
Di rumah Reyna, Reyna yang sedang tidur tiba-tiba saja terbangun karena merasakan perut nya mual sekali. Dia pun terbangun langsung berlari keluar kamar menuju kamar mandi, Reyna pun memuntahkan semua isi perutnya yang hanya air saja dan itu terasa asam dan pahit, karena ini pagi jadi tentu saja reyna belum makan apa-apa.
"Ada apa dengan ku? kenapa rasanya mual sekali." ujar reyna pada dirinya sendiri.
Lalu dia pun berjalan kembali ke kamarnya Karena rumah reyna sederhana, jadi tidak ada kamar mandi di dalam kamarnya.
Setelah masuk ke kamarnya dia pun langsung rebahan lagi, kepalanya pun rasanya pusing sekali.
Sepertinya hari ini dia tidak pergi ke lapak.
"Apa aku masuk angin ya? rasanya pusing sekali, mau minum obat aku belum sarapan." ujar Reyna.
Dia pun melirik ke arah jendela ternyata hari sudah pagi, Reyna pun bangkit berencana untuk membeli sarapan bubur di depan agar dia bisa minum obat.
Setelah membeli sarapan bubur Reyna langsung pulang dan memakan buburnya. Namun ada yang aneh, tiba-tiba saja dia merasa mual sekali dan memuntahkan kembali apa yang telah dia makan.
"Aku ini kenapa? apa aku periksa saja ya nanti siang." ujarnya.
Dia pun berjalan lagi ke arah kamar, sebelum itu dia melirik sana sini tak terlihat ibunya! Reyna pun berpikir mungkin ibunya masih tidur.
Setelah masuk kamar reyna tidak sengaja melihat kalender dia pun melihat-lihat kalender dan betapa terkejut nya dia melihat ini sudah bulan apa dan tanggal berapa.
"Aku belum haid? terakhir haid yaitu sebelum aku menyerahkan kesucianku kepada mas Deni berarti aku ..." ujar Reyna langsung tercekat dia membulatkan matanya lalu berkata.
"Tidak itu tidak mungkin, ini tidak boleh terjadi! aku akan bahagia jika keadaan mas Deni masih berhubungan denganku, tapi ini aku saja baru saja di putuskan begitu saja, tidak ini tidak boleh terjadi aku tidak boleh hamil! aku gak mau anakku mengalami hal yang sama denganku, aku harus membeli alat tes pack untuk memastikannya." ujar Reyna pelan.
Dia pun langsung meraih tasnya untuk mengambil dompet dan pergi dengan tergesa-gesa untuk membeli alat tes kehamilan.
****
Di rumah lestari, setelah sarapan Deni pun mengantarkan lisa sekolah. Sekarang Lestari sedang menunggu suaminya, dia begitu penasaran kepada Deni apa yang sebenarnya terjadi semalam yang membuat Deni menangis sampai meminta maaf.
Suara deru motor pun terdengar, lestari buru-buru menghampiri suaminya sambil menggendong ridwan yang sekarang sudah ganteng.
__ADS_1
"Mas." ujar Lestari.
Dia pun mencium punggung tangan suaminya, di balas dengan Deni yang mencium keningnya .
"Anak ayah sudah mandi dan sudah wangi, sini gendong sama ayah! biar ibu mu bisa santai sejenak karena sudah cape beraktivitas." ujar Deni sambil mengambil ridwan dari gendongan ibunya.
Lestari pun tersenyum dan memberikan Ridwan kepada Deni.
"Memang mas hari ini tidak mengecek lapak-lapak kita?" tanya lestari.
"Mau nanti siang aja sayang, aku mau menghabiskan waktuku dulu bersama kalian." ujar Deni.
Lestari pun mengangguk.
"Mas boleh kah aku menanyakan sesuatu? " tanya Lestari dengan hati-hati.
"Iya sayang mau tanya apa?" ujar Deni.
"Hehe gini sebenernya semalam kamu kenapa? kamu baru kali ini nangis sampe segitunya, kamu juga terus meminta maaf mas, membuat aku bingung sendiri dan bertanya-tanya kamu ini kenapa? bolehkah aku tau mas?" ujar Lestari.
