
Di saat Reyna pulang ke rumah budehnya, ternyata semua orang sedang berada di ruang keluarga! Reyna pun tak akan menunda kesempatan untuk berbicara soal apa yang tadi dia bicarakan dengan ayahnya.
"Assalamualaikum..." ujarnya ketika sudah di ruang keluarga.
"Waalaikumsalam, Reyna ayo sini duduk! kita mengobrol bersama." jawab Rina nama dari ibu Lestari dan budeh Reyna.
"Iya budeh, kebetulan ada yang mau aku sampaikan kepada kalian semua." ujar Reyna dengan semangat dan raut wajah gembira.
"Sepertinya kamu hari ini sedang senang Reyna!" ujar Lestari karena dia bisa melihat ada aura kebahagian di wajah Reyna.
"Iya mbak, hari ini aku benar-benar senang!" jawab Reyna.
"Ya sudah ayo ceritakan semuanya sama kita, mbak bahagia liat kamu bahagia." ujar Lestari.
"Iya mbak, jadi gini!" ujar Reyna.
"Tadi saat aku sedang berjalan santai, tiba-tiba saja ayah menghentikan langkahku." ujar Reyna terhenti Rina sudah memotongnya.
"Ya Alloh, terus kamu gak apa-apa kan Rey?" tanya Rina dengan nada kawatir.
"Aku tidak apa-apa ko budeh, justru kebahagian aku ini datang dari ayah." jawab Reyna.
"Maksud kamu?" tanya Lestari kali ini.
Agus nama dari bapak Lestari hanya diam sambil mendengarkan.
"Iya mbak, jadi tadi ayah ingin berbicara sama aku mbak! tadinya aku sedikit takut karena kejadian waktu itu, tapi aku juga memberanikan diri untuk mengiyakan permintaannya." ujar Reyna menjeda ceritanya.
"Dan kami pun berbicara, awalnya ayah hanya diam saja tapi setelah aku juga memberanikan diri bertanya terlebih dahulu, akhirnya ayah berbicara dan mengatakan maaf atas kejadian waktu itu dan meminta aku untuk tinggal kembali bersamanya sambil menangis! aku pun ikut menangis dan terharu mbak dan tanpa pikir panjang langsung mengiyakan." lanjutnya.
"Jadi budeh, pakde nanti sore ayah akan menjemputku ke sini dan aku putuskan untuk tinggal bersama ayah lagi! karena ayah janji akan menerima keadaan aku yang sudah seperti ini." ujar Reyna kepada Rina dan Agus.
"Apa kamu sudah memikirkan semuanya nak? kenapa hati budeh merasa tidak enak." tanya Rina.
"Sudah budeh, aku berpikir tidak mungkin aku selamanya menumpang di rumah budeh dan membebani pakde dan budeh." jawab Reyna.
"Kamu itu tidak menumpang! kamu sudah budeh anggap anak budeh sendiri, dan kamu tidak menjadi beban di rumah ini." ujar Rina sambil mengelus rambut Reyna.
"Tidak budeh, budeh jangan menyembunyikan semuanya dari aku! aku tau budeh dan pakde menjadi gunjingan orang karena semua orang sudah tau aku hamil di luar nikah." jawab Reyna.
"Tidak apa-apa nak, jangan dengarkan mereka." ujar Rina.
"Tidak budeh, aku ingin liat budeh bahagia! doakan aku ya budeh, semoga ini semua awal yang baik untukku." ujar Reyna.
__ADS_1
"Amin, baiklah jika itu sudah jadi keputusanmu! budeh bisa apa? budeh hanya bisa mendoakan mu dari sini, dan jika kamu ingin kembali atau berkunjung ke rumah budeh, pintu rumah budeh selalu terbuka untukmu." ujar Rina pada akhirnya.
"Iya budeh, terimakasih karena selalu ada untukku selama ini." jawab Reyna.
"Ehem.... ayahmu kapan akan menjemputmu?" tanya Agus kali ini ikut bicara sedangkan Deni hanya menunduk saja.
"Katanya sore pakde!" jawab Reyna.
"Ya sudah ketika ayahmu datang, suruh dia menghadap pakde dulu!" ujar Agus karena merasa ada yang tidak beres dengan adiknya itu, bagaimana pun juga dia kakaknya lebih tau sifat dan masalalu adiknya itu.
"Iya pakde, nanti Reyna bilang sama ayah." jawab Reyna.
"Ya sudah kalian lanjutkan mengobrol saja, bapak mau ke kamar dulu." ujar Agus.
