This Wound

This Wound
Episode 32


__ADS_3

Di rumah orangtua Deni, Deni senang sekaligus gelisah ketika sudah selesai berbicara dengan Lestari di telpon.


"Lestari mau bicara apa ya? kenapa hati ini menjadi tidak tenang!" ujar Deni dalam hati.


"Apa Lestari memutuskan untuk berpisah Saha dan meminta aku untuk mentalaknya besok? ya Alloh sungguh aku tidak siap! apa aku harus melepaskan saja Lestari agar dia tidak tertekan." lanjutnya sambil menyenderkan badannya di kepala tempat tidurnya.


"Ya Alloh berilah hamba kekuatan untuk mengahadapi hari esok jika memang Lestari pada akhirnya meminta berpisah." doanya dalam hati, lalu merebahkan dirinya di atas kasur dan memejamkan matanya.


Keesokan harinya sesuai janjinya, Deni akan datang ke rumah Lestari atas perintah Lestari sendiri, Deni begitu deg degan! dirinya sedikit takut jika pada akhirnya kata talak itu terucap olehnya dan siap tidak siap dia akan kehilangan istrinya.


"Bismillahirrahmanirrahim." ujarnya sambil menyalakan motor bututnya.


Sedangkan di rumah Lestari, Lestari sibuk memasak untuk menyambut suaminya nanti.


Dia akan makan bersama terlebih dahulu baru nanti akan membicarakan kelanjutan rumahtangganya nanti bersama Deni, Lestari pun sengaja memasak makanan kesukaan Deni dengan spesial bahkan memasaknya pun sambil terus tersenyum.


"Alhamdulillah sudah siap! semoga mas Deni suka sama masakannya." ujar Lestari ketika dia sudah selesai menghidangkan makanan di atas meja makan.


"Sekarang aku harus mandi terlebih dahulu! dan melaksanakan solat, mumpung Ridwan masih tidur dan Lisa anteng bermain di kamar." lanjutnya lagi Lalu bergegas berjalan ke arah kamar dulu untuk mengambil handuk.


Setelah selesai mandi Lestari pun langsung melaksanakan solat karena takut Ridwan terbangun, dan benar saja setelah di ke kamar Ridwan menangis karena haus ingin minum susu.


Lestari pun memberikan susu Ridwan sambil menggendongnya dan mengajak Lisa untuk keluar menunggu ayahnya.


"Ayo Lisa kita tunggu ayah datang di luar!" ajaknya pada Lisa.


"Ayah mau datang ibu? hore ... hore....." ujar Lisa dengan riang karena bahagia ayahnya akan datang.


Lestari yang melihat Lisa bahagia pun langsung tersenyum.


"Maafkan ibu ya nak, yang telah memisahkan kamu dengan ayah beberapa bulan ini! ibu janji setelah ini kita akan hidup lagi bersama ayah." ujar Lestari dalam hati sambil menatap Lisa.


Setelah sampai di halaman rumah, Lestari pun mendudukkan badannya di kursi panjang yang ada di sana yang di ikuti oleh Lisa.


"Apa ayah masih lama bu?" tanya Lisa pada Lestari.


"Sebentar lagi sayang, mungkin ayah sedang terjebak macet." jawab Lestari.


"Oh gitu." ujar Lisa sambil melirik-lirik ke arah pagar, menunggu ayahnya.


Setelah lima belas menit menunggu akhirnya suara motor Deni pun terdengar, Lisa yang mendengar bahwa Deni sudah datang pun langsung berteriak senang.

__ADS_1


"Hore.... hore.... ayah datang." ujarnya sambil berlalu membukakan pintu gerbangnya.


Deni yang melihat Lisa membukakan pintu gerbangnya pun tersenyum.


"Terimakasih anak ayah." ujar Deni.


"Sama-sama ayah." jawabnya.


Deni pun memarkirkan motornya di halaman rumah Lestari dan langsung memberi salam kepada Lestari juga Ridwan.


"Assalamualaikum ibu anak-anak dan jagoan ayah." ujar Deni.


"Waalaikumsalam mas, ayo mas langsung masuk saja." jawab Lestari.


"Baiklah." ujar Deni sambil mengekor pada Lestari.


"Mas kita langsung makan aja ya! aku sudah masak ko." ajak Lestari.


"Iya." jawab Deni.


