The Way Back Home

The Way Back Home
Small Spider


__ADS_3

Remy pergi kepada paman setelah mempersiapkan semuanya. Farrell mengikutinya dari belakang sambil menjaga jarak yang jauh. Christo sudah tak bersamanya lagi. Remy melewati pintu portal dan kembali ke bagian depan Eden’s Lodge. Remy menjumpai paman di kamar besar lantai satu. Rupanya kelima orang itu ada di sana. Paman, bibi, Denise, Jim dan Joe. Jim dan Joe berjaga di depan pintu ruangan yang terbuka. Farrell memutuskan untuk berhenti dari ujung koridor.


Jim dan Joe melirik Remy saat dia mendekat namun tak melarangnya masuk. Remy sendiri tidak berani masuk. Dia berdiri di depan kamar dengan nampan di tangannya. Setelah menghela napas dalam-dalam, Remy mulai bicara. “Maaf, pak manager. Ada yang ingin bertemu dengan Anda di lobby belakang.”


Paman sedang duduk bersama bibi dan Denise. Ketiganya spontan mengernyit. Paman melambaikan tangan, “Bilang saja aku sedang sibuk!”


“Ta— Tapi dia bilang ada urusan penting.”


“Lupakan! Suruh dia pulang.”


“Dia bilang Anda akan menemuinya kalau melihat ini,” kata Remy seraya melirik pada nampan yang dibawanya.


Paman mendesah. “Kalau dia bawa emas batangan, aku baru akan menemuinya. Memang apa yang dia bawakan untukku, nak? Aku tak bisa melihatnya karena kamu ada di luar sana.”


“Da— Daun teh dan jam tangan. A— Apa saya boleh membawanya masuk?” Remy kelihatan ragu sekarang. Dia melihat ibu Farrell, Natasha, duduk di ranjang. Tatapannya mengarah pada dinding kosong dan wajahnya polos tanpa ekspresi.


“Cepat sini!” pinta paman.


Remy pun masuk ke dalam ruangan. Pelan-pelan, diturunkannya nampan tersebut ke meja. Denise tak bereaksi ketika melhat kotak teh dan jam tangan tersebut, dia malah memutar bola matanya. Paman mendesah bosan. Tapi, bibi tidak. Matanya terbelalak ketika melihat jam tangan.


“Siapa yang ingin menemui pak Albert?” tanya bibi.


“Ehm… Seorang laki-laki.”


“Apa saja yang dia bilang padamu?”


“Ti— Tidak ada. Di— Dia bilang ingin menemui pak Albert, katanya urusan bisnis. Cuma itu.”

__ADS_1


Bibi meremas tangan paman. “Kamu harus menemuinya.”


Paman menggeleng. “Aku nggak berminat—”


“Jam tangan ini!” sahut bibi. “Lihat baik-baik! Ini jam tangan yang kubelikan untuk Farrell. Dia memakainya langsung kemarin. Kamu lupa?”


Mendengar nama Farrell disebut, reaksi Denise berubah jadi serius. Paman pun melirik jam tangan dan mengamatinya dengan seksama. Memang istrinya yang membelikan hadiah itu untuk ketiga keponakannya, jadi dia tidak begitu ingat bentuknya. Tapi, dia ingat merk yang dibelikan istrinya. Itu merk favoritnya juga. “Kamu yakin?” bisik paman pada bibi.


“Sangat yakin. Aku memilih jam itu karena rantainya hitam. Waktu itu, barangnya tinggal satu. Itu pasti milik Farrell.” Bibi mengambil jam tangan dan memutar-mutarnya, memperhatikan dengan detil setiap bagian. “Aku yakin sekali.”


“Bagaimana jam tangan ini bisa ada pada laki-laki di toko teh?”


“Itu yang harus kita cari tahu!” Denise bicara sambil berdiri dari kursinya.


“Kamu ingin aku menemuinya?” tanya paman.


“Mungkin dia hanya sekedar menemukan jam tangan ini,” sahut bibi.


