The Way Back Home

The Way Back Home
Together


__ADS_3

Paman tiba di portal sesuai dengan ucapan Vincent. Farrell mengintai paman bersama Christo dari balik salah satu gang. Paman tidak sendiri. Dia bersama Denise dan tentu saja kedua adiknya, Milo juga Libby. Farrell melihat tatapan keduanya masih kosong. Wajah Milo sedikit merah terutama bagian hidung. Dia memang tidak kelihatan sehat. Farrell gatal sekali ingin bertemu pamannya langsung. Namun, gegabah hanya akan mengacaukan segalanya. Dia perlu bersabar untuk menyelamatkan Milo dan Libby. Lalu apa? Farrell mendadak tak mengerti apa langkah selanjutnya setelah mereka bisa berkumpul bertiga.


Lamunannya buyar ketika Vincent mendekati paman.


“Tuan Albert Eden, kebetulan sekali bisa bertemu di sini.” Vincent menjumpai rombongan itu sesaat setelah mereka beranjak keluar dari gang buntu. Sambil mengulurkan tangan, Vincent pun memperkenalkan dirinya sendiri. “Saya Elvin Vincent Elioscavea. Saya yakin kalau pegawai penginapan sudah memberitahu Anda mengenai penawaran saya.”


Paman memandang kesana kemari seolah tak tahu apa yang dibicarakan lawan bicaranya. Farrell makin yakin kalau paman memang tidak menjalankan penginapan sebagai mana mestinya. Farrell juga makin percaya kalau Vincent bisa membaca pikiran.


“Ah, mungkin Anda lupa. Biar saya jelaskan lagi. Elioscavea merupakan salah satu pelanggan setia Eden’s Lodge. Kami pikir mungkin Anda bisa memberikan paket menginap khusus atau sejenisnya.”


Selagi Vincent menjelaskan, Farrell mendekat. Dia melangkah pelan dan sangat hati-hati. Tudung jaket menutupi kepalanya. Setidaknya Denise tidak akan mudah mengenalinya, begitu pikirnya. Paman sendiri masih terfokus pada Vincent, kebingungan. Vincent menjelaskan dengan baik, sangat baik sampai paman tidak mampu memberikan tanggapan. Paman tak akan menyadari kehadirannya.


Denise mendesah bosan. Dia sudah berkacak pinggang sedari tadi berharap Vincent tahu kalau kedatangannya mengganggu. Namun, Vincent tak peduli.


Milo dan Libby ada di belakang Denise. Farrell menepuk bahu Milo, tapi adiknya bergeming. Farrell ingin memanggil namanya tapi takut menarik perhatian Denise. Namun, Denise sendirian, jadi kenapa tidak sekalian saja. Farrell menggenggam tangan Milo dan tangan Libby dengan tangan satunya. Tanpa banyak bicara lagi, dia menarik kedua adiknya.


Farrell sempat takut akan menyeret mereka seandainya mereka tidak mau berlari. Di luar dugaannya, semuanya berlangsung lancar. Milo dan Libby mengikutinya berlari. Langkah mereka bahkan seirama dengannya. Pikiran mereka kosong jadi mereka menuruti semua yang terjadi di sekeliling tanpa perlawanan. Kecuali saat Denise memanggil nama mereka.


“Hei!” Denise baru menyadari kalau kedua anak tesebut hilang dari belakangnya beberapa saat kemudian. Dia melihat keduanya berlari bersama pria asing yang melesat di antara kerumunan orang. Denise terpaksa mengejar dan meninggalkan Albert Eden bersama Vincent.


Farrell membimbing kedua adiknya ke tempat yang sudah dia sepakati dengan Christo. Mereka berlari menyusuri kios-kios di tepi jalan, melewati para penyihir dengan hewan peliharaan mereka, juga menghindari ketika ada barang-barang berterbangan di jalan. Kesibukan pagi baru merekah. Waktunya sangat pas dengan pelarian mereka. Ketika Farrell melihat ke belakang, dia bisa melihat Denise kebingungan. Langkahnya dihambat lalu lalang orang dan kegiatan mereka menyambut pagi.

__ADS_1


Farrell berbelok di perempatan. Mereka melintasi gang sepi. Saat itulah, Farrell menyadari ada hal yang salah. Gizmo terbang menuju dirinya dengan seruan memilukan.


“Gizmo! Apa yang—” Farrell terkesiap.