Mereka pun berjalan ke arah ruang makan, setelah sampai Deni terdiam melihat hidangan makanan di atas meja, apa ini tidak salah? bukankah makanan ini semua adalah makanan kesukaannya? Deni pun melirik ke arah Lestari dan menatapnya.


"Kenapa mas? ayo kita makan!" ujar Lestari ketika sadar Deni sedang menatapnya.


"Iya mas aku sengaja, ya sudah ayo mes nanti keburu dingin makanannya!" jawab Lestari.


Deni pun tersenyum tapi deg.....


"Apa Lestari sengaja ingin memasakkan aku untuk yang terakhir kalinya?" pikiran buruk kini tengah menghantuinya.


"Astagfirullah." ujarnya dalam hati sambil memejamkan matanya dan menghela nafasnya.


Lestari yang melihat Deni menghela nafasnya sambil memejamkan mata pun bertanya.


"Kamu kenapa mas?" tanyanya.


"Tidak apa-apa ko, hehe..." jawab Deni sambil mendudukkan dirinya di kursi yang di ikuti oleh Lisa yang duduk di sampingnya.


"Aku duduk dekat ayah saja, aku juga mau di siapin sama ayah!" ujar Lisa.


"Sayang makan sendiri ya! kasian ayah." ujar Lestari.

__ADS_1


"Gak apa-apa mas suapi Lisa saja! hanya sesekali." jawab Deni.


Lestari pun langsung diam dan mengangguk, Ridwan juga anteng duduk di pangkuan Lestari.


"Hore....." ujar Lisa senang.


Deni pun tersenyum dan mulai menyendok kan nasi beserta lauknya, dia pun mulai makan yang sebelumnya telah baca doa terlebih dahulu. Saat makanan masuk ke mulutnya dia begitu meresapi masakan yang Lestari buat, masih sama rasanya begitu enak! Deni sangat rindu masakan Lestari ini yang jadi masakan kesukaannya, Deni pun menyuapi Lisa juga karena Lisa sudah memintanya.


"Hem..... enak sekali masakan ibu." ujar Lisa yang membuat Lestari tersenyum.


Setelah selesai masak Lestari pun menyuruh Deni untuk menunggunya bersama anak-anak di ruang keluarga karena ada yang harus dia bicarakan tentunya setelah dia selesai merapihkan bekas makan bersama mereka, Deni pun menurut dia membawa kedua anaknya ke ruang keluarga.


Setelah selesai, Lestari pun menghampiri suami dan anak-anaknya di ruang keluarga, saat sampai di sana Lestari melihat Lisa yang sedang memainkan mainannya dan Ridwan yang sedang deni tidurkan di atas karpet sambil Deni ajak bicara.


"Mas!" panggil Lestari.


"Iya." jawab Deni.


"Mari kita duduk! biarkan anak-anak bersama di situ sambil kita awasi." ujar Lestari.


Deni pun mengangguk dan menghampiri Lestari.


"Jadi kamu mau bicara apa sama mas Lestari?" tanya Deni dengan jantung yang begitu berdebar karena takut prasangka buruknya akan terjadi.


"Hem..... gimana ya mas aku juga bingung awalnya harus bicara apa?" jawab Lestari.


Deni pun menghela nafasnya.


"Apa sekarang waktunya kamu meminta mas untuk benar-benar berpisah? sungguh mas tidak ingin berpisah denganmu Lestari! mas mencintamu dan menyayangimu, tapi jika berpisah membuat kamu bahagia mas bisa apa." ujar Deni memberanikan diri untuk membicarakannya terlebih dahulu.


"Bukan begitu mas..... sebenernya a....ku ngajak mas bicara karena aku mau....." ujar Lestari terhenti karena dirinya merasa deg degan juga sedikit malu kepada Deni.


"Aku kenapa Lestari?"


Lestari pun tersenyum.


"Aku sudah membuat keputusan bahwa dari hari ini mas sudah boleh tinggal di sini bersama anak-anak kita." ujar Lestari pada akhirnya.


"APA!" ujar Deni kaget.


"Apa mas gak salah dengar Lestari?" tanya Deni sambil menghampiri Lestari dan memegang pundak Lestari.

__ADS_1


"Iya mas, mas gak salah dengar! mari kita Hidup bersama lagi memulainya dari awal, kita harus memperbaiki diri kita bersama-sama." jawab Lestari sambil tersenyum menatap Deni.


"Terimakasih sayang " ujar Deni langsung memeluk Lestari sambil meneteskan air matanya karena merasa terharu.


__ADS_2