“Ya ampun, Melanie. Kamu harus memakai otakmu lebih baik dari itu. Jam tangan itu hanya jam tangan biasa. Untuk apa dia sampai mengembalikannya ke mari? Lagipula, darimana dia tahu kalau kalian mengenali jam tangan itu? Itu karena dia tahu siapa Farrell. Bahkan mungkin rencana kita.”


Bibi hanya bisa terkesiap.


Paman ikut berdiri sekarang. “Baiklah, kita akan menemuinya. Biar Melanie menjaga Natasha.”


“Hah!” Denise tergelak. “Memang kamu pikir bisa mengenali Farrell dalam penyamaran? Nggak, nggak. Melanie akan ikut dengan kita. Aku percaya ketajaman insting wanita.”


“Tapi—”

__ADS_1


“Tenanglah, Albert. Jim dan Joe berjaga di luar sana. Mereka bisa menumbangkan siapa pun yang mencoba mendekat ke sini dengan tangan kosong. Apalagi dengan sihir.” Denise terkekeh. Suaranya melengking tinggi seperti tawa nenek sihir. Remy bergidik ngeri.


“Dua bodyguard itu hanya bisa sihir ketika berada di bagian belakang, ‘kan?”


“Memang, karena di bagian depan partikel sihirnya lebih sedikit. Hanya yang ahli yang bisa menggunakan sihir di sini. Meski begitu, nggak ada yang bisa melawan Jim dan Joe berkelahi tangan kosong. Tubuh besar mereka bukan pajangan.”


Bibi Melanie juga berdiri. “Kalau kamu percaya dengan insting wanita, apa yang dikatakan instingmu soal ini, Denise? Karena instingku mengatakan ini berita buruk.”


“Instingku mengatakan kalau orang dari toko teh ini berusaha memeras kita. Dan aku setuju denganmu, Melanie sayang. Dia memang berita buruk. Jadi, akan kuberikan sedikit hadiah untuknya.” Denise mengambil botol kecil berisi cairan hitam dari dalam tas tangannya.


“Ramuan manekin lagi?” tebak paman.


Denise menggeleng. “Membuat ramuan manekin itu butuh waktu lama dan bahan-bahan khusus. Aku nggak bisa menggunakannya pada orang yang belum pernah kutemui. Ini adalah laba-laba.”


“Laba-laba?” Paman menyipitkan mata, berusaha memandang apa yang ada di dalam botol. Sesuatu memang sedang bergerak di dalamnya. Suatu makhluk dengan banyak kaki. Terlihat bulatan merah mungil yang mungkin adalah bagian matanya. Lalu, ada pula kilau hijau berasal dari punggungnya. “Aku nggak tahu kalau laba-laba bisa hidup dalam air.”


“Memang nggak. Air ini berfugsi untuk menjinakkannya. Laba-laba ini beracun. Racunnya bisa melumpuhkan syaraf. Tidak langsung membunuh, tapi cukup merepotkan. Racunnya akan melemahkan seseorang perlahan-lahan. Bila tidak mendapat penawar dalam waktu dua puluh empat jam, barulah dia akan mati.”


Remy tak berani bersuara. Dia menahan napasnya dengan mulut terkatup rapat-rapat. Laba-laba itu nampak mengerikan dibandingkan dengan ukurannya yang mungil. Seperti kata Farrell sebelumnya, posisi Christo memang berbahaya. Dia sedang dalam penyamaran sebagai pegawai dari Bliss.


“Bagaimana kalau ternyata memang Farrell yang ada di bawah?” Bibi mengigit bibirnya.


Denise malah tersenyum.  “Bukankah itu lebih bagus? Dia tidak akan punya pilihan selain mengikuti kemauan kita. Kalau ketiga keponakanmu sudah menemukan sertifikat itu, transaksi bisa dilakukan. Kamu akan dapat jumlah uang yang sangat besar dariku dan aku akan mendapat penginapan favoritku.”


“Ta— Tapi, setelahnya kamu akan memberikan penawarnya, ‘kan?”


Denise masih tersenyum, tapi sorot matanya sedikit berbeda. Lebih dingin dan lebih gelap. “Bukankah aku sudah bilang kalau tidak akan ada seorang pun yang mati gara-gara transaksi ini. Jangan mengkhawatirkan hal-hal tidak penting.”

__ADS_1


__ADS_2