This Wound

This Wound
Episode 15


__ADS_3

Terdengar adzan Dzuhur berkumandang di mesjid, lestari pun segera bangun! apa dia begitu lelahnya? sampai dia tidur pulas sekali.


Begitu dia bangkit dari tidurannya, Lestari baru menyadari bahwa kedua anaknya sudah tidak ada di sebelah. Lestari pun buru-buru keluar dari kamarnya takut anaknya bermain ke jalanan, dia juga tadi lupa apa sudah mengunci pintu rumah atau belum. Benar saja dugaannya, pintu rumahnya terbuka sedikit, Lestari pun sedikit berlari karena takut anaknya kenapa-kenapa, hatinya begitu panik tak karuan. Namun saat dirinya akan membuka pintu lebih lebar lagi, terdengar suara gelak tawa sang anak dengan ayahnya. Lestari pun mengintip dari celah pintu, Deni sedang menggendong Ridwan sambil berlari mengejar Lisa sang kaka, hatinya begitu teriris melihatnya, haruskah dia memisahkan kebahagian anaknya? atau kah dirinya bertahan dengan resiko dia harus rela di madu? tidak cuma berbagi harta namun berbagi raga dan hati suaminya, sanggupkah dia menjalaninya? karena setelah Deni menikah lagi iklas tidak iklas Deni pun harus membagi waktunya.


Karena bagaimanapun Deni harus bertanggung jawab terhadap Reyna yang sekarang sedang mengandung darah daging Deni.


Lestari pun kembali ke kamarnya, lebih baik dia melaksanakan solat terlebih dahulu, dia juga merasa enggan untuk bertemu dengan Deni maupun Reyna sendiri.


****


"Ya Alloh aku serahkan semua apa yang terjadi terhadap rumah tanggaku kepadamu, karena engkau maha segalanya! engkau yang paling tau apa yang terbaik untuk hamba mu ini, ya Alloh berikanlah hamba kekuatan untuk menjalani ini semua, berilah hamba jalan apa yang harus hamba ambil langkahnya! Amin ya Alloh ya Robbi." doa Lestari sehabis dia solat.


Lestari pun bangkit merapihkan peralatan solatnya, lalu duduk di sofa yang ada di kamarnya.


Setelah habis berdoa Lestari seperti mendapat ketenangan dalam hatinya, dia juga merasakan seperti ada arahan dalam hatinya untuk mengambil keputusan yang penting untuk kelangsungan rumah tangganya.


Ya jika di pikir-pikir Lestari akan mencoba untuk bertahan bersama Deni, dia ingin melihat perjuangan suaminya untuk menyelesaikan masalahnya dengan seperti apa? jika nanti dia sudah tidak sanggup dia akan mundur dengan sendirinya.


****


"Assalamualaikum." ujar Deni.


"Waalaikumsalam, lho Deni! " jawab ibu mertuanya.


Ya Deni sekarang sedang di rumah mertuanya untuk menitipkan anak-anaknya hari ini saja sampai nanti malam tanpa sepengetahuan istrinya, dia nanti akan menjemput lagi.


Deni perlu berbicara bertiga dengan istrinya juga Reyna.


"Iya ibu, maaf jika Deni mengganggu!" ujar Deni kepada mertuanya sambil mencium punggung tangannya.


"Tidak apa-apa, ayo masuk, maaf tadi ibu pulang buru-buru tanpa menunggu Reyna, A

__ADS_1


ayahmu lagi ada perlu sama ibu tapi sekarang sudah selesai! oh iya bagaimana dengan Reyna?" tanya ibu.


"Iya ibu tidak apa-apa, Alhamdulillah Reyna baik-baik saja, hanya tidak boleh banyak bergerak karena kandungannya lemah! Ibu bolehkah Deni minta tolong?" jawab Deni dengan hati-hati.


Ibu pun tersenyum


"Boleh nak, selama ibu bisa! memang mau minta tolong apa?" tanya ibu.


"Begini Bu, sebenernya Deni ada sedikit masalah dengan Lestari, deni ingin berbicara serius berdua dengannya! bolehkah Deni menitipkan anak-anak Deni sampai malam? nanti jika sudah selesai Deni akan menjemput mereka." jawab Deni.