Jantung Deni langsung berdebar dia belum siap menceritakan semua penghiatannya, dia sungguh takut ketika lestari tau akan meninggalkannya, biarlah untuk saat ini lestari jangan tau dulu, jika nanti sudah waktunya Deni akan bicara jujur.
"Tidak apa-apa mas hanya teringat kamu saja, mas memang melakukan kesalahan tapi mas belum siap cerita sama kamu! gak apa-apa ya? mas janji setelah siap mas akan menceritakan semua nya padamu lestari tanpa mas tutupi semuanya." ujar Deni pada akhirnya.
"Baiklah mas, kalau mas sudah siap jujur sama aku, mas kasih tau aku ya? Aku siap mendengar cerita mu." ujar lestari sambil tersenyum mengelus lengan suaminya dengan tulus, dia tidak mau memaksa suaminya untuk bercerita saat ini takut membuat suaminya itu terbebani.
"Iya sayang." ujar Deni membalas senyuman Lestari, lalu mereka pun berpelukan.
"Maafkan mas sayang, mas belum siap kamu tau segalanya." ujar Deni dalam hati sambil mengeratkan pelukannya pada Lestari dengan Ridwan yang berada di tengah-tengah mereka.
****
Kembali ke rumah Reyna, Reyna kini menangis melihat hasil tes kehamilannya, tespacknya menunjukan garis biru dua itu artinya membuktikan bahwa dia benar-benar sedang hamil, Reyna bingung setelah ini apa yang harus dia lakukan? kalau dia bilang sama Deni, pasti Deni akan menyuruh menggugurkannya. Tidak walau pun dia pendosa, dia mana tega membunuh anaknya sendiri.
__ADS_1
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? haruskah aku bilang sama mas Deni?" ujar Reyna.
Di saat seperti ini pikirannya tidak bisa berjalan .
"Ayo Reyna berpikir, apa yang harus kamu lakukan?" ujar Reyna dalam hati.
Dia pun duduk di pinggir kasurnya sambil manatap ke arah jendela, dia pun teringat akan sosok Lestari yang baik hati, Reyna pun mulai bisa memikirkan jalan keluarnya.
"Ya jika aku datang ke mas Deni, pasti mas Deni menolakku mentah-mentah tapi jika aku datang ke mbak lestari.... ya aku harus datang ke mbak lestari untuk meminta simpatinya, jika aku tidak bisa memaksa mas Deni untuk bertanggung jawab! maka mbak Lestari pasti bisa, ya aku yakin dengan kebaikan hatinya dia bisa membuat mas Deni menikahiku juga." ujar Reyna dengan semangat.
****
Di rumah Lestari.
"Mas Ridwan sudah tidur? kamu gak jadi berangkat untuk mengecek lapak kita?" ujar Lestari pada suaminya.
"Jadi sayang tapi mas sedikit malas sayang, mas sekarang jadi pengen di rumah terus." ujar Deni.
"Iya mas aku senang jika mas di rumah terus tapi jangan terlalu sering lapak kita tanpa pengawasan! kadang orang yang ingin menghancurkan kita itu adalah orang terdekat kita mas, jadi kita tetap harus hati-hati." ujar lestari.
"Baiklah baik tapi mas ada syaratnya ya." ujar Deni sambil mengedipkan matanya pada Lestari.
"Syarat apa mas?" tanya lestari bingung.
"Syarat mulai membuat adik untuk Ridwan." ujar Deni sambil menggendong istrinya menuju sofa karena di kasur ada Ridwan takut terganggu tidurnya.
"Kamu ini mas Ridwan masih kecil sudah pengen punya lagi." ujar Lestari sambil cemberut membuat Deni tertawa.
"Iya...iya...mas sudah kangen sama kamu, kita lakukan di sofa ya?" ujar Deni.
Lestari pun hanya tersenyum dan mengangguk "Baiklah mas, lakukan apa yang ingin kamu lakukan." ujar Lestari sambil tersenyum.
Dan terjadilah siang itu pergulatan panas antara suami dan istrinya.
__ADS_1
~ Selamat malam pembaca semoga suka sama ceritanya ya, ~
Jangan lupa dukung aku dengan tinggalkan like, vote and comen pada cerita ini ya, agar author semakin semangat belajarnya. Terimakasih salam sehat selalu.