
Farrell menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Vincent dan perjanjian mereka esok hari.
“Kamu tahu kenapa Vincent begitu mudah menuruti permintaanmu?” tanya Christo.
“Apa menurutmu itu terlalu mudah?”
“Di dunia biasa maupun dunia sihir, wajar kalau kita saling curiga. Semakin banyak penjahat dan penipu berkeliaran. Bagi para penyihir, setidaknya ada satu cara paling praktis. Membaca pikiran.”
“Tunggu! Vincent bisa membaca pikiranku?”
“Elioscavea merupakan salah satu pelanggan setia Eden’s Lodge. Mereka setidaknya datang sebulan sekali, Vincent yang paling sering. Aku nggak tahu kemampuan sihir dan meramunya, tapi dia bisa membaca pikiran. Cukup menyebalkan kalau boleh jujur. Kamu nggak akan sadar kapan dia mengintip isi otakmu,” lanjut Christo. “Aku sama sekali nggak menduga bisa bertemu dengannya di sini.”
Farrell hanya tersenyum. Sepintas, dia menangkap kesan kalau Christo kecewa karena tak terpikir sama sekali kalau Vincent bisa membantu mereka. “Apa menurutmu Vincent orang baik?”
“Dia ramah pada kami. Tapi, itu bukan jaminan. Kita baru bisa tahu subuh nanti.”
Malam itu juga, Christo membantu Farrell menyusun rencana. Dia mengirim Gizmo untuk mengecek keadaan di penginapan, di mana lokasi Libby dan Milo serta bagaimana keadaan mereka, juga rencana Denise berikutnya. Remy mengirimkan balik informasi. Dia jelas tidak tahu apa rencana Denise. Jim dan Joe masih di luar sana, Denise bersama paman menjaga kedua adiknya.
Christo menceritakan jalan masuk lain ke Eden’s Lodge. Melalui portal yang biasanya dipakai para pengunjung biasanya. Portal tersebut ada di pinggir kota dekat pos penjaga. Letaknya ada di bagian ujung gang buntu kecil. Alan Eden meminta izin walikota untuk membuat portal di sana. Walikota sangat senang karena portal menambah banyaknya pengunjung di kotanya.
Ketika subuh tiba, Vincent muncul di dekat kursi taman tempatnya bertemu Farrell kemarin. Dia sendirian, masih mengenakan coat hitam dan sarung tangan. Suhunya ketika subuh lebih rendah dibanding saat malam tiba. Apalagi angin berhembus cukup kencang kali ini.
Farrell sendiri keluar dari balik pohon. Dia tak menyangka kalau ramuan Vincent sukses menjaganya tetap hangat semalaman. Dia dan Christo memutuskan berdiam di luar kota karena Jim dan Joe bisa saja berkeliaran di sana. Bila kedua penjaga Denise menemukan mereka di kota, tamatlah mereka. Akhirnya mereka bermalam di luar sana. Itu pertama kalinya Farrell tidur beralaskan salju dan beratap langit malam. Sekarang Farrell berharap kalau ramuan tersebut tak punya efek samping sebab mereka meminumnya berulang kali.
Vincent melangkah sambil merogoh kantung, mengambil botol kecil ramuan lain.
“Ada berita bagus dan berita buruk. Mana yang mau kamu dengar lebih dulu?” Vincent membuka percakapan sambil menyerahkan botol ramuan. Isinya cairan bening persis seperti air. Hanya saja ketika terkena cahaya, ada kilau kuning di dalamnya.
“Aku benci berita buruk.”
“Seharusnya memang begitu.” Vincent melihat kedatangan Christo dari belakang Farrell. Ketika Vincent melemparkan senyum, Christo membalasnya dengan anggukan pelan. “Tapi dengan bantuannya, seharusnya lebih mudah bagimu kembali ke penginapan secepatnya.”
“Ramuan itu mulai permanen?” tebak Farrell.
__ADS_1
“Lebih buruk. Adikmu sakit dan kupikir demamnya cukup tinggi.”
“Milo?”
Vincent mengangguk. “Pamanmu seolah tak peduli padanya. Dia terus minta kedua adikmu berkeliling mencari sesuatu. Pagi ini, mereka berencana kemari untuk melanjutkan pencariannya di sini.”
