This Wound

This Wound
Episode 18


__ADS_3

Setelah membantu dan merebahkan Reyna, Deni langsung berbicara kepada Reyna.


"Reyna tolong maafkan mbakmu, mungkin dia marah terhadap mas, tapi dia lampiaskan kepadamu! nanti mas bicara lagi sama mbakmu." ujar Deni.


"Iya mas, aku juga kaget mbak Lestari bisa berbuat seperti itu! padahal mbak Lestari dulu lembut tidak mudah marah, mungkin ini juga karena kesalahanku mas." ujar Reyna dengan tampan menyedihkan Sambil meneteskan air matanya. Padahal dalam hatinya dia sangat kesal, dia kira jika dia melakukan akting seperti tadi Deni akan langsung murka dan menceraikan Lestari, namun dia hanya marah depan lestari saja sedang pas sama dia, Deni malah membela Lestari.


"Sudah kamu jangan banyak pikiran, biar mas bicarakan lagi dengan mbakmu, kamu istirahat saja ya! kamu kan gak boleh lelah, nanti biar makanannya mas bawa ke kamarmu." ujar Deni.


"Baik mas." jawab Reyna sambil menghapus air matanya dan tersenyum.


Deni pun membalas senyuman Reyna.


"Ya sudah mas keluar dulu ya." ujar Deni.


"Iya mas." jawab Reyna sambil mengangguk.


Deni pun keluar dari kamar Reyna, Deni juga melewati ruangan dimana kekacauan tadi berada. Deni menyadari bahwa di sana masih berantakan, pecahan beling yang masih berserakan.


"Ya Alloh bagaimana kalau beling ini terkena kaki orang, apa lestari tak ada niat untuk membersihkannya?" ujar Deni.


Saat Deni akan berjalan ke arah kamar Lestari, Deni teringat sesuatu bahwa tadi dia sudah membentak lestari untuk pertama kalinya.


"Astagfirullah tadi aku membentaknya, apa dia sedih karena aku membentaknya? Ya Alloh tadi aku hanya refleks saja tidak ada niat untuk membentak Lestari, apalagi selama ini aku tak pernah membentaknya." batin Deni dia pun mengacak rambutnya kesal.


"Lebih baik aku rapihkan dulu ini, baru menyusul lestari, mungkin Lestari sedang di kamarnya." ujar Deni lagi sambil berjalan ke arah dapur untuk mengambil sapu dan serokan sampah untuk membuang pecahan belingnya.


Setelah selesai Deni pun berjalan menuju kamarnya dan lestari, untuk berbicara dengan Lestari, namun setelah sampai di kamar dia tidak melihat keberadaan Lestari. Deni pun mencari ke seluruh ruangan di rumahnya hingga ke teras namun lestari tidak di temukan.


" Ya Alloh sayang kamu dimana? Apa dia pergi ke rumah ibu? Tapi biasanya dia izin dulu padaku kalau mau ke rumah ibu" ucap Deni.


"Ahh... Lestari kan sedang marah padaku, mana mungkin dia bilang terlebih dahulu, lebih baik aku segera menyusulnya! aku tidak ingin ibu dan bapak tau dulu permasalahanku." ujar Deni,lalu terburu-buru berjalan keluar untuk menyusul Lestari.


Saat akan menaiki motornya, Deni menyadari bahwa makanan yang tadi dia beli masih di motor, lalu dia mengambil dan cepat-cepat menaruhnya di meja makan. Biarlah nanti Reyna makan ngambil sendiri, karena kalau harus di ambilkan itu membutuhkan waktu yang lama sedangkan dia sedang terburu-buru. Deni pun langsung saja mencap gas motornya, dia harus cepat-cepat sampai sebelum Lestari memberitahukan orangtuanya.


****

__ADS_1


Di rumah orangtua Lestari, Lestari sedang bermain dengan Lisa, setelah dia menunaikan solat magrib. Ibu yang melihat anaknya sedang murung berpikir, mungkin masalah Lestari dan Deni belum selesai! beruntung Ridwan sudah tidur, jadi Lestari bisa lebih santai saat hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ibu pun menghampiri Lestari setelah dia selesai menunaikan solat magrib.


"Kamu baik-baik saja nak?" tanya ibu kepada Lestari.


"Iya ibu aku baik-baik saja, hanya sedikit tidak enak badan." jawab Lestari.


Dia masih menutupi masalah rumah tangganya kepada ibu, bukannya tidak ingin jujur kepada ibu, hanya dia tidak ingin ibunya kepikiran dan akan membuatnya sakit.


