
Pukul 2 siang Deni baru saja pulang dari cafe, saat sampai di rumah di melihat baru saja Reyna berjalan ke arah dapur. Deni pun menghampiri Reyna untuk menanyakan kenapa dirinya masih ada di rumah ini.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Deni kepada Reyna.
"Mas masa kamu tega sama aku, aku mau tinggal dimana?" jawab Reyna.
"Kamu bisa kan tinggal di rumah ibumu itu?" ujar Deni.
"Mas aku mohon..." ujar Reyna.
"Aku beri waktu kamu seminggu! kamu pikirkan mau tinggal dimana? tenang saja aku akan bertanggungjawab dengan memberimu uang." ujar Deni tanpa menunggu jawaban dari Reyna langsung pergi begitu saja menuju kamarnya.
"Mas..." ujar Reyna.
Reyna mengepalkan tangannya untuk menghilangkan rasa kecewanya.
"Kenapa semuanya jadi begini? harusnya aku tidak gegabah dengan datang ke rumah budeh." ujar Reyna.
"Ini semua karena ibu, sekarang aku harus gimana?" ujar Reyna lagi.
****
Sesuai apa yang di katakan bapaknya bahwa sore mereka akan mendatangi rumah Lestari dan Deni, kini Lestari, ibu, bapak dan anak-anak Lestari datang ke rumah yang sedang Deni tempati.
"Assalamualaikum." ujar Lestari.
Walau dirinya pemilik dari rumah ini, Lestari selalu membiasakan diri untuk mengucapkan salam terlebih dahulu.
Deni yang saat itu mendengar suara yang sangat dia kenali mengucapkan salam langsung menjawab dan keluar dari kamarnya.
"Waalaikumsalam... Lestari!" jawab Deni sambil menghampiri lestari.
Deni hendak memeluk Lestari karena begitu senang Lestari mau pulang ke rumah, namun Lestari malah memundurkan dirinya.
Tak lama bapak, ibu dan anak-anak Lestari pun masuk ke dalam rumah.
"Ayah..." ujar Lisa ketika melihat ayahnya.
Lisa pun berlari dan langsung memeluk kaki Deni, Deni pun langsung saja menggendong Lisa dan mencium pipinya.
"Aku rindu ayah." ujar Lisa.
"Ayah juga rindu Lisa sayang " jawab Deni sambil mencium pipi Lisa membuat Lisa tertawa.
__ADS_1
Melihat pemandangan di depan matanya Lestari hanya bisa memalingkan wajahnya agar tidak goyah dalam keputusannya.
"Hem Deni ada yang ingin kami sampaikan kepadamu!" ujar bapak.
"Apa Reyna masih ada di rumah ini? kalau ada tolong kamu sekalian panggilkan!" ujar bapak lagi.
"Iya pak." jawab Deni.
Ibu pun mencoba untuk mengambil Lisa dari gendongan Deni.
"Sini Lisa sama nenek dulu! kita bermain di depan yuk." ujar ibu kepada Lisa agar Lisa tidak mendengar pembicaraan orang dewasa.
"Ayok nek." ujar Lisa dan langsung meminta neneknya untuk menggendong dirinya.
"Anak pintar." ujar ibu.
Ibu pun langsung menggendong Lisa, setelah Lisa berada di gendongan neneknya, Deni pun berjalan ke arah kamar Reyna untuk memanggilnya.
Ketika sampai depan pintu kamar yang Reyna tempati, Deni pun mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok...tok...tok...
"Iya sebentar." ujar Reyna dari dalam.
"Ada apa mas? apa kamu berubah pikiran?" tanyanya dengan nada senang.
"Bapak dan Lestari memanggilmu untuk ke ruang keluarga, mereka ingin bicara padamu." ujar Deni dengan wajah yang datar.
Setelah mengatakan itu kepada Reyna, Deni pun langsung pergi dari sana menuju ruang keluarga dimana Lestari dan bapak berada.
Sedangkan Reyna, dia malah diam mematung karena takut terhadap pakdenya.
"Pakde sama mbak Lestari mau apa ya?" ujarnya dalam hati.
Reyna pun menghela nafasnya untuk menetralkan detak jantungnya lalu menghampiri dimana Lestari berada.