Di depannya, dari arah berlawanan, dia melihat dua pria berotot sedang berlari mendekat. Jim dan Joe! Di antara semua keadaan ini, kenapa mereka harus muncul sekarang? Farrell berlari lagi keluar dari gang. Tepat ketika Denise melihatnya. Farrell berbelok ke arah lain, ke arah gang yang juga dituju Gizmo. Farrell tahu Christo pasti sudah menunggu di sana.


Farrell memasuki mulut gang dan tak berhenti sekalipun dia melihat Christo berdiri di tengah. Farrell memang sempat khawatir. Namun ketika menoleh ke belakang, Christo langsung berseru, “Terus lari! Tokonya ada di ujung gang!”


Farrell pun meninggalkannya.


Ketika Denise dan kedua anak buahnya datang, Christo menyambut mereka dengan senyum.


“Seharusnya aku tahu kamu membantunya!” teriak Denise. “Jim! Joe! Tunggu apa lagi? Cepat—”


Christo melemparkan kapsul biru ke tanah dekat ketiganya berada. Dengan cepat, asap biru mengepul dan menyelubungi mereka. Tak butuh waktu lama sampai ketiganya jatuh terlelap. Angin berhembus membawa asap mendekatinya. Sebelum dirinya sendiri kena, Christo pun berlari menyusul Farrell. Farrell belum jauh. Dia bisa melihatnya berlari.


 


 


Akhirnya, mereka kembali ke pintu merah Bliss and Tea Room.

__ADS_1


Pelayan wanita di dalam mengantar Farrell menaiki tangga yang sebelumnya dirantai. Christo mengikuti di belakangnya. Mereka berjalan tanpa membuat keributan. Tak satu pun bicara. Mereka berkomunikasi hanya dengan kontak mata saja. Toko belum buka dan tak seorang pun di sana. Pelayan lain menutup pintu merah tersebut lalu menguncinya rapat.


Farrell naik ke atas. Ruang penuh dekorasi menyambutnya. Deretan meja dengan bunga-bunga, dinding penuh pigura, dan tiang lampu berukiran di beberapa sudut. Warnanya didominasi lembayung, putih, biru muda, dan merah jambu. Warna-warna pastel khas ini juga masih terlihat ketika dia berbelok ke lorong di belakang tangga. Di sana, ada tiga kamar. Satu kamar sudah terbuka. Bliss, berdiri di depannya.


“Nyonya, aku—”


Bliss menunjukkan jari dan menggoyangkannya di depan bibir Farrell. “Tidak perlu bicara, cepat bawa mereka masuk. Adikmu kelihatan tak sehat,” katanya sambil melirik Milo.


Farrell mengajak keduanya masuk. Di sana, mereka didudukkan di atas ranjang. Bliss membawakan dua cangkir teh padanya. Farrell mencampurkan ramuan penawar ke dalamnya. Dia memberikan setiap mereka satu cangkir dan memberikan perintah. “Minum ini,” katanya. “Hati-hati. Pelan-pelan saja, masih panas,” imbuhnya.


Bliss hanya bisa tersenyum dan bertukar pandang dengan Christo.


Milo dan Libby tidak mempertanyakan perintah. Mereka menurut. Dengan kedua tangan, masing-masing memegang cangkir teh kemudian meminumnya pelan-pelan. Libby yang pertama bereaksi. Dia mengejap cepat seolah baru terbangun dari mimpi.


“Kakak?” tanyanya pelan. “Di mana ini?”


Lalu, Milo. Reaksinya sedikit berbeda dari Libby. Alih-alih tersadar, Milo malah bersin-bersin. Barulah dia memandangi ruangan asing di depannya. Ruangan tersebut penuh dekorasi bunga dan sangat cocok untuk wanita di abad delapan belas. “Wow… Tempat ini cocok untuk sesi foto.”


“Kalian kembali!” seru Farrell.


“Kembali? Dari mana?” tanya Milo. “Aku agak lupa apa saja yang terjadi belakangan ini. Seingatku Denise menyuruhku pergi keluar untuk mencari… apa ya?”

__ADS_1


“Aku juga nggak tahu apa yang Denise suruh,” gumam Libby. “Tapi aku ingat dia marah saat kita nggak menemukannya. Waktu itu kak Farrell nggak ada bersama kita. Apa kita akan dihukum lagi?” suara Libby bergetar ketika bertanya.


“Nggak. Kalian aman sekang.” Farrell tak sadar betapa dia merindukan kedua adiknya. Dia pun memeluk leher keduanya. Milo spontan melepaskan diri dan bersin-bersin lagi. Farrell pun terkekeh, “Kurasa sekarang kita perlu mengobati flu-mu.”


__ADS_2