The Way Back Home

The Way Back Home
Back Side


__ADS_3

Farrell dan Christo meninggalkan kantor polisi berdua. Mereka baru saja berniat kembali ke Bliss and Tea Room saat Gizmo terbang pendek ke arah mereka. Christo melihat pesan yang terikat di kakinya. Mereka berbelok sebentar ke gang kecil sepi untuk memeriksa pesan tersebut.


“Darimana dia?” tanya Farrell ketika si burung hantu mendarat di tangan Christo.


“Aku mengirimnya pada William untuk membantu kita pagi tadi. Tapi, William tidak muncul. Jadi, aku mengirimnya pada Remy untuk mengamati perkembangan rencana Denise.” Christo mengambil kertas pesan, membukanya, dan dalam sekejap air wajahnya berubah. “Kurasa kita terlalu meremehkan Albert Eden. Sekarang bibi Melanie dan William dalam perjalanan membawa ibumu ke Eden’s Lodge.”


“Ibuku? Itu nggak mungkin. Ibu ada di rumah paman dan bibi. Dia dijaga perwat dan pelayan. Ada Carla yang selalu bersamanya sejak sakit. Nggak mungkin dia bisa semudah itu membawa ibu pergi dari sana.”


Sejak ayah menghilang, ibu jatuh sakit. Fisiknya mulai melemah tapi tidak sampai membuatnya terbaring setiap hari. Kondisi mental ibu lebih mengkhawatirkan lagi. Ibu seperti orang depresi. Dia tidak menjawab saat ditanya dan hanya diam sepanjang hari. Akhirnya dia tak mau merespon. Dia tak mengenali siapa pun, tidak saudaranya sendiri, tidak juga ketiga anaknya. Linglung, mati rasa, terperangkap dalam dunianya sendiri. Akhirnya paman Albert mengambil alih dan merawatnya di rumah mereka. Paman dan bibi juga merawat mereka semua ganti ibu. Keduanya begitu hangat. Ini masih membuat Farrell masih sulit percaya kalau pamannya punya agenda tersembunyi di balik semua kebaikannya. Ternyata itu hanya trik paman untuk punya jaminan sekaligus sandera.


“Kalau ibumu ada di rumah Albert Eden, kenapa tidak mungkin? Semua orang adalah pelayannya.”


“Ya… Tapi— Tapi, Carla berbeda. Dia sangat peduli pada ibu. Dia tahu apa yang boleh dan tidak. Dia tidak sembarangan membiarkan ibu keluar rumah. Akan sangat aneh kalau bibi Melanie yang cuek tahu-tahu menemuinya sendirian bahkan membawanya pergi keluar. Kecuali…” Farrell berhenti sejenak ketika otaknya mulai menerka apa yang terjadi. “Dia nggak sendirian…” Farrell merasakan rasa dingin merayapi punggung dan menjalari wajahnya. “Dia nggak sendirian, dia bersama Farrell,” lanjutnya. “William!”


Christo mengernyit.


“Pagi ini kamu mengirim surat pada William dan tidak ada balasan. Itu karena William pergi bersama bibi Melanie ke tempat ibu. William pasti berubah jadi aku. Carla mengizinkan ibu keluar karena aku yang mengajaknya pergi.” Farrell mendesah.


“Itu masuk akal.”


“Kukira William ada di pihak kita.”


“Seharusnya begitu. Apa mungkin dia diancam? Tapi, William bukan penakut seperti Remy. Dia hanya akan melakukan sesuatu bila dia mau. Apa yang dia pikirkan?”


Apa pula yang dipikirkan paman? Paman Albert mungkin tidak akan sebegitu teganya menggunakan ibu untuk mengancam mereka, tapi ada Denise di sana. Kalau Denise bisa berhasil membuat paman rela meracuni keponakannya, dia pasti juga mampu membuat paman rela menariknya ibunya terlibat masalah ini. “Aku nggak akan membiarkan Denise menyentuh ibu. Aku harus kembali ke sana sekarang.”


“Sekarang? Itu bodoh. Saat ini, Milo dan Libby sudah bersama kita. Kalau kamu ke sana dan tertangkap, semuanya sia-sia. Kita bisa minta bantuan Ruberu—”

__ADS_1


“Nggak, aku nggak percaya padanya. Dia menyembunyikan sesuatu dari kita. Dia dari kepolisian pusat bukan kantor polisi kota ini. Dia punya agenda sendiri.”


“Itu nggak mengubah kenyataan kalau dia polisi, Farrell.”


“Justru itu. Polisi nggak mungkin bergerak tanpa bukti dan penyelidikan. Padahal aku harus menghentikan ibu sebelum dia sampai bertemu Denise. Ini satu-satunya kesempatanku menghentikannya. Lagi-lagi kita satu langkah lebih cepat.”


“Jadi, apa rencanamu? Kalau kita ke sana, Jim dan Joe akan menangkap kita.”


