
Setelah beberapa hari semenjak kejadian itu, Diandra pun selalu melihat kakaknya berdua dengan Silvia setiap mereka ada kesempatan
“Hadeuh... Mereka ini. Lupa deh sama aku kalau lagi berdua.” Gerutu Diandra
“Ya sudahlah, ke kelas saja duluan.” Gumam Diandra lirih
Sesampainya di dalam kelas, Diandra terkejut. Ternyata satu kelas isinya mahasiswi semua.
“Kenapa bisa begini? Apa aku salah masuk kampus ya?” gumam Diandra yang kemudian memastikan lagi keadaan disekitarnya
“Benar kok. Aku tidaksalah kampus. Tapi kenapa aku merasa kelas ini seperti kelas sekolah khusus putri ya?” gumam Diandra sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal
Setelah beberapa saat kemudian, Azka pun masuk
“Hadih.. Aku lupa. Iya ya.. Pantas saja nih kelas isinya perempuan semua. Lha ini kan kelasnya tuh orang.” Gumam Diandra lirih sambil pukul-pukul kepalanya sendiri dan ini diperhatikan oleh Azka
“An, kamu ini kenapa sih?” gumam Azka dalam hati sebelum memulai mata kuliah
“Baiklah, kita mulai kelas hari ini.” Ucap Azka membuka kelas
“Ok, untuk hari ini, akan ada kuis dadakan. Di harapkan untuk semuanya agar menyiapkan selembar kertas dan juga pulpen.” Ucap Azka
“Mampus deh. Aku tidak belajar ni pelajaran. Boro belajar, setiap ingat wajah tuh orang, jadi benar-benar badmood.” Gerutu Diandra dalam hati
“Dan untuk siapa saja yang mempunyai nilai dibawah 50, maka harus mengikuti kelas tambahan. Gimana? Kalian setuju?” Ucap Azka dan seketika kelas pun menjadi berisik
“Oh ya satu lagi. Saya tidak mau ada yang ketahuan tidak jujur. Kalau sampai ketahuan ada yang tidak jujur, maka saya pastikan kalau dia tidak bisa mengikuti mata kuliah saya lagi sampai semester depan.” Ucap Azka tegas
“Cih.. Dari dulu tidak berubah. Seenak perutnya sendiri saja.” Gerutu Diandra
Tak menunggu lama, akhirnya ujian pun dimulai.
__ADS_1
“Hadeuh... Ini jawabannya apa?” gumam Diandra
Waktu pun seakan barjalan sangat cepat. Belum juga lembar jawaban ke isi satu pun, ujian sudah dinyatakan berakhir.
“Oh my god. ****** deh aku.” Gumam Diandra
Dengan berat hati, lembar jawaban Diandra pun dikumpulkan. Dan ketika semua sudah dikumpulkan, Azka pun melihat sekilas semua lembar jawaban. Dan ternyata dia berhenti di salah satu lembar jawaban 1 orang. Ya.. Itu adalah milik Diandra
“Diandra... Diandra.. Sampai segitunya kamu ke aku. Sampai-sampai tidak ada satu jawaban pun yang kamu kerjakan di kertas ini.” Gumam Azka
“Ya sudah. Untuk hasilnya, pertemuan selanjutnya baru akan dibagikan.” Ucap Azka
“Dan untuk saat ini, kelas kita akhiri. Terimakasih.” Ucap Azka kemudian dan langsung meninggalkan kelas
“Fiuh... Lega rasanya...” gumam Diandra dan langsung keluar untuk mencari Silvia
Sementara di tempat lain dan disaat yang bersamaan, Azka kelihatan tidak bersemangat
“Adik kamu tu, Al.” Sahut Azka
“Kenapa lagi sama adikku?” tanya Alvaro bingung
“Adik kamu tidak isi satu soal pun waktu aku adakan kuis dadakan tadi.” Jelas Azka
“Hmm... Apa kamu bilang? Kosong?” tanya Alvaro terkejut dan Azka pun mengangguk
“Aku bingung, Al. Sama adikmu, Diandra. Kenapa sampai segitunya dia benci sama aku. Sampai-sampai ke pelajarannya pun dia benci juga.” Ucap Azka frustasi
“Tunggu.. Tunggu.. Nanti coba aku pastikan dulu ke adikku.” Ucap Alvaro menenangkan Azka
“Terserah kamu saja, Al.” Ucap Azka pasrah
__ADS_1
Dan ditempat lain, Diandra sedang mencari-cari Silvia dan akhirnya ketemu.
“Sil, kamu habis dari mana saja sih? Kok kamu tidak masuk kelasnya si Azka itu ?!” ucap Diandra
“Sori.. Sori.. Aku tadi telat. Ini saja baru sampai.” Jelas Silvia
“Lha bukannya kamu lagi sama kakakku?” tanya Diandra bingung
“Ya tidaklah. Aku tuh benar-benar barusan sampai.” Jelas Silvia
“Oh jadi beneran ya?!” ucap Diandra dan Silvia pun mengangguk
“Memang ada apa kamu cari aku?” tanya Silvia
“Aku cari kamu tuh sebenarnya...” ucap Diandra terpotong karena berfikir
“Sebenarnya apa, an?” tanya Silvia penasaran
.
.
.
.
Bersambung...
Kira-kira, sebenarnya apa sih yang mau disampaikan sama Diandra ke Silvia?
Ditunggu ya jawabannya di next....
__ADS_1
Jangan lupa like dan comentnya ya...🙏