
"Gak usah sungkan mas! kamu hanya perlu jawab jujur saja agar aku tidak penasaran lagi." ujar Reyna tatkala Deni tak kunjung menjawab dan hanya menundukkan wajahnya.
Deni pun mengangkat wajahnya lalu menatap Reyna dan menghela nafasnya.
"Maaf Reyna sepertinya waktu itu aku hanya sedang di penuhi nafsu hingga mengatakan cinta terhadapmu! walau ku akui setelah itu ada sedikit rasa terhadapmu namun lenyap begitu saja ketika aku menyadari bahwa aku takut kehilangan Lestari dan lebih mencintainya." jawab Deni.
"Maafkan aku Reyna, semoga kamu mengiklankan aku yang kembali dengan Lestari." lanjutnya lagi.
Deg.....suara detak jantung Reyna walaupun awalnya Reyna menggoda Deni karena uangnya tidak di pungkiri juga lama kelamaan dia jatuh cinta terhadap Deni.
Tes.... air mata Reyna menetes tanpa di cegah.
"Baiklah, terimakasih atas kejujuranmu mas! aku sekarang sudah lebih lega mendengar jawabanmu, semoga rumahtangga mas dengan Lestari bahagia kembali, ingat jangan melakukan hal yang sama dengan menyakiti mbak Lestari lagi! atau aku sendiri yang akan menghancurkan mas Deni." ujar Reyna dengan sedikit senyuman.
"Iya aku Janji, Terimakasih." ujar Deni.
Tanpa Deni dan Reyna sadari, di sana di balik jendela Lestari mendengarkan pembicaraan mereka! walau jujur saja dalam hatinya ada sedikit rasa nyeri di hatinya, tapi dia lega dengan jawaban suaminya dan respon Reyna. Lestari pun tersenyum dan kembali melangkah masuk ke dalam rumah orangtuanya, biarlah Reyna dan Deni berbicara tanpa harus dia awasi.
"Ya sudah mas, masuk gih sana! kebetulan aku mau ke depan dulu jalan santai." ujar Reyna.
"Iya kamu hati-hati di jalan." jawab Deni.
Reyna pun tersenyum dan bangkit dari duduknya berjalan pergi untuk jalan santai pagi hari seperti saran dari bidan.
Deni yang melihat Reyna telah pergi pun masuk ke dalam rumah mertuanya.
"Assalamualaikum." ujar Deni ketika sampai di ruang keluarga dimana ada bapak, ibu dan Lestari.
"Waalaikumsalam." jawab mereka berbarengan, lalu Deni menghampiri bapak dan ibu untuk mencium tangan mereka.
"Kamu apa kabarnya Deni?" tanya ibu.
"Alhamdulillah ibu aku baik." jawab Deni.
"Syukurlah." ujar ibu.
"Mas kamu sudah selesai bicara dengan Reyna?" tanya Lestari.
__ADS_1
"Sudah sayang." jawab Deni sambil tersenyum.
"Terus Reyna nya kemana mas sekarang?" tanya Lestari lagi.
"Mungkin dia langsung pergi jalan santai seperti biasa dia lakukan di pagi hari nak!" bukan Deni yang menjawab melainkan ibu.
"Oh." ujar Lestari.
"Ehem..... jadi gimana hubungan kalian sekarang?" tanya bapak kali ini.
"Alhamdulillah pak Lestari dan mas Deni memutuskan untuk kembali lagi." jawab lestari sambil tersenyum dan merangkul Deni.
"Dan kamu Deni?" tanya bapak.
"Ba..." ujar Lestari terhenti ketika Deni memegang tangannya, agar membiarkan dirinya yang menjawab pertanyaan bapaknya.
"Bapak, ibu pertama Deni datang ke sini untuk meminta maaf atas kesalahan Deni pada Lestari dan anak-anak! dan yang ke dua Deni juga ingin meminta izin kepada ibu dan bapak untuk kembali bersama Lestari dan anak-anak, Deni janji mulai saat ini akan fokus membahagiakan mereka! Deni tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dan yang ke tiga Deni ingin berterimakasih kepada bapak dan ibu telah menjaga istri dan anak-anak Deni." jawab Deni membuat Lestari tersenyum dan mengusap lengan Deni yang sedang dia pegang.
