
Kenapa Farrell begitu yakin semua akan baik-baik saja? Karena Christo tidak benar-benar melakukan kejahatan? Karena keluarga Eden punya nama di dunia sihir? Karena sekarang Vincent mengakuinya sebagai teman? Tidak. Farrell menyatakannya karena dia yakin keluarganya diberkati. Dia tidak butuh bukti lebih banyak lagi.
Sudah tiga bulan lebih berlalu sejak liburan Farrell dan adik-adiknya berubah jadi malapetaka. Ruberu membantu proses penyelidikan. Denise serta kedua anak buahnya dinyatakan bersalah. Barren Trow mengakui kejahatannya bersama Olivia. Mereka akan dipenjara untuk waktu yang sangat lama. Ruberu menjanjikan keringanan hukuman bila mereka mau bekerja sama membongkar sindikat kejahatan. Nampaknya ada lebih banyak hal harus diungkap para polisi Sinwillow. Emily tidak ditahan, untungnya. Tapi, dia mengundurkan diri sebagai pegawai Eden’s Lodge. Dia masih tak bisa memaafkan dirinya sendiri setelah menyerang Farrell.
Christo bebas dari segala tuduhan. Alan Eden berhasil dinyatakan tak bersalah pula. Dia keluar penjara lengkap dengan pernyataan dari kepolisian untuk membersihkan namanya. Istrinya, Natasha, pulih seperti sedia kala. Eden’s Lodge tidak berubah nama, hanya berubah wajah. Alan meminta para pekerja bangunan untuk merenovasi bagian yang telah dirusak Denise.
Saat ini mereka berada di ruang makan penginapan dunia bawah untuk sebuah perayaan kecil. Pegawai Eden’s Lodge bertambah. Setidaknya, mereka sudah lebih dari dua puluh saat ini. Sebagian besar pegawai termasuk Christo, William, Remy, serta para burung ikut berada di sana. Sisanya harus bertugas menjalankan hotel. Berbeda dengan Albert, Alan tidak suka kalau ada pos-pos yang ditinggalkan.
Selain para pegawai, mereka juga mengundang nyonya Bliss dan Vincent. Awalnya, Farrell mengundang Ruberu pula. Namun, sepertinya Ruberu jauh lebih berminat memeriksa kasus penjarahan daripada bergabung dengan mereka.
“Hari ini aku masih merasa kalau ini semua mimpi. Aku bisa keluar dari penjara, bergabung kembali bersama keluargaku, sampai membangun ulang penginapan. Kalau bukan karena putraku, Farrell Eden, aku yakin Eden’s Lodge tidak akan ada hingga hari ini. Aku sangat bangga padamu, Farrell.” Alan Eden bicara di tengah ruangan. Serta merta, tepuk tangan memenuhi ruangan tersebut.
Para tamu duduk berkelompok dalam meja kecil. Di sudut lain ruangan, sudah tersedia hidangan aneka macam termasuk Volcano Pie. Cuaca hangat dan pemandangan gunung menakjubkan terasa sangat sesuai untuk berita baik.
Alan Eden melanjutkan. “Aku di sini mengambil alih kembali posisi sebagai manager Eden’s Lodge. Akan ada beberapa perubahan juga sedikit pembaharuan sistem. Untuk menjalankannya, aku nggak akan sendirian. Christo akan membantuku. Dia akan menjadi wakil manager.” Tepuk tangan kembali menggema. “Christo, kupikir kamu bisa menyampaikan beberapa hal di sini.”
Nyonya Bliss yang duduk di samping Farrell berbisik, “Apakah nanti posisi manager akan jatuh padamu setelah kamu selesai mendapat gelar master?”
“Itu tergantung ayah.”
“Bagaimana menurutmu, mana yang lebih nyaman buatmu, dunia sihir atau dunia biasa? Mana yang membuatmu bisa berkata rumah?”
“Kupikir rumah tidak melulu soal tempat. Ada kalanya rumah itu soal siapa bukan dimana.”
“Oh, itu sangat manis, Farrell! Ngomong-ngomong, aku sungguh merasa terhormat boleh bergabung dengan pesta kalian siang ini. Lebih senang lagi karena ayahmu mau memakai produk kami. Bukan hanya mimpinya yang jadi kenyataan, mimpiku juga jadi kenyataan. Terima kasih.”
__ADS_1
“Tidak. Terima kasih, nyonya Bliss.” Farrell kemudian berpaling pada orang lain di sisi meja. Vincent duduk di seberang. Dia nampak gagah dalam balutan blazer putih serta kemeja biru. Cocok dengan ujung rambutnya yang masih diwarna biru terang. “Terima kasih juga untukmu, Vincent.”
