
“Mas, gimana nih? Aku harus gimana sekarang?” ucap Diandra yang berharap bantuan dari Alvaro
“Kamu beneran mau tahu dan dengar saran dari mas?” tanya Alvaro memastikan
“Iya mas. Mas.. Aku harus gimana?” tanya Diandra panik
“Ya sudah, sekarang kamu temui Azka dan jelaskan ke dia tentang yang sebenarnya.” Ucap Alvaro
“Tapi mas, dia bisa besar kepala nanti kalau aku datangi dia.” Ucap Diandra
“Kamu pentingin gengsi ato pilih ayah marah sama kamu?” tanya Alvaro memberi pilihan
“Hadeuh.... Gimana ya mas?! Dua-dua nya tidak enak.” Ucap Diandra
“Itu terserah kamu. Tadi kan kamu minta saran dari mas. Sekarang sudah mas kasih saran. untuk urusan kamu pakai atau tidak, saran mas itu, itu semua kembali sama kamunya sendiri.” Ucap Alvaro
“Hik.. Hik.. Hik.. Aku bingung.” Gerutu Diandra, sementara Alvaro dan juga Silvia saling lihat
“An, bukan aku mau ikut campur, tapi menurutku, lebih baik kamu datangi pak Azka dan bicara baik-baik. Demi supaya ayahmu tidak marah, An.” Ucap Silvia
“Oh begitu ya?!” sahut Diandra yang kemudian diam sejenak
“An?? Kamu kenapa?” tanya Silvia
“Sebentar.. Aku lagi mengumpulkan keberanian” ucap Diandra
“Ya ela nih anak. Benar-benar deh. Terserah kamu sajalah. Yuk, yang..” ucap Alvaro dan silvia pun mengikuti Alvaro
“Ya.. Ya.. Aku kok ditinggal sih?” gerutu Diandra sambil melihat ke arah Alvaro dan juga Silvia yang menjauh
__ADS_1
“Ya sudahlah kalau begitu. Yang seharusnya dihadapi, memang harus dihadapi.” Gumamnya lirih sambil berjalan ke ruang dosen
Setelah berjalan agak malas, Diandra pun sampai juga di ruang dosen dan dia pun langsung mencari Azka
“Permisi pak.” Ucapnya mencoba memulai pembicaraan
“Oh.. Ada apa?” tanya Azka dingin walau sebenarnya dia senang sekali karena Diandra datang
“Anu... Itu.. Hmm... Begini... Aku mau jelaskan kenapa lembar jawabanku tadi kosong.” Jelas Diandra ragu
“Oh, memang ada ya penjelasan untuk masalah itu?” ucap Azka datar walau sebenarnya dalam hatinya juga penasaran kenapa sampai Diandra mengosongkan lembar jawabannya.
“Ih.. Ni cowo benar-benar deh. Kalau bukan karena takut dimarahi ayah, aku malas banget deh merendahkan harga diri kaya’ gini.” Gerutu Diandra dalam hati
“An? Kamu dengar tidak? Memang ada ya penjelasan untuk masalah itu?” ucap Azka mengulangi pertanyaannya
“Maksudnya?” tanya Azka
“Maksudnya, aku memang benar-benar tidak tahu harus isi apa?!” jelas Diandra
“Apa? Bukankah pelajaran ini pernah kita dapetkan waktu S1 dulu, An?” ucap Azka terkejut sehingga suaranya agak tinggi dan ini bisa di dengar oleh dosen yang lainnya
“Waduh pak, ternyata mahasiswa bapak itu teman S1 bapak dulu ya?!” goda Nilam, salah satu dosen di kampus itu juga dan juga yang ternyata diam-diam menyukai Azka
“Eh.. Iya.” Sahut Azka agak sedikit salah tingkah dan juga merasa bersalah pada Diandra
“Mampus deh aku. Jangan-jangan Diandra tambah marah sama aku.” Gumam Azka dalam hati
Dan disaat yang bersamaan...
__ADS_1
“Ni cowo, benar-benar ya. Tidak peka banget sih?!” gerutu Diandra dalam hati
“Bukan masalah pernah dipelajari atau tidak pak, tapi akunya lupa.” Jelas Diandra pada akhirnya dengan nada di buat sebiasa mungkin.
“Lupa?” ucap Azka heran
“Iya... Aku memang lupa, pak.” Sahut Diandra
“Hadeuh...” gumam Azka dan ini bisa di dengar oleh Diandra
“Kok hadeuh sih pak? Bapak tidak percaya sama aku?” tanya Diandra
“Ya.. Gimana ya, An. Antara percaya dan tidak percaya sih.” Sahut Azka
“Ya sudahlah, terserah bapak saja mau percaya apa tidak?! Kalau begitu aku pergi dulu.” Ucap Diandra sambil putar badan hendak pergi.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comentnya ya... 🙏
__ADS_1