Bapak pun menghela nafasnya.
"Baik pak saya janji." jawab Deni.
****
Kini Reyna sedang jalan sendiri, di sepanjang jalan Reyna hanya bisa melamun memikirkan nasibnya dan anaknya kelak! tidak mungkin kan selamanya dia menumpang di rumah budehnya. Apalagi sekarang para tetangga sudah mulai menguning budeh karena tahu kalau Reyna sedang mengandung.
"Maafkan mamah ya sayang, karena keegoisan mamah kamu terlahir tanpa seorang ayah." ujar Reyna pada bayi yang ada di dalam kandungannya sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.
Namun tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang mencekalnya, Reyna pun melirik ke arah tangannya siapa gerangan yang menghentikan langkahnya.
"Ayah..." ujar Reyna ketika dia melihat orang yang menghentikan jalannya adalah Rudi sang ayah.
"Reyna bisakah kita bicara?" tanya Rudi.
Reyna bingung dia sedikit takut terhadap ayahnya, tapi mau menolak pun juga takut ayahnya semakin marah padanya.
"Baiklah ayah di sana!" jawab Reyna ketika melihat kursi untuk mereka duduk dan tempatnya sedikit ramai agar dia bisa lebih hati-hati jika ada hal yang tidak di inginkan terjadi.
__ADS_1
"Baiklah." ujar Rudi, kaku keduanya berjalan menuju arah kursi.
Setelah mereka duduk awalnya hanya di isi dengan keheningan dan pada akhirnya Reyna memberanikan diri untuk bertanya terlebih dahulu.
"Ayah mau bicara apa?" tanyanya pada Rudi degan raut wajah sedikit taku.
Rudi pun menghela nafasnya.
"Reyna maafkan ayah.... waktu itu ayah sedang khilaf hingga mendatangi di rumah budeh dengan keadaan marah, maafkan ayahmu ini Reyna! benar kata pakdemu semua yang terjadi terhadapmu adalah kesalahanku juga yang tidak bisa menjagamu." ujar Rudi sambil menangis.
Reyna yang mendengar ayahnya meminta maaf sambil menangis pun ikut meneteskan air matanya.
"Apakah ayah benar-benar memaafkan aku dan menerima aku dengan keadaan sepeti sekarang?" tanya Reyna sambil menatap ayahnya.
"Iya Reyna, ayah minta maaf! mari kita hidup bersama kembali, tidak enak jika kamu terus menumpang dengan pakdemu." jawab Rudi.
Reyna pun senang kini ayahnya telah menerima dirinya.
"Baiklah ayah, nanti akan aku sampaikan kepada pakde." ujar Reyna sambil memeluk ayahnya.
"Tapi kamu sudah memaafkan ayah kan?" tanya Rudi.
"Iya ayah aku sudah memaafkanmu." jawab Reyna sambil tersenyum.
"Kalau begitu ayo ayah kita ke rumah pakde! pakde pasti senang adiknya sudah mau menerima aku." ajak Reyna.
"Tidak nak, ayah nanti saja sore sekalian menjemputmu ya, sekarang ayah sedang ada sedikit urusan." jawab Rudi.
"Yahh.... ya sudah ayah tidak apa-apa, nanti aku akan bilang saja dahulu kepada pakde." ujar Reyna.
"Ya sudah ayah pergi dulu ya, kamu pulangnya hati-hati! ayah sangat menyayangimu." ujar Deni sambil memeluk Reyna.
"Iya ayah, ayah juga hati-hati." ujar Reyna.
Rudi pun pergi dari hadapan Reyna, betapa senangnya Reyna sekarang kini di saat dirinya mengiklankan semua yang terjadi dia mendapatkan kebahagian dengan ayahnya yang bisa menerimanya, lantas dia pun buru-buru pulang ke rumah pakde untuk menceritakan semua ini dan meminta izin untuk kembali ke rumah orangtuanya.
Tanpa Reyna sadari padahal ini adalah awal dari keburukannya karena sang ayah tadi hanya berakting untuk meminta maaf padanya agar memuluskan rencananya.
__ADS_1