
Setelah melakukan solat isya, Lestari kembali lagi ke kamarnya dan menghampiri kedua anaknya yang tertidur pulas di tempat tidurnya.
Kini Lestari hanya tinggal bertiga saja di rumah ini, setelah tadi sore Deni mengalah pergi dari rumah ini! Reyna pun menyusul pergi dari rumah ini untuk tinggal bersama kedua orangtuanya selepas solat magrib tadi.
Lestari juga sudah memaafkan Reyna dan memberitahukan Reyna untuk tidak mengulangi perbuatannya kepada orang lain! cukup keluarganya lah yang jadi korban.
"Semoga kamu bisa menerima ya nak, jika ayahmu tidak tinggal bersama kita lagi." ujar Reyna menatap kedua anaknya sambil mengelus kepala Lisa.
"Ibu janji tidak akan menghalangi kalian untuk bertemu." ujarnya lagi.
Lalu Lestari mencium kening kedua anaknya dan ikut merebahkan tidurnya di sisi Ridwan.
****
Di kediaman mendiang orangtua Deni, Deni kini sedang berdoa selepas dia melakukan solat isya.
"Ya Alloh ampuni segala dosaku yang telah berzina, terimalah tobat hamba ya Alloh." doa Deni.
Deni pun bangkit menuju tempat tidur karena dirinya sudah lelah dari sore merapihkan rumah mendiang orangtuanya yang sedikit berdebu karena tidak ada yang menempatinya.
Deni pun mengeluarkan ponselnya untuk melihat foto kebersamaannya dengan Lestari dan juga anak-anaknya.
"Pasti kalian sudah tidur ya! baru semalam saja ayah sudah kangen kalian." ujar Deni sambil menatap foto dirinya bersama keluarga kecilnya saat kemaren liburan berempat.
"Maafkan ayah ya, ayah janji dari hari ini akan berjuang kembali untuk merebut hati ibumu juga memperbaiki diri ayah."
Deni pun merebahkan dirinya di tempat tidur lalu memejamkan matanya sambil memeluk ponselnya.
****
Setelah terdengar adzan subuh Lestari pun membuka matanya.
"Mas...mas bangun sudah sibuk." ujar Lestari sambil meraba tempat tidur.
Namun setelah menyadari bahwa di sisinya ada Lisa dan Ridwan, Lestari pun bangkit dari tidurannya.
__ADS_1
"Astagfirullah... padahal baru semalam aku tanpamu mas, aku sudah teringat kepadamu! semoga kamu membuktikan akan memperjuangkan aku mas." ujar Lestari sedih.
Lestari pun mencium pipi kedua anaknya dan langsung berjalan keluar kamar untuk melaksanakan kewajibannya, biarlah untuk pekerjaan rumah hari ini Lestari ingin libur dulu, karena Lisa juga libur sekolah dia ingin bermalas-malasan dan sepertinya dia nanti akan menyewa orang untuk membantu membersihkan rumahnya dan mencuci baju saja karena Deni sudah tidak tinggal di sini untuk membantu menjaga anak-anaknya! biarlah untuk masak dia masih bisa menghandlenya.
"Ya Alloh kuatkan lah hati hamba agar bisa menjalani hidup ini tanpa suami hamba, lindungi suami hamba dimana pun dia berada ya Alloh, walau bagaimana pun dia tetap sah suami hamba dan ayah anak-anak hamba! hamba tau, hamba berdosa saat ini tapi hamba ingin melihat perjuangan suami hamba untuk meraih kepercayaan hamba lagi agar dia tidak mengulangi kesalahan yang sama." doa Lestari setelah di melaksanakan solatnya.
Lestari pun merapihkan peralatan solat lalu kembali ke tempat tidur, untuk menunggu anak-anaknya bangun Lestari pun lantas mengambil Al-Qur'an untuk dia baca sambil menunggu anak-anaknya bangun.
****
Di lain tempat Deni pun masih tertidur pulas karena semalam dirinya lelah sekali, Deni bangun ketika matahari menyinari wajahnya di balik tirai! saat Deni membuka matanya, Deni kaget hati telah siang.
"Astagfirullah... aku kesiangan aku juga lupa memasang alarm." ujar Deni sambil bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah luar kamar.
"Baru hari ini mas pisah denganmu Lestari, mas sudah tidak bisa! bagaimana dengan seterusnya." ujarnya sambil berjalan.
