
Setelah masuk ke dalam kamar tamu Reyna, Reyna duduk di pinggir ranjang dia mengelus perutnya yang masih rata.
"Maafkan mamah yang harus menjadi jahat dan memanfaatkan keberadaanmu sayang, percayalah mamah melakukan ini untuk masa depan kamu juga, mamah gak mau kamu lahir tanpa seorang ayah." ujar Reyna.
"Kau akan terkejut mas! saat pulang nanti aku malah di perbolehkan tinggal di sini oleh istrimu sendiri, aku ingin lihat sampai kapan kamu bisa menyembunyikan semua ini." ujar Reyna dalam hati.
****
Kini Lestari sedang memasak untuk makan malam, Deni suaminya tadi mengabari bahwa dia akan pulang setengah magrib karena dia harus mampir ke mesjid dahulu sebelum ke rumah, dia ingin ikut tausiah dulu di mesjid yang dekat dengan lapaknya berada.
Saat sedang asyik memasak Reyna tiba-tiba saja datang menawarkan bantuan.
"Mbak ada yang bisa aku bantu?" ujar Reyna.
"Gak Reyna kamu duduk saja! apalagi kamu lagi hamil muda masih rawan." jawab Lestari.
"Gak apa-apa mbak, aku malah gak enak tiduran terus, sudahlah menumpang malah tidak bantu-bantu mbak." ujar Reyna.
"Gak apa-apa, mbak bisa maklumi ko tapi kalau kamu tetep mau bantu boleh kamu kupas saja buah mangganya, di meja saja ya ngupasnya! mas mu itu kalau sudah makan suka sekali memakan buah mangga sebagai cuci mulut." ujar Lestari.
"Baiklah mbak, mangganya dimana mbak?" tanya Reyna.
"Ada di kulkas Rey, ambil saja!" jawab Lestari.
Reyna pun menurut lalu dia berjalan ke arah kulkas untuk mengambil buah mangga, tak lupa dia juga membawa pisau, piring dan plastik untuk sampah mangganya nanti, Reyna pun duduk di kursi meja makan untuk mengupas mangga seperti perintah Lestari dan Lestari pun lanjut memasak.
Setelah selesai masak Lestari pun menata makanannya di atas meja di bantu Reyna. Setelah itu menyuruh Reyna duduk terlebih dahulu untuk membiarkan sisanya Lestari yang menyelesaikannya, Reyna pun menurut dan duduk di kursi.
Tak lama terdengar suara deru mesin mobil berhenti Lestari menebak bahwa itu adalah suaminya, Lestari pun menyuruh Reyna menunggu! dia akan membukakan pintu rumah dahulu untuk menyambut suaminya pulang baru setelah itu makan bersama-sama, Lisa juga nampaknya sudah duduk di ruang makan bersama dengan Reyna, Ridwan sendiri dia sudah tidur tadi selepas magrib.
"Assalamualaikum." ujar Deni
"Waalaikumsalam mas." jawab Lestari sambil mencium punggung tangan suaminya dan Deni mengecup kening istrinya.
"Kamu sudah masak belum sayang? mas lapar sekali." tanya Deni.
"Sudah mas, kalau gitu ayo kita langsung makan saja! mumpung masih anget juga." ujar Lestari.
"Ya sudah ayo sayang." ujar Deni dengan semangat.
Mereka pun berjalan menuju ruang makan, namun betapa terkejutnya Deni melihat ada seseorang yang sangat dia kenali walau hanya dari belakang.
Deg.. deg.. deg...
__ADS_1
slSuara jantung Deni, dia begitu kaget dan
degdegan takut Reyna Sudah mengadukan semuanya pada Lestari.
"Ayo mas, oh iya aku lupa di sini ada Reyna juga mas, dia untuk sementara waktu mau tinggal di sini dulu mas! gak apa-apa kan mas?" ujar Lestari pada Deni.
Deg.. deg.. deg..
Suara jantung Deni lagi-lagi berdetak, pas mendengar apa yang barusan Lestari katakan, dia tidak salah dengar kan? Reyna mau tinggal di sini! apa Reyna merencanakan sesuatu? pikirnya.
Reyna yang mendengar Lestari berbicara pada Deni pun menengok ke arah Deni sambil menunjukan senyuman yang bisa di lihat Deni itu adalah senyuman liciknya.
"Assalamualaikum mas, selamat malam." ujar Reyna.
"Waalaikumsalam, ya sudah ayo kita makan bareng!" jawab lestari karena Deni tak kunjung menjawab.
Lestari pun merasa tidak enak kepada Reyna dia pun memberikan senyuman manisnya.
Dengan malas Deni pun duduk di ruang makan di hadapan Reyna dan di sampingnya adalah Lestari.
Lestari pun menyiapkan nasi dan lauknya di piring suaminya, deni yang tadi nya sangat lapar, kini tiba-tiba saja menjadi kenyang setelah tau ada Reyna di sini.
Dengan ogah-ogah an Deni menelan makanannya, dia berpikir apa yang sedang Reyna rencanakan? tidak mungkin Reyna tiba-tiba tinggal di sini! apa alasan yang Reyna berikan sehingga mengizinkan Reyna tinggal di sini.
