This Wound

This Wound
Episode 22


__ADS_3

Di dalam kamar, setelah menangis di pelukan ibunya untuk menumpahkan segala apa yang dia rasa, Lestari mengurai pelukannya dan menghapus air matanya.


"Kenapa kamu tidak cerita sama ibu?" tanya ibu kepada Lestari.


"Aku tidak mau ibu kepikiran rumah tanggaku yang nantinya ibu akan sakit, aku kira aku bisa menghadapinya sendiri bu tapi kini aku sadari aku tidak kuat menghadapinya sendiri! maaf kan aku Bu!" ujar Lestari.


"Ya sudah tidak apa-apa, sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya ibu.


"Seperti yang tadi aku katakan bu, aku mundur dari pernikahan ini! aku memang sangat mencintai mas Deni tapi untuk di madu belum siap bu, aku bukan wanita solehah yang bisa membagikan suami pada orang lain." jawab Lestari.


"Ya sudah ibu dan bapak akan selalu mendukung keputusanmu, ternyata firasat ibu benar! dari awal ibu tau Reyna tinggal di rumahmu dalam keadaan hamil, ibu sudah curiga ada yang tidak beres dengannya, kamu yang sabat ya sayang! ibu akan doakan yang terbaik untukmu." ujar ibu.


"Iya ibu terimakasih." ujar Lestari sambil memeluk ibunya.


"Sekarang ayo kita temui bapakmu! ibu yakin bapakmu pasti sedang bersedih juga." ujar ibu pada Lestari.


"Ayo ibu." ujar Lestari.


Mereka pun keluar dari kamar ibu untuk mencari bapak.


Ternyata bapak sedang bersama cucu-cucunya di ruang keluarga.


"Bapak!" ujar Lestari.


"Lestari kamu sudah lebih baik kah?" tanya bapak kepada Lestari.


" Alhamdulillah sudah pak, bapak aku minta maaf!" ujar Lestari.


"Kenapa kamu harus minta maaf?" jawab bapak sambil mengelus kepala Lestari.


"Maaf karena Lestari belum bisa kasih kebahagian ibu sama bapak, saat ini Lestari malah membuat bapak sama ibu sedih, maaf pak!" ujar lestari sambil meneteskan air matanya.


untung Lisa sedang asik bermain jadi dia tidak melihat ibunya menangis.

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa, justru bapak di sini yang harus meminta maaf, maaf bapak tidak bisa menjagamu hingga Deni menyakitimu." ujar bapak pada Lestari.


"Tidak pak, bapak tidak salah! mungkin Lestari juga yang waktu itu kurang memperhatikan mas Deni, hingga mas Deni terlena dengan Reyna." ujar Lestari.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Lestari? bapak akan selalu mendukungmu." ujar bapak.


"Seperti yang Lestari katakan sebelumnya pak, Lestari akan mundur pak!" jawab Lestari.


"Baiklah bapak akan bantu." ujar bapak.


"Tapi pak, sepertinya niat Reyna dan tante Melani itu tidak baik! walau aku ingin berpisah dengan mas Deni tapi jujur hati ini masih mencintai dan menyayanginya pak, Lestari takut Reyna dan tante Melani akan melakukan hal yang tidak diinginkan, seperti menguras uang mas Deni contohnya." ujar Lestari mengutarakan isi hatinya.


"Itu bisa bapak selesaikan, kita minta saja usaha Deni kamu yang jalani! walau bagaimana pun modal awal nya dari kita, tapi Lestari jika suamimu tidak ingin bercerai denganmu bagaimana? bapak liat dia sangat mencintaimu entah apa yang dipikirannya saat itu hingga menghianatimu!" ujar bapak.


"Entah pak, di satu sisi aku ingin mempertahankan tapi di sisi lain aku juga tidak ingin memakan hati, apalagi setelah tau kelicikan Reyna padaku." ujar Lestari.


"Maksud kamu licik gimana?" tanya bapak.


Lestari pun menceritakan semua apa yang terjadi di rumah nya tanpa ada yang ditutupi.


"Apa itu benar nak?" tanya ibu.


"Benar bu, Lestari aja tidak menyangka Reyna seperti itu, padahal selama ini Lestari menyayanginya seperti kepada adik kandung Lestari sendiri, hanya karena iri kepada Lestari dia tega membuat rumah tangga Lestari di ambang kehancuran." ujar lestari.


"Ya Alloh." ujar ibu sambil menutup matanya.


"Sudah.. sudah... pertama yang harus kamu lakukan adalah mengamankan hak kamu!" ujar bapak.


"Maksudnya pak?" tanya Lestari.


"Iya kamu harus mengamankan rumah juga usaha kamu, jangan lupa mobil juga harus kamu amankan, kita liat jika Deni sudah tidak mempunyai apa-apa, apakah Reyna dan Melani masih mau sama Deni?" ujar bapak.


"Tapi pak kalau rumah aku kuasai, bagaimana dengan mas Deni? dia akan tinggal diman?" jawab Lestari gelisah.

__ADS_1


"Ckk...... disaat seperti ini pun kamu masih memikirkan suamimu yang pecundang itu?" ujar bapak.


"Maaf pak, bagaimana pun mas Deni masih ayah nya anak-anak Lestari." ujar Lestari.


"Bukan kamu yang masih mencintainya?" tanya bapak.


"Pak sudahlah, mungkin saat ini Lestari masih mencintai Deni, jadi wajar kan saja begitu, tidak gampang lho pak menghilangkan rasa cinta pada orang yang kita sayangi." ujar ibu menyela bapak ketika akan berbicara lagi.


"Ya sudahlah wanita memang selalu benar." ujar bapak


Ibu hanya menggelengkan kepala saja.


"Ya sudah bu, pak Lestari mandiin anak-anak dulu ya!" ujar lestari.


"Ya sudah sana!" ujar bapak.


Lestari pun membawa anak-anaknya ke kamar dahulu untuk membukakan baju mereka dan menyiapkan baju gantinya.


****


Di lain tempat lebih tepatnya di rumah Deni dan Lestari, Deni begitu marah kepada Reyna dan Melani.


"Puas kalian sudah menghancurkan rumah tanggaku hah?" ujar Deni dengan nada tinggi kepada Reyna dan Melani.


"Kamu pikir anakku tidak hancur juga hah?" ujar Melani dengan nada tinggi juga.


"Aku sudah berbaik hati mau bertanggung jawab dan menampungnya di sini, lalu kenapa kalian datang ke sana dan membongkar semuanya di depan bapak dan ibu?" ujar Deni.


"Agar kamu tidak menyepelekan anakku, kalau pun aku tidak ke sana, nanti juga mereka pasti tau dengan sendirinya." ujar Melani.


"Walau begitu buka seperti ini caranya, dan kamu Reyna, mas kecewa terhadapmu! mas pikir kamu akan mengerti keadaanku tapi kenyataannya kau sama seperti ibumu, sekarang pergi kalian dari rumahku!" ujar Deni masih dengan nada tinggi.


"Tidak bisa, kalau Reyna keluar dari rumah ini, bagaimana dengan dirinya yang perutnya sudah membuncit?" ujar Melani.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, kalian membuatku membenci kalian, aku tidak mau tau pergi kalian dari rumahku!" ujar Deni sambil berjalan ke arah kamarnya dan membanting pintu kamar dengan kerasnya.


☘️Selamat membaca!!!☘️☘️


__ADS_2