Setelah solat yang kesiangan, Deni pun mandi dan bersiap-siap untuk ke lapak. Deni juga belum sempat sarapan, biarlah nanti dia sarapan di jalan.
****
Tadinya Rudi datang ke rumah Lestari, tapi gerbang rumah Lestari masih di kunci menandakan yang punya rumah masih tidur atau memang tidak berada di sana, Rudi pun mencoba bertanya kepada tetangga Lestari dan menurut tetangganya wanita yang tinggal bersama Lestari semalam pergi membawa koper bersama kedua ornagtua Lestari, makanya Rudi berbalik ke rumah orangtua Lestari.
"Reyna... Reyna..." ujarnya sambil berteriak tanpa mengucapkan salam.
Ibu yang memang saat itu sedang menyiapkan sarapan pun begitu kaget ketika mendengar ada orang yang berteriak memanggil nama Reyna di depan rumahnya.
Ibu pun langsung berjalan ke arah pintu dan langsung membukakan pintunya.
"Rudi kenapa pagi-pagi begini kau sudah berteriak?" tanya ibu.
"Mana Reyna anak kurang ajar itu." jawabnya.
"Masuk dulu Rudi, malu masih pagi-pagu Kay sudah membuat keributan." ujar ibu.
bapak yang memang mendengar ada keributan pun langsung keluar kamar dan menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Kemaren istrimu yang membuat keributan, sekarang dirimu Rudi, ada apalagi ini?" tanya bapak.
"Dimana Reyna? anak kurang ajar itu, biar aku berikan pelajaran." jawab Rudi dengan emosi.
"Mau di kasih pelajaran seperti apa hah? harusnya kau sadar Rudi apa yang terjadi terhadap Reyna itu sebagian dari kesalahanmu." ujar bapak.
"Kenapa mas malah menyalahkanku?" jawab Rudi sedikit emosi.
"Harusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, sudahkah kau layak di bilang ayah oleh Reyna yang selama ini kau abaikan? jika Reyna tidak kau abaikan dan kau duduk dengan baik dan penuh kasih sayang, Reyna tidak akan seperti ini." ujar bapak menasehati Rudi karena selama ini telah abai terhadap anaknya.
"Salahkan saja Melani yang tidak becus mengurus anaknya, bukan kah itu tugas seorang ibu?" jawab Rudi.
"Memang tugas ibunya, tapi peran kamu pun penting Rudi, sudah berapa kali mas bilang padamu tapi kau anggap angin lalu, tapi setelah Reyna seperti kau malah menyalahkannya?" ujar bapak.
"Mas tidak udah ikut campur urusan aku dengan Reyna, dia bukan anak mas." ujar Rudi dengan nada marah.
"Aku memang hanya pakdenya tapi aku lebih sayang dan mengerti dia daripada ayah kandungnya." ujar bapak kembali membentak Rudi.
"Aku tidak peduli, sekarang dimana Reyna? dia harus menggugurkan kandungannya!" uajr Rudi.
"Langkahi mayatku jika kau ingin menyakiti Reyna! sekarang kau pergi dari rumahku!" ujar bapak sambil menggrebak meja yang ada di depannya.
"Tidak akan, aku tidak akan pulang sebelum membawa Reyna pergi dari sini." ujar Rudi.
Bapak dan Rudi pun terlibat adu mulut dan hampir saja mereka berkelahi, untung saja ibu datang bersama beberapa tetangga yang laki-laki untuk membantu meleraikan mereka berdua. Tadi saat ibu tau keadaan tidak akan baik, dia pun keluar untuk mencari bantuan.
Saat ini bapak sedang di pegangi beberapa tetangganya dan tetangga lainnya mencoba mengusir Rudi.
"Ya Alloh pak istigfar!" ujar ibu sambil mengelus lengan bapak.
"Astagfirullah.." ujar bapa mencoba menenangkan dirinya.
Ibu pun berterimakasih kepada tetangganya Karen sudah membantu ketika bapak sudah mulai tenang dan duduk di kursinya.
Di balik pintu kamar, ternyata Reyna daritadi menyaksikan keributan ayah dan pakdenya tapi Reyna tidak berani menghampiri ayahnya karena takut, Reyna pun hanya bisa menangis melihat pakdenya lebih sayang dirinya daripad ayah kandung dia sendiri.
__ADS_1