Their Love Story

Their Love Story
saling menguatkan


__ADS_3

Di sore harinya, jenazah yang dianggap pak Chandra dan Ai pun tiba di rumah duka.


Di sana terlihat Alvaro dan juga Diandra tampak tabah menghadapi ini semua. Namun ini berbeda dengan pak Rudi dan juga Nara. Karena merekalah orang yang tahu percis lika-liku perjalanan cinta pak Chandra dan juga Ai


“Ai, kamu kenapa tinggalkan aku duluan sih?! Katanya kita sahabat. Kenapa kamu tega?! Aku tidak ikhlas, Ai. Aku tidak ikhlas.” Gerutu Nara dan ini di dengar oleh Gilang, suaminya


“Sudah, Nar. Aku mengerti gimana perasaanmu sekarang ini. Tapi, disaat seperti ini bukankah kita harus saling menguatkan?!” ucap Gilang


“Tapi Lang, ini Ai. Aku benar-benar sangat kehilangan dia sekali.” Ucap Nara


“Iya sayang, aku tahu. Kamu sabar dan tenang ya. Tidak enak sama Alvaro dan juga Diandra.” Ucap Gilang sambil mengelus kepala istrinya dan Nara pun mengangguk


Di saat yang bersamaan pak Rudi pun tidak bisa menutupi rasa kehilangannya. Dia terus menerus menyeka air matanya yang mengalir tanpa henti


“Ayah, sudah yah. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Tidak baik. Kita harus ikhlas kalau kita memang sayang pada mereka berdua.” Bujuk bunda Alya


“Tapi Al, kamu kan tahu sendiri gimana dekatnya aku dengan mereka berdua.” Ucap pak Rudi lirih


“Iya aku tahu. Tapi kita harus kuat. Kita harus tabah dan juga kita harus sabar. Lagipula, kalau ayah begini, kan tidak enak di lihat oleh Alvaro dan Diandra.” Ucap bunda Alya


“Iya, bun. Aku akan coba.” Sahut pak Rudi


“Nah gitu donk.” Ucap bunda Alya

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Silvia menggenggam erat tangan Alvaro dan Azka pun menggenggam erat tangan Diandra


Mereka terlihat sangat kompak dan juga saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.


Karena waktu sudah larut malam, akhirnya diputuskan bahwa ke dua jenazah akan di kebumikan keesokan harinya


***


Saat esok hari pun tiba. Sesuai dengan rencana, akhirnya saat pemakaman pun tiba. Kedua tandu jenazah di gotong ke tempat peristirahatan terakhir mereka


Saat kedua jenazah di masukkan ke dalam liang lahat, terdengar suara isak tangis dari Nara dan juga pak Rudi.


“Mas, sampai saat ini dan detik ini, aku masih mempercayai ucapan mas.” Ucap Diadra lirih ketika kedua jenazah sudah selesai di makamkan


“Iya, An. Makasih.” Sahut Alvaro singkat


***


Sesampainya di rumah, mereka pun terduduk lemas. Sementara Diandra dan Alvaro berada di kamarnya mereka sendiri.


“Sungguh sepi rumah ini tanpa kehadiran mereka berdua.” Ucap pak Rudi


“Iya, pak. Aku juga merasa ada yang kurang.” Sahut Nara

__ADS_1


“Kalian ini ya. Jangan bicara seperti itu lagi. Tidak enak kalau sampai kedengaran oleh Alvaro dan juga Diandra.” Ucap Bunda Alya


“Apa kalian tidak kasihan sama mereka berdua?!” sambung bunda Alya


Mendengar ucapan bunda Alya, akhirnya Pak Rudi dan juga Nara diam dan tidak meneruskan ucapan mereka


Beberapa saat kemudian, Alvaro keluar dan menemui semuanya


“Om, tente, Azka, dan Silvia, terimakasih kalian sudah mau menemani kami. Kami senang kalian ada di sini. Adanya kalian bersama kami, membuat kami merasa tidak sendirian. Terimakasih.” Ucap Alvaro


“Iya, Al. Sama-sama. Memang sudah seharusnya kami berada di sini menemani kalian.” Ucap bunda Alya.


“Terimakasih, tante.” Ucap Alvaro


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan komentarnya ya...🙏


__ADS_2