This Wound

This Wound
Episode 25


__ADS_3

"Mau bicara apa mas?" tanya Lestari kepada Deni ketika meraka sampai di kamar.


"Tidak, bolehkah mas peluk kamu saat ini?" jawab Deni.


"Setidaknya sebelum kita berpisah." ujar Deni ketika Lestari tidak menjawab permintaannya.


"Baiklah mas, sini!" ujar Lestari sambil merentangkan tangannya.


Mereka pun berpelukan, mau Deni atau pun Lestari sama-sama menangis.


"Maafkan mas sayang, maaf!" ujar Deni.


Lestari pun mengangguk sambil terus menangis dan memeluk Deni untuk menumpahkan rasa sesak di dadanya, sebentar lagi mereka akan berpisah.


"Mas janji, mas akan berjuang hingga kamu mau memaafkan mas dan kembali kepada mas, biarkan mas menerima hukuman ini dengan berpisah denganmu terlebih dahulu! tunggu mas ya sayang!." ujar Deni di sela Isak tangisnya.


Lestari hanya mengangguk, dia tak mampu menjawab perkataan suaminya, sungguh dalam lubuk hatinya yang terdalam dia begitu mencintai dan menyayangi Deni, dia tidak ingin berpisah dengan Deni! namun dia juga harus melihat perjuangan Deni terlebih dahulu agar Deni tidak melakukan kesalahan yang sama.


Setelah puas menumpahkan tangis mereka, Deni dan Lestari pun melepas pelukan mereka, Deni menghapus air mata Lestari dan tersenyum.


"Jangan menangis tersenyumlah!" ujar Deni sambil mengusap air mata Lestari di pipinya.


"Jaga dirimu baik-baik ya! dan jaga anak kita juga! mas harus menjalani hukuman mas dengan berpisah denganmu sebagai penebusan atas doa yang pernah mas lakukan." ujarnya lagi.

__ADS_1


"Sekarang mas harus siap-siap dulu, mas tidak akan menuntut apa pun! mas hanya akan membawa pakaian mas sendiri, mungkin mas akan pulang ke rumah peninggalan orangtua mas dulu! mas janji akan tetap menjalankan usaha kita yang nantinya akan mas setor kepadamu, mas akan terima berapa pun upah yang akan kamu berikan." ujar Deni sambil mengelus kepala Lestari.


"Mau aku bantu mas? dan maaf kamu harus pergi dari rumah kamu sendiri." ujar Lestari sedih.


"Boleh, tidak apa-apa! rumah ini memang hakmu." jawab Deni.


Deni pun merapihkan semua bajunya ke dalam koper besar miliknya yang di bantu Lestari.


Setelah selesai merapihkan semua baju Deni, mereka pun keluar dari kamar bersama dengan mata yang sama-sama memerah karena habis menangis.


"Kalian sudah selesai bicaranya?" ujar bapak kepada Deni dan Lestari, bapak juga bisa melihat jejak air mata di wajah Lestari dan Deni.


"Sudah pak." jawab Deni.


"Ya sudah tidak apa-apa, semoga semua ini bisa membuatmu menjadikannya pelajaran untuk tidak melakukan sesuatu karena nafsu!." ujar bapak.


"Iya pak, terimakasih atas kebaikan bapak dan ibu selama ini yang menerimaku apa adanya." bapak hanya mengangguk saja.


Sebenernya bapak juga sedih telah kehilangan menantunya yang begitu baik, tapi bapak bisa apa lagi? ini jalan yang anaknya pilih.


"Dan untuk kamu Reyna, maafkan aku juga yang tidak bisa menikahimu!" ujar Deni.


"Semoga kamu nanti bertemu dengan laki-laki yang mau menerimamu." ujarnya lagi.

__ADS_1


Reyna hanya menundukkan kepalanya ke bawah, dia tidak berani menjawab karena toh Deni juga sekarang sudah tidak memiliki apapun.


"Saya pergi sekarang ya pak, Lestari salam untuk ibu dan juga anak-anak." ujar Deni sambil menyalami bapak dan berlalu pergi dengan menyeret koper miliknya.


Setelah Deni pergi Lestari pun bangkit dan pamit kepada bapak.


"Aku samperin ibu sama anak-anak ya pak." ujarnya.


"Baiklah nak silahkan, mereka sedang di kamar Lisa." jawab bapak.


Lestari pun pergi ke arah kamar Lisa berada.


"Lihatlah Reyna, ini akibat dari kamu merayu suami sepupumu sendiri! tidak ada yang bahagia bahkan untuk dirimu sendiri, bahagia itu hanya sesaat di awal saja tapi berakhir dengan kehancuran untuk diri kita sendiri jika kita merebut kebahagiaan orang lain." ujar bapak kepada Reyna ketika dia melihat Lestari sudah masuk ke dalam kamar Lisa.


"Maaf pakde." hanya itu yang mampu keluar dari mulut Reyna.


"Jadikan ini pelajaran untukmu, jangan sampai nanti kamu melakukan hal yang sama kepada orang lain! ingat bagaimana masih anakmu kelak." ujar bapak.


"semoga kamu nanti mendapatkan jodoh yang baik, yang mau menerimamu apa adanya! kamu cantik Reyna dan masih muda juga, jangan sia-sia itu semua hanya karena rasa iri dan nafsu." lanjut bapak.


Reyna hanya diam saja, dia tidak tau harus bagaimana? mau menjawab pun dia takut salah berkata, apalagi budeh pakdenya begitu baik, walau dirinya telah menyakiti anak mereka tapi mereka masih mau menerimanya untuk tinggal bersama mereka.


"Terimakasih pakde." ujar Reyna pada akhirnya memberanikan untuk menjawab perkataan panjang lebar dari pakde.

__ADS_1


__ADS_2