
Di sisi lain, pak Chandra melihat ke arah teman lamanya itu dan mendekatinya
“Rud, kamu kenapa?” Tanya pak Chandra sambil berjongkok di depan temannya itu dan masih menahan tawanya
“Hantu.. Hantu... Jangan dekati aku. Pergi sana. Aku belum ingin mati.” Ucap pak Rudi yang masih ketakutan dan bersembunyi di kolong meja
“Bwahahahaha....” seketika tawa pak Chandra lepas
“Rudi.. Rudi.. Sudah tua juga masih saja konyol. Hai Rud, sadar. Lihat aku baik-baik. Memang temanmu ini mirip hantu apa?” ucap pak Chandra
Akhirnya, untuk beberapa saat pak Rudi pun terdiam dan memperhatikan dengan seksama orang yang ada di hadapannya itu.
Kemudian...
“Jadi beneran ini kamu, Chan?” tanya pak Rudi memastikannya lagi
“Ya iyalah, Rud. Ini aku. Mana ada hantu tampan kaya’ begini.” Ucap pak Chandra narsis
“Jadi ini beneran kamu, Chan?! Oh Chandra, aku kangen sama kamu..” ucapan pak Rudi terpotong karena tiba-tiba
“Brak...” Kepala pak Rudi kepentok meja
“Aw.. aduh sakit.” Celetuk pak Rudi sambil memegang kepalanya
Sontak membuat semua yang ada di ruangan itu menjadi tertawa lepas.
__ADS_1
Ketika pak Rudi sudah berada di luar, akhirnya mereka tersadar dengan keberadaan seseoarang yang mereka kenal
“Lutfi..?!” seru pak Rudi
“Hai Rud, pa kabar?” sapa pak Lutfi
“Baik. Kamu kemana saja selama ini? Lama tidak ketemu.” Ucap pak Rudi
“Panjang ceritanya Rud. Kapan-kapan saja aku ceritainnya ya.” Ucap pak Lutfi
Akhirnya mereka semua pun berkumpul di ruang tamu
“Oh ya, kenalkan ini istriku, Suci. Dia selama ini yang selalu menemaniku di saat aku sedang terpuruk karena meninggalnya Almarhumah Tika.” Ucap pak Lutfi
(Tika adalah istri pertama pak Lutfi pada Aku dicintai oleh guruku 2, red)
Setelah perkenalan itu, akhirnya pak Chandra pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya
“Jadi begini.. Saat itu aku dan Ai sedang berada di daerah yang terbilang cukup sepilah. Ketika kami sedang menikmati perjalanan, tiba-tiba kami di hadang oleh 2 orang. Mereka bilang ingin sekali menumpang sampai kota dan kebetulan sekali kami juga mau ke sana. Jadi kami pun mengajak mereka. Lalu di tengah perjalanan, tiba-tiba kami disuruh turun dengan paksa. Kalau kami tidak turun, maka nyawa kamilah yang tidak akan selamat. Akhirnya, mau tidak mau kami pun turun dengan tidak membawa barang apa-apa. Syukur-syukur kami sempat membawa dompet. Dan ketika kami tidak tahu jalan untuk kembali, akhirnya tanpa sengaja, Lutfi dan istrinya pun lewat. Akhirnya kami pun ikut mereka dan menginap di rumah mereka sekaligus untuk melepas rasa rindu kami.” Jelas pak Chandra panjang lebar.
“Jadi intinya, ke dua jenazah yang waktu itu kita temukan itu adalah pencurinya ya?!” ucap pak Rudi.
“Yup betul.” Sahut pak Chandra
“Lalu ayah tahu tidak kalau mobil yang ayah pakai waktu itu hangus terbakar?” tanya Alvaro.
__ADS_1
“Aku tahu kok.” Sahut pak Chandra santai
“Kok bisa tahu, pak?” tanya Gilang, sementara para perempuan yang ada disana hanya mendengarkan dan menyimak
“Ya bisalah. Kejadian itukan sempat masuk dalam berita di TV dan kebetulan aku lihat. Jadinya tahu deh.” Jelas pak Chandra
“Kalau bapak sudah tahu, kenapa bapak tidak langsung pulang saja?” tanya Gilang
“Inginnya sih begitu. Tapi tidak semudah itu. Aku dan juga Ai memutuskan untuk bertanya lebih detail pada polisi tentang kronologis kejadian. Setelah kami tahu, kami pun akhirnya ingin melakukan tes DNA. Namun susah. Akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang dan mengambil beberapa benda dari rumah untuk di cek kesamaannya.” Jelas pak Chandra
(Maaf, jika dalam penjelasan di atas menemukan ada kekurangan atau kesalahan. Soalnya authornya bukanlah orang dalam bidang tersebut.)
“Oh jadi begitu ya.” Ucap pak Rudi yang akhirnya mengerti
“Tapi syukurlah kalau kalian tidak apa-apa.” Tambah pak Rudi dan pak Chandra pun tersenyum..
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ya...😙