“Paman memang tidak sebaik yang kukira, ya?” Farrell hanya bisa menunduk. Tangannya menggenggam erat ramuan penawar. Lalu, dia menatap Christo. “Mungkin aku sudah kalah satu langkah. Tapi nggak akan kubiarkan paman berbuat seenaknya. Apa menurutmu kita bisa menyergap mereka di sini?”
“Apa maksudmu dengan menyergap?” Christo akhirnya ikut bicara.
“Dia berpikir menarik Milo dan Libby dari pamannya, memberi mereka ramuan penawar, lalu lari.” Vincent membantu memberikan penjelasan singkat.
Christo pun melipat kedua tangannya. “Aku yakin kamu baru saja membaca pikiran Farrell, eh?”
Vincent hanya tersenyum. “Cukup berguna, ‘kan?”
Christo menatap Farrell. “Kamu tahu aku payah soal sihir. Aku nggak bisa melawan Denise apalagi kalau ada Jim dan Joe bersamanya. Tapi, aku bisa mengalihkan perhatiannya kalau kamu mau. Selama itu, kamu bisa menarik mereka pergi.”
“Kamu memberikan semua ini padaku?”
Vincent mengangguk. “Ya dan aku juga akan membantumu mengalihkan perhatian.”
“Itu bahaya! Kalau Denise tahu kamu membantuku, dia juga bisa menyerangmu.”
Kali ini Vincent menggeleng. “Nggak perlu khawatir soal itu. Dia nggak akan berani karena dia tahu siapa aku. Lagipula, sejak awal tujuanku adalah bertemu pamanmu. Aku bisa mengalihkan perhatian pamanmu — dan bibimu, kalau dia ikut — lalu kamu bisa menyelamatkan saudaramu. Kupikir ini kedengaran seperti rencana.”
“Itu rencana bagus.”
“Mereka berencana kemari setelah sarapan. Kurasa pukul enam lebih, mereka akan sampai.”
“Tidak. Sarapan baru disiapkan pukul setengah tujuh,” sahut Christo.
“Coba tebak, Albert Eden memajukan jam sarapan untuk keluarganya. Kurasa lebih baik sekarang kita bersiap di dekat portal, berjaga-jaga,” kata Vincent lagi sambil melirik jam tangannya. “Dan kupikir, seharusnya aku pergi duluan. Semoga beruntung.”
__ADS_1
“Terima kasih.”
Vincent menyunggingkan senyum dan kembali ke kota.
Tinggallah Farrell dan Christo berdua. Christo menggelengkan kepalanya, heran. “Aku nggak pernah berpikir kalau kamu bisa minta bantuannya.”
“Memang keluarga Elioscavea itu keluarga yang seperti apa?”
“Mereka keluarga peramu. Banyak yang seperti itu di dunia sihir. Tapi, keluarga Elioscavea merupakan keluarga peramu tertua dan terkuat. Mereka memperkerjakan banyak pegawai, mulai dari peramu kelas bawah sampai bodyguard kelas atas. Berani menyentuh anggota keluarganya dan pasti akan ada perang.”
Farrell mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
“Biar kutebak, kamu sama sekali nggak menyangka seperti apa Vincent itu.”
Farrell menggeleng. “Sama sepertimu yang buta soal sihir, aku buta sama sekali soal penyihir. Ada info lain yang harus kuketahui?”
“William?”
“Kenapa dengannya?”
“Dia bisa sedikit sihir dan sangat suka bercanda. Terkadang bercandanya kelewatan. Dia pernah sekali waktu berubah jadi pamanmu dan masuk ke kamar saat bibimu baru keluar dari kamar mandi. Untung saja bibimu nggak tahu kalau yang masuk sebenarnya William. Itu rahasianya yang terkelam selama bekerja di sini.”
“Itu alasan William patuh padamu?”
“Patuh? Dia hanya menghormatiku karena aku lebih senior darinya.”
“Apa dia menghormatimu sampai sekarang?”
“Tentu saja. Bukannya sombong, tapi kurasa dia lebih menghormatiku daripada pamanmu.”
“Dia bisa membantu kita, ‘kan?”
Christo terdiam sejenak. Ketika tatapannya bertemu Farrell, kini dia seolah bisa membaca pikirannya juga. “Kamu mau menyuruhnya berubah jadi siapa?”
__ADS_1