Vincent melempar senyum. “Kupikir aku sama dengan nyonya Bliss. Aku juga senang karena sekarang kami dapat paket menginap dengan harga khusus. Terima kasih, Farrell.”
Farrell mengedarkan pandangannya ke sisi lain ruangan. Dia bisa melihat Carla, mantan perawat ibu di sana. Ibu mengajaknya bekerja di Eden’s Lodge. Dia akan lebih sering bertugas di penginapan bagian atas bersama William. Ayah berniat menghidupkan kembali lintasan ski mereka. William bisa jadi pemandu dan Carla bisa membantunya sebagai tim kesehatan.
Di meja sebelah, Milo dan Libby berebut potongan chocolate maple bar terakhir. Ibu sampai harus menghentikan mereka membuat keributan. Camilan kali ini bebas ramuan apa pun juga kelapa.
Setelah menyampaikan beberapa hal, Christo kembali ke posisinya, di samping lain Farrell. “Apa aku bicara dengan benar? Kamu tahu aku grogi setengah mati,” bisiknya sambil meremas serbet di atas meja.
Vincent mendengus geli.
Nyonya Bliss mendekatkan wajahnya. “Ucapanmu tadi sangat bagus. Kamu bicara dengan lancar dan sistematis. Apa yang membuatmu takut? Kamu bicara dengan luar biasa bahkan lebih baik dari Albert Eden.”
“Jadi, pidato di depan Alan membuatmu grogi?”
“Juga putranya.” Christo melirik Farrell. “Dan seluruh keluarganya.”
Farrell menepuk bahu Christo.
Jamuan makan siang pun dimulai. Semua tamu bebas memilih makanan mereka. Bailey dan Barney terbang ke kandang, mereka akan makan siang di sana. Gizmo agaknya lebih senang berada di sini bersama dengan majikannya, Christo. Tak lama berselang ketika mereka masih tengah makan, Gizmo menatap ke arah pintu ruang makan. Selagi Christo berusaha menebak artinya, Farrell sudah bangkit lebih dulu. Berdua, mereka mengunjungi tamu di lobby penginapan.
“Kamu seharusnya makan siang bersama kami.” Farrell mengulurkan tangan pada Ruberu.
Si polisi Sinwillow hanya menyunggingkan senyum tipis. Di belakangnya ada dua pria berbadan tegap mengenakan setelan lengan panjang kelabu. Kedua pria ini mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Lobby Eden’s Lodge nampak memukai. Bukan hanya karena luas dan tinggi, tapi juga beberapa tambahan lukisan pemandangan membuatnya terasa lebih cantik.
__ADS_1
“Sesuai janji kapan hari, aku akan menempatkan petugas di sini,” ujar Ruberu. “Mereka akan mengawasi setiap orang yang melintas pintu menuju dunia atas. Nantinya mereka akan bergiliran jaga. Detilnya akan dibicarakan divisi pengamanan dengan manager. Alan Eden kembali ke kursinya, ‘kan?”
“Ya, berkat kamu. Terima kasih.”
“Mungkin seharusnya aku yang berterima kasih. Penangkapan Barren Trow membuat dewan sihir sadar ada banyak kasus terpendam di dalam organisasi mereka.” Ruberu nampak serius namun juga senang dengan penemuan ini. “Hari ini aku hanya datang untuk menunjukkan Eden’s Lodge pada kedua petugas ini sekalian menyerahkan surat-surat. Formalitas.” Ruberu mengulurkan sebuah map coklat kertas pada Christo.
Christo mengangguk kaku. Masih tak yakin apakah dia bisa menjalankan tugasnya sebagai wakil manager dengan baik. Tinggal lama di dunia sihir tak membuatnya lantas paham seluk beluk semuanya.
“Baiklah, sampai bertemu lagi.” Ruberu berbalik bersama kedua petugasnya.
“Tunggu!” sahut Farrell. “Aku masih berhutang nyawa padamu.”
“Bukan aku yang menyelamatkanmu, Farrell. Aku bukan dokter.” Ruberu bicara tanpa berbalik.
Farrell tak berniat menanggapi penyangkalan Ruberu. “Kalau ada yang bisa kulakukan untuk membantumu, katakan saja.”
Kali ini Ruberu berhenti. Dia bergeming selama beberapa detik di tempatnya. Barulah kemudian dia berbalik menatap Farrell sambil tersenyum. “Beri tahu saja kalau ada buronan yang kabur lewat sini!”
“Tentu saja. Oh, ya! Bagaimana kalau sekali-sekali kamu ajak rekan-rekanmu liburan gratis di sini?”
“Akan kupikirkan.”
END
__ADS_1