This Wound

This Wound
Episode 30


__ADS_3

Setelah selesai makan bersama, Lestari menyuruh Deni menunggu terlebih dahulu karena Lisa dan Ridwan belum mandi, Dia ingin memandikan anak-anak terlebih dahulu karena hari sudah sore.


Deni pun menurut, sesuai perintah Lestari dia menunggu di ruang tamu. Sambil menunggu Lestari Deni pun melihat-lihat dinding dimana di sana terletak foto kebersamaannya dengan istri dan anak-anaknya, dari saat mereka sebelum menikah sampai setelah mempunyai Ridwan Lestari selalu mengabadikan momennya, Deni senang Lestari tidak merubah semuanya! Lestari tetap memasang foto dirinya, padahal bisa saja Lestari menurunkan foto dirinya dengan Lestari saat mereka belum mempunyai anak! tapi Deni juga sedih kini akibat dari kesalahan dan kekhilafannya dia kehilangan kebersamaannya dengan istri dan anaknya.


"Maaf mas kamu jadi menunggu terlalu lama!" ujar Lestari saat sampai di ruang tamu dan melihat Deni sedang melihat foto keluarga mereka.


"Iya tidak apa-apa." jawab Deni dengan tersenyum lalu dia pun mendudukkan badannya di sofa yang diikuti oleh Lestari.


"Oh iya mas mau bicara apa?" tanya Lestari.


"Ini mas ingin melaporkan pendapatan usaha kita juga pengeluaran di bulan ini, Alhamdulillah bulan ini kita mendapatkan keuntungan yang lebih banyak daripada bulan sebelumnya." jawab Deni.


"Alhamdulillah mas." ujar Lestari.


Deni pun menjelaskan dengan rinci tentang keuangan usaha mereka dengan sabar, dia juga memberikan pendapatan mereka kepada Lestari seluruhnya.


"Apa mas sudah mengambil bagian mas?" tanya Lestari.


"Belum, mas menyerahkan semuanya kepadamu! berapa pun nilai yang kamu berikan akan mas terima, yang penting kamu juga memberikan Reyna sebagai tanggung jawab mas, maaf!" jawab Deni.


"Baiklah mas, kalau untuk Reyna aku bisa mengaturnya tapi untuk kamu mas, aku bingung! aku harus memberikan kamu berapa? karena di sini yang bekerja keras adalah kamu mas bukan aku." ujar Lestari.


Deni pun tersenyum.


"Tidak apa-apa, berikan mas hanya untuk satu bulan makan saja juga bensin, yang penting anak dan istri mas tidak kekurangan suatu apa pun! mas iklas Lestari." ujar Deni membuat Lestari terharu tapi dia tidak bisa begitu saja memaafkan Deni.


"Baiklah mas Aku memberikan kamu segini." ujar Lestari sambil menyerahkan uang sebesar 6 juta rupiah, tapi Deni malah memberikannya lagi 3 juta kepada Lestari.


"Segini cukup untuk mas makan satu bulan juga bensinnya." ujar Deni.


"Tapi mas apa tidak apa-apa, kamu pasti ingin membeli sesuatu untuk dirimu." tanya Lestari.


"Tidak apa-apa, mas hidup sendiri Lestari jadi segini juga akan cukup, kamu tenang saja." jawab Deni.


"Ya sudah tapi kalau kurang nanti mas bilang aku ya, atau mas ingin membeli apa karena mas juga berhak atas uang ini, mas juga yang berusaha mengelolanya bukan aku." ujar Lestari.

__ADS_1


"Iya Lestari nanti mas akan bilang, walaupun mas berhak tapi kamu juga lebih berhak atas uang itu! anggap saja itu sebagai nafkah dari mas untukmu dan anak-anak mas." jawab Deni.


"Baiklah mas." ujar Lestari.


Setelah itu mereka saling diam dalam suasana keheningan, tiba-tiba saja Lisa datang dan menghampiri Deni di tengah-tengah keheningan mereka.


"Apa ayah akan pergi dan tidak tidur di rumah lagi?" tanya Lisa kepada Deni sambil mendudukkan dirinya di pangkuan sang ayah.


"Lho Lisa, adikmu sama siapa?" tanya Lestari.