"Iya pakde." jawab Reyna.
Agus pun bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.
Deni pun ikut bangkit dan izin keluar sebentar kepada Lestari.
"Sayang mas keluar sebentar ya!" ujar Deni pada Lestari.
"Iya mas." jawab Lestari.
Ketika Deni sudah pergi Lestari pun memberanikan diri bertanya kepada Reyna.
"Insyaallah sudah mbak." jawab Reyna.
"Iya benar kata mbak mu nak, budeh pun sama kenapa seperti ada yang janggal." ujar Rina karena merasa aneh tiba-tiba saja Rudi berubah! kenapa baru sekarang? ke apa gak dari dulu? itu yang ada di pikiran Rina.
Reyna pun tersenyum karena senang budeh dan mbaknya begitu menghawatirkannya dan itu tandanya mereka sangat menyayangi dirinya.
"Iya budeh, kalau nanti ada apa-apa sama aku, k aku janji akan kabarin budeh terlebih dahulu." jawab Reyna.
"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusanmu!" ujar Lestari.
"Oh iya ibu, sepertinya aku dan mas Deni harus segera pulang karena sebentar lagi Lisa pulang sekolah." ujar Lestari pada ibunya.
"Iya sayang, salam untuk cucu ibu yang cantik itu." iya ibu.
"Mas sudah selesai?" tanya Lestari kepada Deni saat Deni menghampirinya lagi.
"Iya sayang, kamu sudah selesai bicaranya?" jawab Deni.
__ADS_1
"Sudah mas, ya sudah ayo mas kita pulang dulu! takut Lisa sudah keluar dari kelasnya." ajak Lestari.
"Iya sayang." jawab Deni.
"Ibu aku pamit dulu ya, salam sama bapak." ujar Lestari sambil mengambil Ridwan di pangkuan ibu yang sejak tadi sudah tertidur.
"Iya nak, hati-hati di jalan!" jawab ibu sambil mencium pipi gembul Ridwan.
"Iya ibu." ujar Lestari sambil menyalami ibunya.
"Mbak pamit ya Reyna." ujarnya pada Reyna.
Reyna tak menjawab, dia hanya mengangguk saja sambil tersenyum.
"Aku pamit ya ibu." ujar Deni kali ini sambil menyalami mertuanya.
"Saya pamit ya Reyna, sekali lagi maaf." ujar Deni.
"Iya nak." jawab ibu.
Reyna pun sama tidak menjawab perkataan Deni, dia hanya mengangguk dan tersenyum.
Lestari dan Deni pun keluar untuk pulang sekalian jemput Lisa yang pulang sekolah.
Saat di perjalanan Lestari pun berkata pada Deni bahwa dirinya saat ini hati merasa tidak tenang karena Reyna akan kembali tinggal bersama ayahnya.
"Mas kenapa ya? ko aku malah gak tenang Reyna Kembali tinggal bersama ayahnya." tanyanya kepada Deni.
"Karena kamu menyayanginya sayang, sudah jangan terlalu di pikirkan! kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja." jawab Deni mencoba menenangkan istrinya.
"Lagian mana ada orangtua yang mau mencelakai anaknya sendiri." lanjutnya lagi.
"Iya ya mas, mungkin ini hanya perasaan aku saja ya." ujar Lestari mencoba menenangkan dirinya walau tak sepenuhnya tenang karena sang ibu juga mempunyai firasat yang sama.
Sedangkan di rumah orangtuanya, Rina memasuki kamarnya setelah tadi dia pamit kepada Reyna untuk menyusul pakdenya.
"Pak kenapa hati ibu saat ini malah tidak tenang ya?" tanya nya kepada Agus tatkala dia sudah sampai di kamar dan duduk di samping suaminya.
"Entahlah bu, bapak pun sama! tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ini keinginan Reyna sendiri, bapak juga nanti akan coba bicara kepada Rudi! semoga saja dia benar-benar berubah karena ibu juga pasti tau masalalu Rudi dan Melani seperti apa." jawab bapak.
"Iya pak." ujar ibu sambil menyenderkan kepalanya di bahu Agus.
☘️Sekian dulu ya!☘️
__ADS_1
Nah lho, jadi masalalu apa antara orangtua Reyna? nantikan jawabannya di episode-episode selanjutnya.
Jangan lupa ya dukung author terus ya! dengan like, vote dan komentarnya! jangan lupa sama poin untuk authornya, terimakasih.🤗🥰🥰