
“Bunda, dimana Diandra?” tanya Alvaro
“Dia lagi sama Azka tuh di kamar.” Sahut bunda Ai
“O ya sudah deh, bun. Aku ke kamar Diandra dulu.” Ucap Alvaro dan bunda Ai pun mengangguk
Sesampainya di kamar Diandra, Alvaro sangat sangatlah terkejut. Betapa tidak terkejutnya Alvaro, ternyata si Azka masih saja menggunakan metode hukuman yang dulu sempat dia pakai. Ya.. Hukumannya adalah mengerjakan soal, bukan hanya 10 tapi 100 soal.
“Mas, tolong bantu aku mengisi semua soal-soal ini. Azka jahat tuh mas.😭” Rengek Diandra
“Emang kamu ngapain lagi sampai tunanganmu ini begitu tega sama kamu?” tanya Avaro bingung
“Bolos. Ya tadi dia bolos pelajaranku.” Sahut Azka
“Woi.. Siapa yang bolos sih?! Tadi kan aku sudah bilang kalau mau pulang duluan ke kamu.” Sanggah Diandra
“Bilang dari mananya sih? Kamu kan main nyelonong pergi begitu saja waktu aku tegor kamu malas-malasan di kelas.” Protes Azka
“Gimana aku tidak nyelonong?! Lha kamu tegor akunya pakai acara lempar pulpen di kepalaku. Memangnya tidak sakit apa?” ucap Diandra sewot
Alvaro yang melihat pertengkaran mereka ini, hanya bisa geleng-geleng kepala heran.
__ADS_1
“Sudah.. Sudah.. Memang yang belum ke isi masih banyak, An?” tanya Alvaro
“Iya mas. Lumayan. Masih 70 soal lagi.” Sahut Diandra
“Sudah.. Sudah.. Begini saja, Az, kamu hari ini kasih pengecualian ya buat adikku ini. Masalahnya aku mau minta tolong sama kalian berdua.” Ucap Alvaro. Otomatis Diandra dan Azka saling pandang satu sama lain karena bingung dengan ucapan Alvaro
“Minta tolong ke kami? Memangnya kamu mau minta tolong apa, Al?” tanya Azka
“Aku berencana mau melamar Silvia. Tapi aku bingung mau kasih tahu keluarganya kaya gimana?!” Ucap Alvaro
“Ya ampun mas, bukannya urusan memberi tahu keluarga sana itu kan harusnya ayah dan bunda. Secara mereka kan sahabat.” Ucap Diandra
“Iya benar itu, Al. Kaya waktu aku dulu ke Diandra. Orang tua kan yang sudah mengatur semuanya. Justru yang ada waktu itu kami malah tidak tahu. Iya kan, An?!” ucap Azka dan Diandra pun mengangguk mengiyakan
“Ya mas.. Kalau begitu sih lain ceritanya. Terus mas minta bantuan kita, kita harus ngapain?” tanya Diandra
“Hari ini, aku rencana mau mengajak Silvia ketemu di luar. Kalian tapi ya yang jemput dia ke rumahnya.” Pinta Alvaro
“Oh begitu. Terus mas sendiri mau ngapain?” tanya Diandra
“Aku mau langsung ketemu sama orang tuanya buat bilang kalau besok aku akan melamar Silvia. Tapi kalian jangan kasih tahu Silvianya ya. Setelah urusanku selesai, aku akan menyusul kalian bertiga.” Ucap Alvaro
__ADS_1
“Oh, intinya, besok itu mas ingin kasih kejutan ya buat Silvia?!” ucap Diandra
“Yup, benar sekali.” Sahut Alvaro
“Gimana, Az?” tanya Diandra
“Ya sudah, kita bantu kakakmu ini. Tapi ingat ya, Al. Aku pokoknya tidak mau tahu. Hukuman adikmu ini masih akan tetap berlanjut dan semua soal ini harus di serahkan ke aku besok lusanya. Bagaimana? Setuju tidak?!” Ucap Azka
“Ya kamu, Az. Kamu itu calon suamiku bukan sih? Jahat banget.” Protes Diandra
“Beneran nih kamu menganggapku jahat. Ya sudah, aku pulang sekarang. Aku malas kasih kamu coklat ini buat kamu.” Ucap Azka sambil menunjukkan 3 batang coklat.
“Aaah... Az, iya iya deh. Besok lusa aku serahkan semua tugas ini. Tapi mana coklatnya?” ucap Diandra minta coklatnya
“Ini. Tapi aku kasih 1 dulu ya. Sisanya kalau kamu sudah selesai kerjakan semua soal itu.” Ucap Azka
“Hmm... Ya sudah deh.” Sahut Diandra pasrah dan Alvaro hanya geleng-geleng...
“Gimana nih jadinya?! Kalian berdua mau tidak tolongin aku?” tanya Alvaro
“Ok deh. Ayo atuh. Keburu kesorean.” Ajak Azka dan Alvaro serta Diandra pun mengangguk
__ADS_1
Lanjut...👇