"Adik tidur ibu, jadi Lisa tinggal karena masih ingin ketemu ayah." jawab Lisa.


"Syukurlah." ujar Lestari.


"Ayah jawab dulu pertanyaan aku tadi!" ujar Lisa .


"Iya sayang, abis ini ayah ada pekerjaan lagi jadi ayah harus pergi dulu." jawab Deni.


Lisa pun langsung murung ketika mendengar jawaban dari ayahnya.


"Benarkah ayah?" tanyanya.


"Iya sayang." jawab Deni.


"Asyik....." ujar Lisa sambil tepuk tangan.


Lestari yang melihat pun tersenyum, dari sudut hatinya dia sakit dan meminta maaf kepada Lisa karena membuat Lisa berjauhan dengan ayahnya.


"Ya sudah sekarang ayah harus pergi dulu ya, kamu jangan nakal! jaga ibu dan adik ya!" ujar Deni.


"Ok ayah." jawab Lisa sambil tersenyum dan mencium pipi Deni, Deni pun membalas mencium pipi Lisa.


"Lestari mas pulang dulu ya, jaga kesehatan kamu! dan mas titip anak-anak sama kamu!" ujar Deni.


"Iya mas." jawab Lestari.

__ADS_1


Deni pun bangkit dari duduknya sambil menggendong Lisa lalu berjalan ke arah luar diikuti dengan Lestari yang mengekor di belakangnya.


Deni pun menurunkan Lisa ketika mereka sampai di halaman rumah Lestari.


"Ayah pamit ya." ujarnya kepada Lisa sambil mencium pipi Lisa lagi dan menurunkan Lisa dari gendongannya.


"Iya ayah." jawab Lisa.


"Mas pamit ya." ujar Deni pada Lestari.


"Iya mas, hati-hati di jalan!" jawab Lestari yang membuat Deni tersenyum.


Deni pun berjalan ke arah motor bututnya lalu menyalakan mesin motornya, Lisa melambaikan tangan kepada Deni di balas dengan senyuman dari Deni. Lestari yang melihat Deni memakai motor butut pun merasa bersalah, suaminya benar-benar tidak meminta barang yang ada di rumahnya, padahal jika Deni meminta motor yang ada di rumahnya, dia pasti akan memberikannya.


"Semoga kamu benar-benar berubah dan bisa menunjukkan perjuanganmu agar kita bisa kembali bersama, karena jujur dalam lubuk hati ini aku masih mencintaimu mas." ujar Lestari yang hampir meneteskan air matanya tapi buru-buru dia hapus karena takut Lisa melihatnya.


"Nah sekarang ayo kita ngambil wudhu, karena sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang." ajak Lestari pada Lisa ketika Deni sudah tidak terlihat lagi.


"Ayo ibu." jawab Lisa sambil berjalan mendahului Lestari.


****


3 bulan terlah berlalu, Deni benar-benar membuktikan perjuangannya kepada Lestari dengan selalu memberikan hasil dari usaha mereka seluruhnya kepada Lestari dan deni hanya meminta seperti di awal untuk dia.


Deni juga terlihat sudah berubah, dia membuktikan semuanya dengan tindakan Deni, saat Lisa sedang Libur sekolah pasti Deni akan mengajaknya bermain bersama di sebuah Time Zone atau hanya jalan-jalan di taman kota. Deni juga tidak pernah macam-macam terhadap Lestari! dia sangat menghormati Lestari.


Saat ini Lestari sedang berpikir sambil melihat ke arah anak-anaknya yang sedang tertidur karena hari sudah malam.


"Apa aku berikan kesempatan kedua untuk mas Deni?" ujarnya pada dirinya sendiri.


"Aku bisa melihat perjuangan mas Deni juga kegigihannya." lanjutnya.


"Besok aku minta pendapat ibu sama bapak saja, semoga mereka bisa memberikan solusi yang terbaik untuk rumah tanggaku." ujar Lusi lagi.


Lalu dia pun merebahkan badannya di samping Ridwan lalu mencium kening Lisa juga Ridwan.

__ADS_1


"Ya Alloh tunjukan jalan untuk hambamu ini dan maafkan hamba yang sudah membuat anak dan suami hamba berjauhan." ujarnya dalam hati.


__ADS_2