Farrell menggeleng. “Aku nggak tahu, tapi akan kucari cara. Yang penting, kita harus ke sana.”


 


 


Christo mengirimkan Gizmo kembali ke Remy untuk memberi tahu kedatangan mereka dan mengalihkan perhatian orang-orang dari ujung portal sihir di Eden’s Lodge. Dibandingkan beberapa portal lain yang Farrell coba belakangan, milik Eden’s Lodge lebih nyaman digunakan. Dia nyaris tak merasakan dirinya berpindah. Tekanan udaranya tak begitu kuat dibanding yang lain. Christo memang bilang kalau portal Eden’s Lodge dibuat dengan rapi. Satu lagi nilai tambah untuk Eden’s Lodge di mata para penyihir.


Christo tentunya tidak mengajak mereka masuk dari pintu depan. Christo mengajak Farrell berputar ke belakang. Ada pintu masuk lain di sana, pintu masuk untuk karyawan. Pintu ini membawa mereka ke deretan pintu gudang. Setelah melewati lorong, mereka berbelok dan menemukan dapur. Farrell mendengar suara yang dia kenali. Suara itu berasal dari lukisan. Dia lewat di sini saat kabur bersama Christo. Jadi, di dekat posisinya sekarang pasti ada pintu jebakan ke luar.


“Ssst!” Remy muncul dari balik pintu dapur.


Christo dan Farrell bergegas menuju ke sana.


“Ka— Ka— Kalian me— membuatku takut. Ka— Kalian nggak— nggak seharusnya ada di sini,” bisik Remy lagi sambil melirik ke luar lewat kaca bulat di pintu.


“Di mana Denise dan paman?” tanya Farrell.


“Di— Di depan. Ka— Kamu harus lari, Farrell. De— Denise… Di— Dia— ingin membunuhmu.”

__ADS_1


“Denise nggak akan membunuhnya. Setidaknya nggak sekarang. Dia masih membutuhkan Farrell untuk menemukan sertifikat penginapan. Aku nggak pernah menyangka kalau pak Alan menyembunyikannya dengan mantra,” sahut Christo. Dia sudah dengar cerita sertifikat dari Farrell.


“Aku penasaran. Apa mantra itu masih berlaku sekalipun aku bukan benar-benar anak ayah?” Farrell sedikit canggung saat mengeluarkan kalimat itu. “Aku nggak pernah sekalipun terbayang dimana sertifikat disembunyikan.”


“Mantra sihir seperti itu terikat pada pribadi orang. Tidak peduli apa pun hubungannya dengan si perapal mantra. Selama mantra itu tidak dipatahkan, kalian bertiga tetap terikat. Jadi, letak sertifikat tergantung pada kalian sendiri.”


“Bagaimana cara mematahkan mantranya?”


“Jangan tanya padaku. Aku buta sihir, ingat?”


“Apa itu artinya ayah seorang penyihir?”


“Banyak penyihir yang menawarkan jasa untuk hal ini itu. Semua orang bisa menggunakan sihir di sini asal mereka mau belajar. Bakat atau tidak, itu urusan lain. Kamu pun bisa belajar kalau mau. Tapi, itu jelas akan makan waktu.”


“A— Aku serius!” sahut Remy lagi. Dia menelan ludah dan melanjutkan. “De— Denise ba— bahkan ingin membunuh pamanmu.”


“Apa?” Farrell tercengang.


“A— Aku mendengarnya sendiri. Di— Di— Dia— Dia— Dia—” Remy berhenti.


“Remy, tenanglah!” pinta Christo. “Berhentilah kelagapan dan ceritakan apa yang kamu dengar. Cuma kamu yang bisa menjelaskan situasi di sana pada kami.”


Remy menelan ludah lagi dan menarik napas dalam-dalam. “Aku takut.”


“Tenanglah! Kamu sendiri yang bilang kalau mereka ada di depan. Maksudmu, mereka ada di penginapan dunia normal, bukan? Artinya, kita aman di sini. Dapur ini daerah kekuasaanmu. Semua perabotan di sini menuruti perintahmu. Jadi, tenangkan dirimu dan mulailah katakan apa yang kamu tahu.”


“Kamu benar.” Remy menghela napas dan mengangguk. Dia tak lagi gelagapan seperti sebelumnya. “Aku mendengar setelah mengantar teh ke kamar Denise semalam. Waktu itu pintunya nggak tertutup rapat, jadi aku dengar semuanya. Dia bilang pada Jim dan Joe kalau berniat membunuh semua keluarga Eden agar dia bisa menguasai penginapan sendirian. Semuanya, tanpa terkecuali.”

__ADS_1


Farrell terperanjat. “Jadi, itu alasan mereka membawa ibu ke sini. Bukan hanya untuk mengancamku tapi juga untuk menyingkirkan semua keluargaku.”


__ADS_2