"Ya Alloh, pantas saja tadi pagi wajahnya murung seperti habis menangis, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, ya sudah gak apa-apa nak, biar cucu-cucu ibu bersama ibu di sini, Ayahmu juga pasti senang! kamu selesaikanlah masalahmu dengan Lestari! ibu hanya bisa berdoa semoga masalah kalian cepat selesai." ujar ibu.


"Iya ibu, terimakasih." jawab Deni.


Deni pun langsung berpamitan kepada ibu ketika ibu menjawab bersedia di titipkan anak-anak pada dirinya.


Deni bahagia dia begitu beruntung mempunyai mertua sebaik ibu Lestari yang tidak pernah ikut campur masalah rumah tangga anaknya. Deni tau pasti mertuanya akan marah besar jika nanti mengetahui kebusukannya.


****


Setelah mencari ke setiap ruangan di rumahnya lestari tidak juga menemukan keberadaan suami dan anak-anaknya, bahkan di teras rumah dan juga kamar Lisa.


"Kemana mereka? apa mas Deni membawa mereka bermain keluar?" ujar Lestari dalam hati .


"Ya sudahlah lebih baik aku memasak. " ujar Lestari pelan.


Dia pun berjalan menuju arah dapur, namun begitu sampai di ruang makan yang dia lewati Lestari di buat terkejut lagi, di sana sudah tersedia berbagai macam lauk pauk dan sayur.


Lestari pun menghentikan langkahnya lalu menghela nafas.


"Huh mungkin mas Deni sengaja membelikannya, ya sudahlah aku tunggu di ruang keluarga aja sambil menonton televisi." ujar Lestari sambil berjalan menuju ruang keluarga.

__ADS_1


Lestari pun mendudukkan pantatnya di atas sofa, Lalu menyalakan televisi dengan volume kecil, namun dia tidak menyadari kalau Reyna sekarang menghampirinya.


"Mbak boleh kah kita bicara?" tanya Reyna.


Ketika Lestari sadar bahwa ada Reyna na di sana dia pun mematikan televisinya.


"Aku sedang tidak ingin di ganggu." jawab Lestari.


"Sebentar saja mbak." ujar Reyna dengan nada memohon.


Lestari pun menghela nafasnya .


"Baiklah hanya sebentar, kamu duduklah!" ujar Lestari.


Walau dia marah terhadap sepupunya itu tapi dia tau keadaan kandungan Reyna sekarang lemah, dia hanya tidak ingin Reyna kenapa-kenapa saat sedang tinggal di rumahnya.


"Mbak sekali lagi aku minta maaf." ujar Reyna, sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu melakukannya? apa aku pernah menyakiti dirimu Reyna? " tanya Lestari pada akhirnya.


"Kamu tidak salah mbak, hanya aku iri terhadapmu mbak, selain kamu mempunyai orangtua yang menyayangimu kamu juga mempunyai suami yang begitu mencintai mbak! sedangkan aku mbak, orangtua kandungku sendiri pun tidak peduli dengan diriku, mereka hanya membutuhkan uangku saja, itulah kenapa aku bisa tertarik terhadap suami mbak." jawab Reyna.


"Kamu hanya kurang pandai bersyukur Reyna, orangtuamu bukan tak menyayangimu. Mungkin mereka hanya sedang khilaf terhadapmu." ujar Lestari.


"Tidak mbak, semua itu mustahil! mbak bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Reyna .


"Katakan apa mau mu?" jawab Lestari.


"Aku mohon mbak lepaskan mas Deni! mbak jangan egois tolong pikirkan aku dan juga anak yang aku kandung, kalau Mbak berpisah, mbak masih mempunyai budeh dan pakde! sedangkan aku mbak, aku hanya bergantung pada mas Deni, lagian mas Deni bilang dia sudah bosan terhadap mbak yang melayani di ranjang hanya begitu-begitu saja, tidak ada sensasinya." ujar Reyna dengan tak tahu dirinya


"Hah..." balas lestari dengan tersenyum sinis. Apa dia tidak salah dengar Reyna mengatakan dirinya egois? bukankah di sini yang egois adalah dirinya sendiri. Lestari tidak menyangka sepupu yang dia anggap adik kandung dirinya sendiri berani berkata seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2