This Wound

This Wound
Episode 21


__ADS_3

"Apa yang kamu maksud dengan perkataanmu Melani? tolong jelaskan?" tanya bapak.


"Menantumu Deni telah menghamili anakku Reyna mas, dan kamu tau? Lestari pun sudah mengetahuinya, tapi mereka menyembunyikan semuanya dari kalian karena mereka tidak mau bertanggungjawab, lalu aku harus gimana mas? apa aku harus diam saja, sedangkan masa depan anak ku telah dia rusak." ujar melani


"Apa katamu?" tanya bapak kaget.


Lestari hanya bisa memejamkan matanya.


Begitu juga Daniel, dia tau cepat atau lambat, mertua nya akan tau semua ini. Tapi Deni berharap caranya bukan seperti ini.


"Apa yang di katakan Melani itu benar Deni, Lestari?" tanya bapak.


Lestari dan Deni hanya diam saja, apalagi Deni dia hanya bisa menundukkan kepalanya ke bawah.


" jawab Deni? bukan hanya diam saja." ujar bapak dengan amarah.


"Maaf pak." hanya itu jawaban dari Deni.


"Jadi itu benar?" ujar bapak sambil menghampiri Deni.


Plak.. plak...plak..


Suara tamparan bapak berkali-kali di pipi Deni. Membuat semua orang yang melihatnya menutup mulut, Lestari diam saja tidak membela Deni.


"Kurang ajar, berani sekali kau menyakiti putriku? kurang apa Lestari selama ini hah? bukankah sudah ku bilang, jika kau sudah tidak mencintainya, kau kembalikan dia padaku, bukan malah kau menyakiti hatinya." ukar bapak dengan nada tinggi.


"Maaf pak, waktu itu Deni khilaf! Deni sangat mencintai lestari pak." ujar Deni sambil berlutut dan menangis.


"Jika kau mencintainya, kau tidak akan menyakitinya! apalagi kau sampai menghamili sepupu Lestari sendiri." ujar bapak.


"Kau ceraikan anakku, aku tidak sudi anakku kau madu." ucap bapak lagi.


Lestari yang mendengar ucapan bapaknya, hanya memejamkan matanya, perih itulah yang dia rasakan saat ini.


"Tidak pak, aku mohon! jangan pisahkan aku sama lestari, aku tau aku salah tolong hukum aku saja tapi jangan pisahkan aku dengan Lestari, sungguh aku sangat mencintainya! aku tak sanggup kehilangannya pak." ujar Deni sambil terus berlutut dan menangis.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan anakku Deni? jika kamu tidak bercerai dengan Lestari, bagaimana dengan nasib anakku?" ujar Melani marah.


"Iya benar, lalu bagaimana dengan Reyna hah? jika kamu tidak bercerai dengan Lestari." tanya bapak.


"Aku akan bertanggung jawab pak, sampai Reyna melahirkan, aku akan menceraikannya ketika dia sudah melahirkannya." ujarnya pada bapak.


"Tidak bisa, kau pikir anakku ini apa hah?" ujar Melani.


"Dia yang terlebih dahulu menggoda ku Tante, jadi jangan salahkan aku saja! salahkan dia juga, ini resikonya jika dia menggoda suami orang." ujar Deni.


Walau awalnya dia akan bertanggung jawab dan menikahi Reyna dengan tulus dan berjanji akan menjaganya, tapi jika di hadapkan dengan kehilangan lestari, dia memilih lestari.


"Kau.. jika kau orang baik, mau orang menggoda pun kau tidak akan tergoda?" ujar Melani.


Ketika Deni mau menjawab lagi, bapak menyela Deni dengan berkata.


"CUKUP... Kau harusnya bukan memohon kepadaku Deni, tapi kau harus memohon kepada Lestari! di sini aku akan selalu mendukung apa pun keputusan Lestari." ujar bapak.


Deni pun melirik Lestari, yang sedari tadi hanya diam saja.


"Maaf mas, seperti aku memilih mundur dari pernikahan kita." ujar lestari mantap.


"Tuh kamu dengar sendiri, anakku memilih untuk mundur dari pernikahan kalian jadi silahkan ceraikan anak ku! kalau kau tidak mau, baik biar aku saja yang menggugat cerai ke pengadilan." ujar bapak.


Deni yang mendengar Lestari menjawab seperti itu pun, langsung menghampiri istrinya dan berlutut di hadapan istri nya.


"Lestari mas mohon, jangan hukum mas dengan perpisahan." ujar Deni,m masih dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Lestari memundurkan badannya, Lestari pun melihat ibunya yang sedang memijat kepala nya, langsung menghampirinya tanpa menghiraukan Deni yang sedang berlutut padanya.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya Lestari.


"Bolehkah ibu minta antarkan ke kamar nak?" tanya ibu.


"Baik ibu, boleh! ayo lestari bantu ibu." jawab Lestari.

__ADS_1


Deni yang melihat lestari akan pergi pun mencoba untuk mengejar lestari, namun bapak menghalanginya.


"Silahkan kau pergi dari rumahku, kau sudah tak ku anggap menantuku lagi." ujar bapak tegas.


Tapi pak, aku masih suami Lestari." ujar Deni tak terima.


"Sebentar lagi adalah mantan," jawab bapak.


"Pak, Deni mohon?" ujar Deni mengiba pada mertua laki-lakinya.


"Tidak, pergi ah kau Deni! dan kamu Reyna, pakde kecewa padamu, padahal mbak mu begitu baik terhadapmu, malah kau sudah dia anggap saudara kandung nya sendiri tapi apa ini balasan mu? pakde berdoa semoga saja tidak ada karma dalam perbuatanmu?" ujar bapak.


"Kalian pergilah dari rumah ku, termasuk kau Melani?" ujar bapak lagi.


"Baik aku akan pergi, aku datang ke sini hanya butuh tanggung jawab dari Deni." ujar Melani sambil menarik Reyna yang ketakutan saat bapak berbicara tadi.


"Jadi kenapa kamu masih diam saja? Sudah ku bilang kau pergi dari rumahku?" ujar bapak pada Deni, ketika melihat Deni masih diam saja.


"Pak...." ucap Deni, namun tertahan karena bapak sudah menyela omongan nya.


"Jangan membantah Deni!" ujar bapak dengan keras.


"Baiklah pak, saat ini aku pergi! tapi besok aku akan kembali lagi, semoga bapak bisa memaafkan aku." ujar Deni.


Lalu berlalu pergi dari rumah mertuanya.


Bapak hanya diam saja, Bahkan ketika Deni mengucapkan salam.


Setelah bapak melihat Deni sudah pergi, bapak menghampiri Lestari dan istrinya, yang berada di kamarnya.


Ketika sampai, dia melihat anak dan istrinya sedang menangis sambil berpelukan. Mungkin lestari sedang menuntaskan kesedihannya kepada istrinya setelah cukup lama dia pendam sendiri. Bapak sedih, dia kecewa dengan dirinya sendiri karena menganggap bapaknya tidak bisa menjaga putrinya sendiri.


"Maafkan bapak nak," ujarnya.


Bapak pun pergi dari sana. Dia ingin memberikan waktu kepada ibu dan anak itu, untuk berbicara berdua saja, agar bisa saling menguatkan.

__ADS_1


__ADS_2