This Wound

This Wound
Episode 11


__ADS_3

Hari telah sore ibu Lestari pun pamit pulang kepada lestari dan juga Reyna.


Reyna juga pamit ke kamarnya karena pusing dan mual mulai datang lagi, Lestari dan ibu pun memakluminya. Lestari pun mengantar ibu sampai teras rumah, di sana sudah ada orang suruhan bapa yang di suruh menjemput ibu .


"Ibu pulang ya nay, kamu sehat-sehat ya!" ujar ibu.


"Iya ibu, ibu juga hati-hati di jalan! salam sama bapak." jawab Lestari.


"Iya nanti ibu sampaikan, em... Lestari ..." ujar ibu tertahan.


"Iya ibu kenapa?" jawab Lestari.


"Sebenernya ibu ragu mau bilang padamu tapi ibu juga gak bisa memendamnya dalam hati." ujar ibu.


"Iya ibu kenapa?" jawab Lestari lagi.


Ibu pun menghela nafasnya.


"Gini Lestari, entah kenapa dari tadi hati ibu tidak tenang setelah tau Reyna tinggal dengan mu, ibu merasa nanti akan ada sesuatu yang terjadi dalam rumah tanggamu! walau pun ini hanya perasaan ibu saja, tapi ibu harap kamu tetap hati-hati pada Reyna? firasat ibu sepertinya ada yang tidak beres dengan Reyna." ujar ibu.


Lestari pun diam, tadi pagi tetangganya yang bilang seperti itu! sekarang ibunya pun punya firasat begitu juga, hati Lestari pun jadi sedikit tak tenang, bagaimana pun juga firasat orangtua kadang ada benarnya juga.


"Iya ibu, Lestari akan hati-hati! mudah-mudahan ini hanya perasaan ibu saja ya." ujar Lestari.


"Amin, ya sudah ibu pulang ya, Assalamualaikum." ujar ibu.


Lestari pun mencium punggung tangan ibu.


"Waalaikumsalam ibu." jawab Lestari.


Lalu ibu naik ke atas motor, motor pun melaju menjauh dari rumah lestari.


Setelah melihat ibu tidak terlihat lagi, Lestari pun masuk ke rumah .


****


Deni baru sampai di rumah, lestari tidak menyambut Deni pulang seperti biasanya, mungkin sibuk dengan anak ke dua anaknya pikir Deni dia pun memakluminya.


Ketika hendak mengambil air di dapur dia berpapasan dengan Reyna yang hendak ke kamar mandi.


"Kenapa harus menghindar mas? ingat waktu mu tinggal sebulan setengah lagi!" ujar Reyna melihat Deni akan menghindarinya lagi.

__ADS_1


"Apa kamu gak kangen sama aku juga bayimu?" ujar Reyna lagi dengan tersenyum sinis.


Deni hanya mematung tanpa menjawab Reyna dia buru-buru mengambil air dan meminumnya lalu berbalik menuju kamarnya.


Ketika sudah sampai di dekat kamarnya dia mendengar ada jatuh dari arah kamar mandi.


"Tolong.." ujar Reyna dari kejauhan.


"Reyna.!" ujar Deni pelan.


Dia pun balik lagi sambil berlari ke arah kamar mandi.


"Reyna kamu kenapa?" ucap Deni panik ketika melihat Reyna sedang terduduk di kamar mandi dengan ada noda darah di bawahnya.


"Mas tolong aku terpeleset!" ujar Reyna sambil menangis dan menahan nyeri.


"Ya Alloh" ujar Deni, dengan refleks Deni langsung menggendong Reyna sambil memanggil Lestari.


"Sayang , Lestari.... Lestari...." ujarnya kencang.


Lestari yang tertidur karena habis menidurkan Ridwan pun kaget dan langsung terbangun.


"Mas Deni sudah pulang kenapa teriak-teriak?" ujarnya sambil buru-buru keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.


"Ya Alloh mas, Reyna kenapa?" tanya Lestari.


"Dia terpeleset sayang, mas gak tau harus gimana? jadi mas gendong dia dahulu." jawab Deni.


"Ya udah mas kamu bawa dia dulu ke klinik terdekat! karena kalau ke rumah sakit gak bakal keburu." ujar Lestari.