"Gak sayang, mas hanya lelah saja, bolehkah setelah ini mas berbicara dengan mu berdua sayang?" ujar Deni.
Lestari pun tersenyum dan menjawab.
"Boleh mas." jawab lestari.
Deni pun tersenyum dan mengelus lembut kepalanya, Reyna yang melihat kemesraan pasangan suami istri itu mengepalkan tangannya karena cemburu, dia tidak terima Deni bermesraan dengan istrinya .
"Awas kau mas, tak akan aku biarkan kau tenang sebelum kau menikahiku." ujar Reyna dalam hati.
"Sayang aku sudah ya makannya, mas mau langsung mandi! badan mas rasanya lengket sekali" ujar Deni.
Lestari pun mengangguk.
"Iya mas." ujarnya sambil tersenyum, Deni pun membalas senyuman istrinya dan mencium kening istrinya tak lupa mencium pipi Lisa juga yang berasa di sebelah lestari.
Reyna yang melihat pun hanya memalingkan muk nya agar tak melihat kemesraan mereka . Deni pun pergi ke kamar tanpa melirik atau pun menyapa reyna, membuat lestari semakin tak enak saja.
"Maaf kan mas mu ya, dia memang begitu sedikit judes kalo belum dekat tapi kalo sudah dekat dia ramah juga baik." ujar Lestari.
__ADS_1
"Aku juga tau mbak, malah aku lebih dari kata dekat." ujar Reyna, tentu saja itu hanya dalam hati nya saja .
"Iya mbak gak apa-apa." ujar Reyna sambil tersenyum.
****
Di dalam kamar Deni begitu kesal kepada Reyna yang nekat datang ke sini apalagi ini mau tinggal di sini. Dia pun segera meraih handuk untuk menyegarkan pikirannya yang panas, tak lupa dia juga membawa ganti baju karena kamar mandinya berada di luar kamar. Dia tidak ingin Reyna melihat dia bertelanjang dada padahal Reyna sudah sering melihat tubuh polos Deni, tapi Deni sungguh ingin berubah.
Setelah selesai mandi dia langsung mengambil wudhu karena adzan telah terdengar berkumandang dia pun langsung melaksanakan solat isya di musola yang berada di rumahnya.
Setelah itu dia langsung masuk kamar karena tidak ingin bertemu dengan Reyna, Deni melihat Lestari sedang memberikan susu botolnya kepada Ridwan, mungkin Ridwan terbangun dan meminta susu pikirnya, lantas Deni memeluk Lestari dari belakang.
Awalnya Lestari terkejut karena dia tidak menyadari suaminya datang tapi setelah tau bahwa itu suaminya di pun tersenyum.
Setelah susu dalam botol habis, Ridwan tertidur kembali membuat Lestari membalikan badannya menghadap suaminya.
"Kamu mau bicara apa mas?" tanya lestari sambil mengelus pipi suaminya.
"Aku mau bertanya soal Reyna, kenapa dia mau tinggal di sini sayang? bukan kah dia masih ada orangtuanya?" ujar Deni penasaran.
"Oh iya mas aku lupa tadi gak ngabarin kamu, aku pikir nanti saja setelah mas pulang, berhubung sekarang mas menanyakannya aku mau menceritakan kenapa Reyna mau tinggal di sini untuk sementara mas." ucap lestari.
"Iya mas pengen tau sayang." tanya deni
"Reyna di usir orangtuanya mas." jawab lestari sedih.
"Emang kenapa orangtuanya mengusirnya sayang?" ujar Deni.
Lestari pun menceritakan semuanya kepada Deni tidak ada yang di lewatkan, tidak di kurangi juga tidak di lebihkan, Deni yang mendengar pun terkejut! kenapa semua ini terjadi, dia begitu syok tapi bisa menyembunyikan raut wajahnya, dia tidak ingin ketauan sama Lestari bahwa dia sedang tegang .
"Aku tidak tau harus gimana mas? di satu sisi aku kecewa terhadapnya , di satu sisi lagi aku juga tak tega jika harus mengusirnya! biarlah pikir ku setelah dia cukup punya tabungan dia pun berjanji akan pindah dari sini mas, maaf aku tidak minta izin dulu sama kamu." ujar Lestari.
Deni pun langsung memeluk erat Lestari sambil terus menciumnya.
"Kamu begitu baik sayang, mas beruntung mempunyai istri seperti kamu." ujar Deni kepada lestari.
"Iya mas aku juga bahagia punya suami seperti kamu mas, semoga kamu tidak sepeti orang yang sudah menghamili Reyna ya mas, sudah punya istri tapi malah selingkuh! lalu setelah itu tidak mau bertanggung jawab." ujar Reyna.
Deg... deg... deg... jantung Deni berdetak.
Deni pun tidak menjawab omongan Lestari lagi dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan mas Lestari, maafkan mas! andai kamu tau yang menghamili sodaramu adalah aku? apa kamu akan tetap mau bersamaku ? apa kamu masih mau memaafkan aku?" ujar Deni dalam hati sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
__ADS_1