
"Budeh." ujar Reyna sambil menghampiri ibu Lestari pun.
"Kamu ada di sini?" tanya ibu.
"Iya budeh aku menginap di rumah mbak dulu untuk sementara." jawab Reyna.
Mendengar apa yang di katakan Reyna membuat ibu Lestari terkejut, dia pun melirik ke arah Lestari untuk meminta penjelasannya.
"Nanti aku ceritakan bu, aku juga lupa mau bilang sama ibu hehe.." ujar Lestari.
"Reyna kamu istirahat lagi saja! nanti kalau mualmu sudah berkurang ikutlah berkumpul bersama kami." ujar Lestari pada Reyna.
"Baik mbak." jaeab Reyna.
Reyna pun pergi ke kamar yang di tempati untuk sementara karena benar-benar merasakan pusing, pusing dan mualnya akan kerap datang di saat jam pagi sampai Dzuhur.
"Ibu butuh penjelasan dari kamu, kenapa Reyna ada di sini? apa yang terjadi dengan sepupumu itu?" tanya ibu setelah Reyna pergi.
Lestari pun menghela nafas dan mulai menceritakan semua tentang Reyna, ibu yang mendengar pun begitu terkejut dan langsung menutup mulutnya.
"Jadi begitu ceritanya aku kasian sama dia nu jadi aku izinkan dia tinggal di sini untuk sementara." ujar Lestari.
"Ya Alloh kasian sekali Reyna, tapi itu juga sih akibat dari dia sendiri! kenapa harus pacaran sama laki-laki yang beristri? padahal laki-laki jomblo juga banyak." ujar ibu.
"Iya ibu aku juga tak habis pikir kenapa Reyna mau sama laki-laki beristri padahal dia cantik ya ibu?" jawab Lestari.
"Tapi Nak, ko ibu jadi merasa ada firasat buruk ya dia tinggal di sini, kamu baik-baik aja kan sama Deni?" tanya ibu.
"Alhamdulillah ibu baik, sekarang mas Deni lagi sedang sibuk-sibuknya jadi jarang di rumah." ujar Lestari.
"Oh syukurlah jangan sampai kamu kecolongan, kamu harus jaga suami kamu biar gak ada orang ke tiga di pernikahan kalian! dan sebenarnya tidak baik juga Deni tinggal bersama Reyna walau di sini ada kamu." ujar ibu.
Lestari pun Tersenyum.
"Baik ibu, terimakasih nasihatnya, iya juga sih bu! mas Deni juga sebenarnya pernah protes juga" Jawa lestari sambil memeluk ibunya.
__ADS_1
"Pastilah nak, mungkin Deni juga merasa gak nyaman sama Reyna, apalagi Reyna seorang perempuan beda lagi kalau sepupumu laki-laki.?" ujar ibu pada Lestari.
"Iya sih bu, nanti aku coba bicarakan sama mas Deni lagi." ujar Lestari.
"Oh iya kamu mau memasak?" tanya ibu.
"Iya Bu, biar Lisa pulang sekolah makanannya sudah siap." jawab lestari.
"Ya sudah kamu masak gih! biar Ridwan sama ibu." ujar ibunya.
"Iya ibu terimakasih." ujar Lestari.
Lalu dia berbicara juga pada Ridwan.
"Kamu yang anteng ya sama nenek, ibu memasak dulu ya." ujar Lestari pada ridwan.
Lestari pun pergi ke dapur untuk memasak, ibu yang melihat lestari pergi pun mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, entah kenapa semenjak Lestari menceritakan Reyna hati ibu menjadi tidak tenang! dia merasa ada sesuatu yang terjadi di dalam rumah tangga anaknya.
"Ya Alloh semoga ini hanya rasa ketakutan saja, semoga rumah tangga Lestari baik-baik saja dan akan baik-baik saja tanpa ada orang ke tiga." doa ibu dalam hatinya.
****
Selagi lestari pergi, ibu menghampiri Reyna, dia ingin memeluk keponakannya itu sekaligus memberi dukungan.
"Reyna!" panggil ibu ketika masuk ke dalam kamar yang di tempati Reyna.
"Budeh, maaf Reyna tidak menemani budeh, karena di jam seperti ini rasa pusingnya masih ada walau sedikit." jawab Reyna sambil bangkit dari rebahannya .
Ibu pun meletakan Ridwan di tengah-tengah kasur agar aman untuk Ridwan tiduran.
"Tidak apa-apa, budeh tau dan mengerti karena dulu juga mengalami hal yang sama saat hamil mbakmu." ujar ibu.
"Budeh, aku.." ujar Reyna terhenti, ibu sudah menyela lagi.
"Tidak apa-apa, Lestari sudah menceritakan semuanya pada budeh, budeh sebenernya kecewa padamu tapi nasi sudah jadi bubur! kalau udah seperti ini mau gimana lagi? kamu yang kuat menghadapi semua ini demi anakmu, kamu sudah tidak sendiri lagi, ada anakmu di dalam tubuhmu yang harus kamu jaga! Insyaallah jika budeh bisa, budeh akan selalu membantumu dan mendukungmu." ujar ibu pada Reyna.
__ADS_1
"Terimakasih budeh." ujar Reyna sambil menangis.
Lalu memeluk ibu Lestari, ibu Lestari pun membalas pelukan Reyna sambil mengelus punggung Reyna.
"Ini yang aku iri padamu mbak, selain mempunyai suami yang baik, mbak pun mempunyai ibu yang baik seperti budeh." ujar Reyna dalam hati.
"Ya sudah apa kamu sudah makan? ayo kita makan bersama! sebentar lagi mbak mu dan Lisa datang." ujar ibu sambil bangkit dan menggendong Ridwan kembali.
"Belum budeh, karena pagi sampai menjelang siang mual dan pusingnya masih berasa, tapi ini sudah mendingan! ayo budeh biar aku bantu menyiapkan makan siangnya." ujar Reyna ikut bangkit dan keluar bersama ibu.
Reyna pun membantu budehnya menyiapkan makan siang, menata masakan yang sudah lestari masak juga menyiapkan piring sendok dan gelasnya di meja makan. Tak lama terdengar suara motor yang di parkir di halaman rumah Lestari, itu menandakan Lestari telah datang.
Lestari pun menghampiri ibu dan Reyna di ruang makan.
Lho Reyna , sudah bangun? apa pusing dan mualnya sudah mendingan?" ujar Lestari .
"Iya mbak sudah, ayo mbak sudah aku siapkan makan siang nya." jawab Reyna.
"Syukurlah kalau begitu, ya udah ayo! Lisa ayo cuci tangan dulu sebelum makan sama ibu!" ujar Lestari pada anaknya.
"Ayo ibu, Lisa sudah lapar." ujarnya membuat lestari tersenyum.
Mereka berdua pun pergi ke arah wastafel yang ada di dapurnya lalu mencuci tangan mereka.
Ibu pun menidurkan Ridwan di kamar Lestari karena Ridwan sudah tertidur setelah ibu beri susu sebotol.
Lalu setelahnya kembali ke ruang makan untuk makan bersama dengan anak cucunya dan ponakannya juga.
"Masakan ibu enak top banget." ujar Lisa.
Lestari pun tersenyum.
"Ya sudah kamu yang banyak makannya supaya cepat besar." ujar Lestari.
Lisa pun mengangguk sambil tersenyum dengan mulut yang penuh dengan makanan membuat lestari geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Reyna kamu makan yang banyak! soalnya kamu tadi tidak sarapan, mumpung mualmu mereda." ujar Lestari pada Reyna.
"Iya mbak terimakasih." jawabnya.