"Ya udah mas ke klinik dulu ya sayang, kamu gak apa-apa di rumah bersama anak-anak?" ujar Deni, bagaimana pun dia tidak enak pada Lestari tapi dia juga kawatir pada bayi yang ada dalam kandungan Reyna.


"Iya gak apa-apa, maaf ya Reyna mbak gak bisa nemenin kamu anak-anak gak ada yang jagain." ujar Lestari.


Reyna hanya mengangguk saja tidak mampu menjawab.


"Iya kamu baik-baik di rumah! mas pamit ya, Assalamualaikum." ujar Deni sambil berjalan sedikit terburu-buru karena menghawatirkan Reyna juga bayinya.


Lalu dia menurunkan Reyna di jok depan dengan di bantu lestari dan langsung melesat membawa Reyna ke klinik terdekat.


"Semoga Reyna dan bayinya tidak kenapa-kenapa ya Alloh." doa lestari setelah melihat mobil suaminya tidak terlihat lagi,

__ADS_1


lalu dia masuk rumah lagi.


****


Di sebuah klinik, begitu sampai Deni langsung memanggil suster jaga! suster yang jaga pun langsung membantu Deni, Deni menurunkan Reyna di ranjang di sebuah ruangan untuk segera di tangani. Beruntung dokter jaganya pun sudah standby di sana jadi Reyna langsung mendapat penanganan dari dokternya.


Setelah dokter selesai menangani Reyna dan memberi obat pada Reyna agar tertidur, Deni menanyakan keadaan Reyna dan bayinya


"Dokter gimana keadaan adik saya? dan bagaimana kandungannya?" tanya Deni pada dokter, dia pun mengaku Reyna adiknya agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Alhamdulillah baik-baik saja, kandungannya juga baik namun lemah jadi dia harus badrest selama kandungannya masih muda untuk menghindari keguguran." jawab dokter.


"Alhamdulillah, terimakasih dokter." ujar Deni pada dokter.


"Sama-sama pak, tolong lebih di perhatikan lagi adiknya." ujar dokter.


"Baik dokter." jawab Deni.


Dokter pun pergi dari ruangan Reyna berada.


"Maafkan mas Reyna, setelah ini mas janji akan menjaga anak kita." ujarnya pada Reyna.


Deni tau selama Reyna hamil Deni abai kepada Reyna karena takut lestari curiga, tapi setelah ini dia akan melakukan sesuatu agar dia bisa memperhatikan Reyna juga bayinya, karena walau bagaimana pun bayi yang di kandung Reyna adalah bayinya.


"Lestari, aku harus mengabarinya agar tidak terlalu kawatir." ujar Deni lalu merogo saku celananya namun tidak terdapat ponselnya.


"Ya Alloh ponsel sepertinya ada dalam tas dan tasnya aku taruh di kursi, karena panik aku jadi lupa untung dompet masih ada di mobil." ujarnya lalu keluar untuk mengambil dompet karena dia juga merasa lapar.


****


Di rumah Lestari tidak bisa tidur karena memikirkan Reyna, suaminya juga belum menghubunginya! di telpon pun tidak di angkat-angkat, dia ingin pergi ke klinik walau dia tidak tau klinik yang mana tapi dia akan mencari klinik terdekat, tapi jika dia pergi bagaimana dengan kedua anaknya? mau menelpon ibu pun ini sudah malam Lestari tidak enak jika harus menganggu ibunya takut sudah tidur.


Karena hatinya masih belum tenang, Lestari pun keluar kamar untuk menghubungi suaminya namun saat dia memanggil nomer suaminya terdengar suara ponsel Dari arah kursi ruang keluarga.


"Ya ampun pantas saja telpon ku gak di angkat-angkat, ternyata ponselnya ketinggalan." ujar Lestari sambil mengambil ponsel suaminya.


"Ya sudahlah, semoga semuanya baik-baik aja, nanti aku telpon ibu besok subuh- subuh saja! biar ibu bisa segera ke sini dan aku mencari klinik tempat Reyna di rawat biar tidak terlalu kawatir, aku juga mau membawakan sarapan untuk mereka." ujar Lestari pada akhirnya.


Dia pun berjalan ke arah kamarnya untuk ikut tidur dengan anaknya agar besok tidak kesiangan.


~ Maaf kemaren gak up, semoga kalian suka para pembaca. ikuti terus alur nya biar gak penasaran. ~

__ADS_1


Terimakasih. 🤗🤗☘️☘️


__ADS_2