Nafasnya makin berat dan asap tipis menyembul setiap kali dia menghembuskan napas.
GRRRR…
Mendadak, Farell berhenti. Suara geraman mencekamnya dari depan. Bukan itu saja, Farrell baru menyadari kalau dirinya seorang diri. Dia menoleh dan menoleh lagi tapi tak menemukan Christo di dekatnya.
“Christo!” Dia mencoba memanggil Christo namun tak mendapat jawaban. Suaranya seolah ditelan kegelapan malam. Sebaliknya, suara geraman tersebut malah mengeras. Lalu, terdengar suara geraman lain. Suara mereka seolah sahut menyahut.
Farrell tak yakin apakah dia harus maju. Dia menyapu sekitarnya dalam sekali pandang. Bulan bersinar cukup terang untuk membantunya melihat. Tapi, tak cukup terang untuk membantunya mengawasi beberapa meter ke depan. Dia tahu ada bahaya mengintai di dekatnya. Serigala. Farrell mengenali suara mereka. Dia pun memilih melangkah mundur sambil tetap awas dengan kondisi sekitarnya.
“Christo?” Masih tak ada jawaban.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, Farrell melihat sesuatu bergerak di depan. Bayangan itu seperti anjing tapi lebih besar. Serigala! Bukan satu, bukan dua. Setidaknya ada lima atau bahkan lebih. Farrell terkesiap. Tanpa banyak pikir, Farrell berbalik dan mulai berlari. Dia tak berani menoleh ke belakang. Namun dari langkahnya, Farrell tahu para serigala itu sudah dewasa. Mereka bisa menerkamnya hidup-hidup.
Farrell berlari dan berlari tanpa arah. Dia buta di dalam hutan, tak tahu mana arah keluar. Dia hanya bisa berlari. Hingga satu titik, kakinya terantuk sesuatu yang besar. Farrell kehilangan keseimbangan, terjembab dalam salju dingin, dan terpeleset menuruni lembah tanpa sanggup berhenti.