This Wound

This Wound
Episode 42


__ADS_3

Saat dalam perjalanan ke kota S, Melani terus saja beristighfar dalam hatinya! dia sedih karena selama ini belum bisa jadi ibu yang baik untuk semata wayangnya, andai waktu bisa di putar kembali, pasti dia tidak akan menyia-nyiakan Reyna! dia akan lebih perhatian dan menyayanginya walau Rudi sudah mengancamnya, namun nasi sudah menjadi bubur! dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menemukan Reyna dengan cepat dan berdoa kepada Alloh agar senantiasa melindungi Reyna dimana pun berada.


"Maafkan mamah Reyna! semoga saja tidak terjadi sesuatu kepadamu nak." ujar Melani dalam hatinya.


"Ehem Melani! apa kamu tidak akan memberitahukan kita semua, siapa ayah kandung Reyna?" tanya Agus.


"Pasti akan aku kasih tau mas, setelah kita bertemu dengan Reyna nanti! aku juga sudah tidak ingin menyimpan rahasia itu lama-lama mas, biarkan aku katakan nanti di depan Reyna sekaligus." jawab Melani.


"Baiklah." ujar Agus.


Deni hanya diam, dia sebenarnya ingin bertanya banyak kepada bapak mertuanya itu, namun dia sendiri pun merasa ini bukan waktunya.


"Pak coba kita cek geogle untuk mengetahui dimana letak titik lokasinya." ujar Deni ketika dia sudah berada di kawasan alamat yang di berikan teman Rudi.


"Baik nak, coba kamu saja yang cek! bapak tidak mengerti." jawab Agus.


"Baik pak." ujarnya.


Lalu Deni pun menepikan mobilnya terlebih dahulu, agar aman saat dia mengetik alamat yang di berikan teman Rudi itu di hpnya sendiri. Setelah mendapat titik lokasinya, Deni pun menjalankan kembali mobilnya mengikuti arahan dari geogle. Setelah sampai dimana titik lokasinya, mereka pun lantas turun untuk menemukan Rudi.


"Ini seperti sebuah markas! kenapa om ada di sini?" ujar Deni.


"Ya sudah kita coba masuk dulu." ujar Agus.


Ketika mereka masuk, mereka di suguhkan dengan hal menjijikan! di sana banyak sekali orang yang sedang berjudi juga ada yang mabuk-mabukan, ada juga yang sedang berzinah sungguh pandangan yang sangat tidak boleh di lihat. Melani pun kaget kenapa suaminya bisa tau tempat seperti ini! begitu juga dengan Agus yang terus beristighfar karena adiknya itu ternyata benar-benar sudah di luar batas.


Deni pun menyuruh Agus dan Melani untuk kembali keluar saja! biar dia sendiri yang akan menanyakan kepada orang yang di dalam tentang keberadaan Rudi saat ini.


"Sebaiknya bapak dan tante tunggu di luar saja! biarkan aku yang masuk ke dalam, aku takut malah akan terjadi sesuatu terhadap bapak dan tante!" perintah Agus.


"Tapi nak, apa tidak apa-apa? bapak takut malah terjadi sesuatu denganmu! apa yang akan bapak katakan pada Lestari nant" jawab bapak.


"Tidak apa-apa pak, aku mohon! tunggu saja di luar ya pak." ujar Deni.


"Baiklah." jawab Agus dengan enggan dia pun mengajak Melani untuk kembali keluar.


Setelah melihat mertuanya dan Melani keluar, Deni pun menghampiri salah satu pria yang ada di sana.


"Maaf mas! apa boleh saya bertanya?" tanya Agus kepada pria itu.


Yang di tanya pun menoleh kepada Deni dan memindai Deni dari atas hingga bawah.

__ADS_1


"Siapa kamu, sepertinya kamu baru ke tempat ini?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Deni.


"Mohon maaf saya Deni, saya mau tanya apa abang kenal dengan yang namanya Rudi?" jawab Deni.


"Rudi yang mana? karena di sini Rudi ada dua!" ujarnya.


Deni pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Rudi.


"Ini bang! ini om saya, karena saya ada keperluan mendesak dengannya." ujar Deni sambil menunjukkan foto Rudi yang ada di ponselnya.


"Oh Rudi yang itu, dia sedang ke rumah bos Zamrud! karena dia punya banyak hutang terhadap bos, dan akhirnya mau menjual anaknya yang sedang hamil sungguh tidak waras si Rudi itu! masa iya mau menjual anak yang sudah hamil begitu, mana mau bos Zamrud." jawabnya sambil tertawa uang di ikuti oleh teman-temannya.


