
Sesampainya di kampus, benar saja, ternyata Alvaro sudah banyak yang antri kaya’ antri sembako
“Hadih mas, kamu masih tidak sadar juga?!” gumam Diandra saat masuk ke dalam kelas
“Hai.. Baru sampai?” tanya Silvia
“Iya. O ya, aku boleh tanya tidak?” ucap Diandra
“Boleh, mau tanya apa?” ucap Silvia
“Apa setiap ada kelas mas Alvaro, kelasnya selalu ramai dengan cewe’-cewe’ begini?” tanyaku
“Iya. Memang kenapa?” tanya Silvia ganti
“Ya tidak kenapa-kenapa sih. Cuma kamu tidak merasa banyak saingan gitu?!” tanya Diandra
“Ya kadang-kadang sih. Cuma mau gimana lagi. Harus mengerti keadaan donk. Jangan cemburu buta. Toh, mereka semua kan hanya sekedar suka. Bukan cinta.” Jelas Silvia
“Hmm... Iya.. Iya..” ucapku
Eh tak selang berapa lama kemudian, Alvaro pun masuk
“Pagi semuanya..” sapa Alvaro
“Pagi, pak.” Sahut semangat mahasiswi satu ruangan
“Nah, sebelum kita memulai pelajarannya, apa ada diantara kalian ada yang ingin bertanya tentang pelajaran yang lalu?” ucap Alvaro
“Pak..!! Saya mau tanya.” Ucap salah satu mahasiswa
“Iya, silahkan. Mau tanya apa?” ucap Alvaro
“Saya mau tanya, bapak sudah punya pacar?” tanya mahasiswa itu
“Hu...” Spontan satu ruangan menjadi berisik
__ADS_1
“Sudah.. Sudah.. Tenang semuanya.” Ucap Alvaro
“Kamu kenapa tanya masalah ini?” tanya Alvaro
“Karena saya ingin tahu. Dan karena saya suka sama bapak.” Ucap mahasiswi itu
“Hu...” spontan ruangan pun menjadi berisik lagi
“Hehehe... Rasain lho. Di bilangin tidak percaya sih. Akhirnya ada yang nembak kan?!” gumam Diandra
“An, gimana nih? Yayang beb lagi ditembak.” Ucap Silvia panik
“Sudah kamu tenang saja. Mana mungkin kakakku mau terima perempuan kaya gitu.” Ucap Diandra lirih
“Masa sih?” ucap Silvia tidak percaya
“Sudah kamu perhatikan saja. Kapan lagi ada tontonan menarik kaya begini.” Celetuk Diandra
Disisi lain..
“Oh jadi begitu. Begini ya. Maaf... Maaf banget. Tapi saya tidak bisa terima perasaan kamu itu.” Sahut Alvaro
“Hmm.. Iya. Saya sudah punya calon. Jadi tidak mungkin buat saya menerima perempuan lain.” Ucap Alvaro yang ternyata dari kecil sudah menyukai anak dari Nara dan Gilang namun dia tidak sadar kalau gadis yang dia cintai ini ternyata ada begitu dekat dengannya
“Jadi bapak tolak saya?” tanya mahasiswi itu lagi
“Maaf.” Sahut Alvaro
“Huh... Sukurin lho. Tidak tahu malu banget sih kamu. Berani-beraninya tembak pak Alvaro.” Ucap mahasiswi yang lainnya
“Sudah.. Sudah.. Jangan ribut. Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, kita lanjutkan pelajarannya.” Ucap Alvaro
Sementara itu, terlihat jelas awan mendung di raut wajah Silvia
“Sil, kamu tidak kenapa-kenapa?” tanya Diandra
__ADS_1
“Aku ingin nangis, An.” Ucap Silvia
“Kamu jangan menangis di sini. Gini.. Kamu tenangin dulu ya hati kamu itu. Aku nanti yang bakalan cari tahu deh tentang kebenaran dari jawaban kakakku barusan.” Ucap Diandra.
“Beneran kamu mau bantuin aku?” tanya Silvia
“Iya, Sil. Aku bakal bantu kamu buat pastikan hal ini. Oleh karena itu, kamu jangan sedih lagi ya.” Ucap Diandra
“Iya, An. Makasih.” Ucap Silvia
“Sama-sama.” Sahut Diandra sambil tersenyum dan mereka pun akhirnya melanjutkan pelajaran dengan tenang
Tak terasa jam kuliahnya Alvaro pun selesai dan Diandra pun bersiap-siap untuk pulang.
“An, kamu jangan lupa ya buat pastikan ke kakakmu.” Ucap Silvia mengingatkan
“Iya. Kamu tenang saja. Aku pasti bakalan cari tahu kok.” Ucap Diandra
“Ya sudah kalau begitu, aku balik duluan ya.” Ucap Silvia
“Kamu tidak mau bareng?” tanya Diandra
“Tidaklah, An. Aku balik sendirian saja. Masalahnya aku buru-buru. Ibuku mau mengajak aku kerumah temannya.” Ucap Silvia
“Oh ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan ya.” Ucap Diandra dan Silvia pun mengangguk
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like dan coment nya ya...🙏