
Keesokan harinya, seperti perintahnya, aku menyerahkan tugas yang kemarin dia kasih ke aku.
“Nih.” Ucap Diandra sambil menyodorkan selembar kertas lalu pergi
“Eh, tunggu dulu. Siapa bilang kamu boleh pergi?” ucap Azka
“Ada apa lagi?” tanya Diandra balik
“Hari ini aku kasih kamu tugas khusus.” Ucap Azka
“Tugas khusus? Maksudnya?” tanya Diandra bingung
“Kamu gantikan aku mengajar di kelas sekarang. Dan materi yang harus kamu ajarkan adalah materi yang kemarin aku suruh kamu belajar. Setelah itu, sebelum kelas selesai, kamu harus berikan soal ini ke mereka.” Jelas Azka
“Lha kok aku sih yang mengajar?! Lagipula sekarang aku ada kelasnya bu Yulia. Terus Bapak sendiri ngapain?” protes Diandra
“Untuk kuliahmu, sudah aku wakilkan meminta ijin. Dan perkara aku ngapain?! Aku ada urusan hari ini. Jadi tidak bisa mengajar.” Jelas Azka
“Tapi...” ucapan Diandra dipotong oleh Azka
“Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya kamu yang harus mengajar hari ini.” Ucap Azka tegas
“Ya sudah kalau begitu. Aku yang akan mengajar hari ini.” Ucap Diandra pasrah
Setelah mengatakan hal itu, Diandra pun pergi dengan membawa buku yang biasa Azka bawa.
“Masih sama seperti dulu. Selalu saja seenaknya saja kalau buat keputusan.” Gerutu Diandra saat berjalan menuju kelas
Akhirnya, dengan sangat berusaha, Diandra pun menyelasaikan tugas khususnya saat itu. Namun itu bukanlah satu-satunya tugas Khusus untuk Diandra. Ternyata masih ada tugas yang lainnya yang sudah di siapkan oleh Azka untuk Diandra
__ADS_1
“Apa? Masih ada tugas yang lainnya lagi?” ucap Diandra terkejut saat dia menyerahkan tugas yang pertama pada Azka
“Yup betul itu.” Sahut Azka
“Ampun deh. Kali ini tugas apa lagi?” tanya Diandra menahan emosi
“Kamu sekarang ikut aku.” Ucap Azka
“Kemana?” tanya Diandra bingung
“Sudah, kamu ikut saja.” Ucap Azka lalu Diandra pun mengikutinya
“Kenapa harus naik mobil?” tanya Diandra
“Sudah, naik saja napa?!” ucap Azka dan Diandra pun akhirnya naik
Mobil pun mulai dijalankan. Tapi Diandra merasa kalau jalanan yang dilalui itu seperti jalanan menuju kampusnya yang dulu.
“Nanti kamu sendiri juga bakalan tahu.” Ucap Azka sambil tersenyum
“Dasar aneh.” Gerutu Diandra dan Azka pun bisa mendengarnya
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di kampus mereka yang lama. Dan mereka pun turun dari mobil.
“Terus kita mau ngapain sekarang?” tanya Diandra
“Kita akan mengulangi hukuman yang waktu itu.” Sahut Azka
“Kamu gila ya, Az?” ucap Diandra
__ADS_1
“Aku tidak mau. Sudah cukup buat aku merasakan penderitaan seperti waktu itu.” Ucap Diandra yang hendak kabur karena teringat kejadian waktu itu.
“Kamu mau kemana, An?” tanya Azka sambil memegang tangan Diandra
“Aku tidak mau ada di sini, Az.” Ucap Diandra sambil menahan tangis
“Aku mohon, Az. Untuk kali ini saja. Tolong biarkan aku pergi dari sini.” Ucap Diandra lagi memohon
“An.. An... Dengerkan aku, tujuan aku bawa kamu ke sini itu agar menyaksikan aku terima hukumanku waktu dulu. Bukannya suruh kamu yang mengerjakannya lagi.” Jelas Azka
“Tetap saja, Az. Aku tidak sanggup lihat tempat ini lagi. Aku trauma, Az. Tolong Az, bawa aku pergi dari sini.” Ucap Diandra
“Ya sudah... Ya sudah.. Ayo sekarang kita pulang.” Ucap Azka sambil merangkul erat pundak Diandra
.
.
.
.
.
Bersambung...
Kira-kira apa ya yang terjadi dengan Diandra? Sampai-sampai dia segitu traumanya.
Tunggu kelanjutannya di next...
__ADS_1
Jangan lupa like dan comentnya ya...🙏