Deg....


"Astagfirullah." ucap Deni dalam hati.


"Oh gitu ya bang, kalau boleh tau dimana rumahnya bang? soalnya saya ada kepentingan yang benar-benar tidak bisa di tunda." tanya Deni.


"Semua orang di sini tidak tau rumah pribadi bos Zamrud itu, tapi kau cari saja si Rudi itu di kontrakannya." jawab pria itu lalu memberitahukan alamat kontrakan Rudi.


"Baik bang terimakasih." ujar Agus.


Setelah sampai di luar dia mencari keberadaan mertuanya dan juga Melani, dan ternyata mereka menunggu di dalam mobil. Deni pun lantas berlari ke arah mobilnya dan masuk ke dalam, tanpa menunggu lama dan berbicara Deni pun langsung melajukan mobilnya.


"Gimana nak, apa ka.u menemukan dimana Rudi?" tanya Agus.


"Yah ini sangat gawat, kita harus segera ke kontrakan om Rudi!" jawab Deni.


"Apa yang terjadi Deni?" tanya Melani dengan nada khawatir.


"Tante jangan kaget ya, dan harus tetap tenang." jawab Deni sambil terus menambah kecepatan mobilnya karena dia tau dimana letaknya kontrakan Rudi.


"Iya Den, tapi ada apa?" tanya Melani.


"Tadi aku bertanya kepada yang di dalam, dan jawabannya bikin aku kaget tante," jawab Deni menjeda jawabannya sambil mengambil nafasnya terlebih dahulu.


"Om Rudi berniat menjual Reyna kepada bos Zamrud untuk membayar hutangnya." lanjutnya.


"APAA!!" ujar Melani kaget.


"Astagfirullah." ujar Agus bersamaan.

__ADS_1


"Iya tante, tante tenang dulu ya! kita harus segera ke alamat ini! semoga saja om Rudi membawa Reyna ke sana dulu." ujar Deni.


"Ya Alloh, astagfirullah.... apa yang harus aku lakukan mas!" ujar Melani sambil menangis.


"Kamu tenang dulu ya! dan berdoa terus." ujar Agus.


Deni pun terus fokus ke jalanan dan menambah kecepatan lagi agar segera sampai di tujuan.


Setelah mereka sampai di sebuah hunian kontrakan yang luas, mereka pun turun bersamaan dengan tergesa-gesa, Deni pun mencoba bertanya kepada salah satu yang tinggal di kontrakan itu.


"Bu mau tanya, kalau kontrakan yang bernama Rudi itu sebelah mana ya?" tanya Deni.


"Rudi yang tadi bawa orang hamil itu ya! di kamar no 21 mas, maaf anda siapa ya?" jawabnya.


"Saya istrinya!" ujar Melani.


"Oh iya maaf bu, tapi sepertinya pak Rudi sudah pergi beberapa menit yang lalu!" ujarnya membuat Deni, Agus dan Melani menghela nafasnya.


"Astagfirullah.." ujar Melani.


"Memang ada apa ya bu?" ujar si ibu itu.


Karena dia tidak ingin kejahatan suaminya di ketahui oleh orang lain, Melani pun menjawab.


"Tidak apa-apa bu, mohon maaf apa ibu tau kemana perginya suami saya?" tanya Melani.


"Kalau itu saya tidak tau, tapi di pergi ke arah kanan, dan memakai mobil Ertiga berwarna hitam degan plat nomor xxxx! ibu susul saja siapa tau belum jauh." jawab si ibu itu.


"Baik terimakasih informasinya." ujar Melani sambil mencoba tersenyum kepada ibu itu


"Iya sama-sama bu." jawabnya.


Tanpa menunggu lama mereka bertiga pun naik ke dalam mobil, lalu Deni melajukan mobilnya menuju kanan seperti arahan si ibu itu, mereka berharap bisa menyusul mobil Rudi sebelum Rudi sampai ke tempat bosnya itu.


☘️ Sekian dulu ya!☘️


Terimakasih yang masih setia baca cerita Lestari ini, semoga kalian suka dengan setiap alur ceritanya.


Jangan lupa dukungan untuk authornya ya, dengan like, komen dan votenya, juga jangan lupa ya dengan poinnya.


Terimakasih.🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2