"Ibu aku boleh menginap di sini?" tanya Lestari.


"Boleh dong sayang, tapi apa kamu sudah memberitahukan Deni?" jawab ibu.


"Belum bu, tadi aku ke sini terburu-buru! jadi belum sempet telpon mas Deni, karena kebetulan saat aku mau ke sini mas Deni sedang izin keluar." ujar Lestari.


"Baiklah, telpon dahulu kepada suamimu? kalau kamu ada di rumah ibu dan mau menginap di sini." perintah ibu.


"Iya ibu nanti aku telpon, kebetulan ponsel aku sedang habis baterainya sekarang, atau nanti juga dia ke sini ketika sadar aku gak ada di rumah! apalagi anak-anak dia titipkan di sini." ujar Lestari sambil tersenyum kepada ibunya.


"Baiklah, ibu menemui bapakmu dulu ya." ujar ibu.


Setelah melihat ibunya hilang dari pandangannya, Lestari pun menghela nafas.


"Maaf ibu aku belum bisa cerita kepada ibu, Lestari janji ketika lestari sudah tidak sanggup, maka Lestari akan limpahkan curahan hati Lestari kepada ibu, mungkin untuk saat ini akan Lestari pendam sendiri." ujar Lestari dalam hati.


Lestari pun melanjutkan bermain dengan lisa untuk mengurangi rasa sakit di hatinya.


Saat sedang asik main bercanda dengan Lisa, lestari di kejutkan dengan suara suaminya yang sedang memanggil anaknya Lisa.


"Assalamualaikum, Lisa ayah datang." ujar Deni.


Lisa yang menyadari ayahnya telah datang langsung berlari menghampiri ayahnya.


"Ayah tangkap aku!" ujar Lisa sambil berlari.


Deni pun dengan senang hati menangkap Lisa dan langsung menggendongnya.

__ADS_1


"Hore ayah dapat .. ayah dapat.." suara Lisa yang senang ketika ayahnya bisa menangkap dan menggendongnya.


Lestari yang melihatnya pun hanya diam mematung, inilah pemandangan yang di inginkan, juga pemandangan yang menyakitkan saat dirinya mengingat penghianatan suaminya.


Bagaimana nanti kalau dia dan suaminya berpisah? apakah Reyna akan mengizinkan mas Deni tetap seperti itu kepada anak-anaknya? di liat dari apa yang tadi di lakukannya, Lestari meragukan itu semua.


Lestari pun menghampiri mereka dengan raut wajah datar tidak seperti biasanya, dia yang selalu menyambut suaminya ramah dimana pun dan kapan pun.


"Kamu sudah datang mas? oh iya aku lupa izin tadi sama kamu aku juga mau menginap di sini, jadi bolehkan mas ?" tanya lestari tanpa basa basi dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Tapi sayang kita ..." sebelum Deni menyelesaikan kalimatnya, terpotong sama suara bapak yang juga baru keluar dari kamar nya bersama dengan ibu.


"Deni kamu ada di sini? napak kira hanya lestari." tanya bapak.


"Iya pak, aku baru saja datang untuk menjemput lestari dan anak-anak." jawab Deni .


Deni pun menghampiri kedua mertuanya dan langsung menyalami mereka.


"Lho bukannya Lestari dan anak-anak mau menginap?" tanya ibu.


"Ah iya ibu, kan mas Deni baru tau pas dia datang ke sini hehehe....tadi sudah Lestari bilang bu, kalau ponsel Lestari mati jadi belum menghubungi mas Deni." jawab Lestari ketika suaminya akan menjawab.


"Oh ya sudah, kamu juga mau menginap Deni? menginaplah! karena di rumah kalian sekarang ada Reyna, tidak baik kalian berdua-dua saja di rumah, nanti akan timbul fitnah." ujar ibu.


"Bukan fitnah lagi bu tapi kenyataan, karena bayi yang di kandung Reyna adalah anak mas deni, mereka menghianati aku bu." jerit Lestari dalam hati.


Ingin sekali dia mengatakan itu namun hanya mampu sampai tenggorokannya saja.


"Baik Bu, Deni menginap saja. " ujar Deni.


Karena menurutnya perkataan ibu mertuanya itu benar, walau sebenarnya memang Reyna dan dia ada hubungan istimewa.


"Ya sudah kamu temani bapak main catur saja." ujar bapak.


"Baik pak." ujar Deni.

__ADS_1


Mereka pun berjalan bersamaan ke arah ruang keluarga di rumah ibu Lestari.


__ADS_2