Ketika sampai Reyna melihat pakde dan Lestari duduk bersisian di kursi panjang dan Deni duduk di kursi yang hanya muat dirinya saja.
"Duduk Reyna!" ujar bapak kepada Reyna.
Reyna pun mengikuti perintah pakdenya dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Lestari.
"Kenapa kamu masih tinggal di sini Reyna? padahal kamu tau tidak baik tinggal berdua dengan laki-laki yang bukan suamimu!" tanya bapak.
__ADS_1
"Aku tidak tau harus kemana pakde, ibu pergi begitu saja dan melarangku pulang ke rumahnya." ujar Reyna menundukan kepalanya.
Bapak pun menghela nafasnya.
"Tapi maaf Reyna kamu harus segera pergi dari rumah ini! ini rumah Lestari, dialah yang berhak tinggal di sini." ujar bapak.
"Dan kamu Deni, tujuan bapak datang ke sini adalah untuk mengambil hak Lestari juga anak-anak kalian, bukankah yang berhak memiliki rumah dan hasil usahamu itu adalah Lestari dan anak-anak kalian walau kalian berpisah?" sambung bapak lagi.
"Jadi bapak minta walau kamu masih suami Lestari, tapi Lestari menginginkan perpisahan, kamu boleh pergi dari rumah ini dengan membawa semua barang-barangmu." ujar bapak.
"Tapi bagaimana denganku pakde aku harus pergi kemana? bolehkah aku tinggal di sini bersama dengan mbak Lestari?" uang Reyna.
"Apa kamu tak malu sama Lestari setelah apa yang kamu lakukan kepadanya?" tanya bapak balik.
"Aku...." ujar reyna tergagap.
"Jadi gimana Deni? apa kamu mau menuruti permintaan kami?" tanya bapak kepada Deni.
"Baik pak, aku akan pergi dari rumah ini! dan untuk usaha kita aku akan selalu memberikannya kepada Lestari dan menyuruh Lestari untuk mengelolanya, aku akan terima di beri berapa saja tapi bapak bukannya aku mau membela Reyna atau pun ingin melindunginya, tolong berilah Reyna yang setiap bulannya untuk rasa tanggung jawabku karena walau bagaimanapun aku mengakui bayi yang di kandung Reyna adalah bayiku! biarkan aku yang berusaha untuk terus memajukan usaha kita dan Lestari aku larang untuk turun tangan karena Ridwan masih bayi masih butuh perhatian Lestari, aku janji aku akan jujur memberikan penghasilan setiap bulannya kepada Lestari dan membiarkan Lestari mengatur semua keuangan." ujar Deni panjang lebar sambil menatap Lestari.
Reyna yang mendengar Deni berkata seperti itu pun membulatkan matanya, kalau begini apa yang dia harapkan dari ayah bayinya sekarang.
Tak hanya Reyna, Lestari pun kaget dengan jawaban Deni, Lestari tidak menyangkan Deni akan menyerahkan rumahnya beserta usaha mereka begitu saja! apa Deni sungguh-sungguh menyesali semuanya dan masih begitu mencintainya? tidak pikir Lestari dia tidak boleh goyah, Lestari harus melihat perjuangan Deni dahulu.
"Baik jika itu keputusanmu, bapak pegang janjimu!" ujar bapak.
"Mas bagaimana denganku?" ujar Reyna.
"Aku tidak tau Reyna? lebih baik kamu kembali ke rumah orangtuamu." ujar Deni.
"Kamu bisa tinggal dengan pakde Reyna! walau pakde begitu kecewa kepadamu tapi pakde tidak sekejam orangtuamu." ujar bapak.
Benar apa yang di katakan pakdenya, walau dia bukan orangtua kandungnya tapi tak sekejam orangtuanya sendiri, lebih baik dirinya tinggal bersama pakdenya.
Reyna pun hanya menundukan pandangannya dan berkata
"Baik pakde." jawab Reyna.
"Bolehkah mas bicara berdua denganmu dulu Lestari?" tanya Deni yang melihat Lestari tak bicara sedikit pun sambil menatap Lestari.
Lestari pun membalas tatapan suaminya dan menghela nafasnya.
"Baiklah mas." ujar Lestari.
__ADS_1