
Keesokan harinya Azka tidak ada jam mengajar. Jadi dia memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana.
“Az, kamu tidak ada acara keluar?” tanya ayahnya, pak Rudi yang tiba-tiba duduk di samping Azka
“Tidak, ayah.” Sahut Azka
“Baiklah kalau begitu.” Ucap ayahnya, pak Rudi
“Tapi... Eit... Tunggu dulu. Dari tadi ayah perhatikan kamu itu seperti sedang ada yang dipikirkan.” Ucap ayah
“Hmm... Iya ayah. Aku sedang ada masalah dengan Diandra.” Jelas Azka
“Masalah? Ayah boleh tahu tidak, kamu sedang ada masalah apa?” tanya Ayah
“Aku sudah menambah masalah jadi jauh lebih kacau.” Ucap Azka
“Maksudnya apa, Az?” tanya Ayah
“Awalnya sebelum ini, aku sudah membuat Diandra marah sekali padaku, yah. Susah payah aku ingin mendapatkan sebuah kata maaf darinya. Tapi ketika maaf itu sudah hampir aku dapatkan, terjadi kesalahpahaman, yah. Antara aku dan Diandra. Dan keadaan sekarang bukannya bertambah baik, tapi malah bertambah runyam. Sekarang aku bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Diandra.” Ucap Azka putus asa
“Oh begitu. Ternyata, Diandra itu mirip sekali seperti Ai, ibunya, saat itu.” Ucap ayah
“Memang tante dan om pernah salah paham seperti itu, yah?” tanya Azka
“Iya. Saat itu tante Ai dalam keadaan hamil anak pertama. Karena salah paham akibat mendengarkan obrolan ayah dan om, membuat tante Ai lari dan akhirnya tertabrak mobil. Akibat dari kecelakaan itu, kehamilan tante Ai mengalami keguguran dan dia juga mengalami hilang ingatan.” Ucap Ayah
“Sampai begitu parahnya, yah? Terus om bagaimana?” tanya Azka
“Om terus bersabar menghadapi sikap tante Ai yang labil dan emosi serta melupakan om.” Jelas ayah
“Tapi pada akhirnya, om dimaafkan kan oleh tante?” tanya Azka
“Iya. Pada akhirnya tante Ai memaafkan om.” Ucap ayah
__ADS_1
“Beruntungnya om dapat maaf dari tante.” Ucap Azka
“Oleh karena itu, kamu juga harus berusaha untuk bisa mendapatkan maaf dari Diandra.” Ucap Ayah
“Tapi susah ayah.” Ucap Azka
“Az, Diandra itu anaknya tante Ai. Tentu kepribadian mereka pasti ada kemiripan. Kamu harus yakin kalau kamu bisa.” Ucap ayah
“Tapi bagaimana caranya yah?” tanya Azka
“Cobalah minta bantuan kakaknya, Alvaro. Dia pasti sedikit banyak tahu tentang kepribadian adiknya.” Ucap Ayah
“Benar juga ya, yah. Kenapa aku tidak minta bantuan Alvaro?” ucap Azka
“Ya sudah, sekarang kamu temui Alvaro dan minta bantuan padanya.” Ucap Ayah.
“Baik, yah. Aku akan hubungi Alvaro untuk janjian ketemu dengannya.” Ucap Azka
“Ya sudah sana buruan. Biar cepat bisa ketemu solusinya.” Ucap ayah dan Azka pun mengangguk
“Hallo, Al.” Ucap Azka saat telpon diangkat
“Iya. Ada apa, Az?” tanya Alvaro
“Al, kita bisa ketemuan tidak?” tanya Azka
“Ketemuan? Bisa. Dimana?” tanya Alvaro
“Kita ketemuan Di kafe depan kampus saja gimana?” tanya Azka
“Ok. Kebetulan aku sekarang juga sedang ada di kampus.” Sahut Alvaro
“Ya sudah kalau begitu aku berangkat sekarang.” Ucap Azka
__ADS_1
“Iya. Aku tunggu.” Sahut Alvaro
“Hmm...” ucapku singkat dan kemudian menutup telepon
“Ayah, tolong bilang ke bunda, aku pergi dulu.” Pamit Azka
“Iya. Hati-hati di jalan.” Ucap Ayah
“Iya, ayah.” Sahut Azka
Tak berapa lama kemudian, Azka pun langsung mengendarai mobilnya menuju cafe depan kampus
“Al, sudah lama menunggunya?” tanya Azka begitu sampai dan bertemu dengan Alvaro
“Lumayan. Ada apa, Az?” tanya Alvaro
“Aku mau minta bantuan sama kamu, Al.” Ucap Azka
“Minta bantuan? Masalah apa ya?” tanya Alvaro bingung
“Masalah Diandra.” Sahut Azka
“Oh jadi masalah Diandra?!” ucap Alvaro yang rupanya udah bisa menebak akan jadi seperti ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan Comentnya ya...🙏