This Wound

This Wound
Episode 8


__ADS_3

Kini waktu menunjukan pukul 12 malam, Lestari sudah tidur dengan nyenyak di pelukan Deni. Beda dengan Deni dari tadi dia tidak bisa memejamkan matanya, Deni sedang berpikir apa benar Reyna hamil? atau dia hanya pura-pura saja untuk menakutinya, kalau memang hamil apa itu anaknya? karena walau bagaimana pun Deni tahu dialah laki-laki pertama yang menyentuh Reyna. Lalu apa yang harus dia lakukan? di saat dia ingin berubah pasti selalu saja ada rintangannya.


Apa lagi kata-kata Lestari terus terngiang-ngiang di kepalanya, Lestari berdoa bahwa aku tidak akan seperti orang yang menghamili Reyna lepas dari tanggung jawab padahal yang sebenarnya dia jugalah orangnya .


"Aku bisa gila jika terus seperti ini!" ujar Deni dalam hati sambil memejamkan matanya lalu memijit pelipisnya.


"Aku harus bertanya pada Reyna sekarang juga! mumpung Lestari telah tidur. " ujarnya lagi dalam hati.


Dia pun menoleh kepada istrinya yang tertidur pulas, lalu mencoba melepaskan pelukan Lestari.


"Maafkan mas sayang." ujarnya dalam hati lalu mengecup kening Lestari.


Deni pun keluar dari kamarnya dengan pelan-pelan, agar Lestari tidak terganggu dalam tidurnya.


****


Di kamar tamu Reyna sedang menunggu kedatangan Deni, dia yakin Deni pasti akan menghampirinya untuk bertanya banyak hal. Reyna ingin tau apa yang akan Deni lakukan setelah dia tau kalau dirinya hamil.


"Aku yakin pasti kamu akan datang mas." ujar Reyna dalam hatinya.


Dilihatnya jam Sudah menunjukan pukul 10, namun hingga jam menunjukan pukul 12 Deni tidak juga kunjung datang.


"Apa aku terlalu berharap? heh kau memang pecundang mas." ujar Reyna sambil tersenyum getir.


Namun saat dirinya ingin mengambil air minum ke dapur baru saja dia membuka pintu Deni sudah ada di depan matanya.


Melihat Deni datang sesuai dengan perkiraannya, Reyna langsung tersenyum.


"Jadi apa yang akan kau tanyakan?" ujar Reyna. "Aku tau mas kamu pasti akan datang ke sini setelah tau aku tinggal bersamamu." ujar Reyna lagi.


"Reyna mas mohon, sebenernya apa yang kamu rencanakan hah? kenapa kamu mengaku-ngaku kalau kamu hamil sama Lestari? apalagi kau meminta tinggal di sini." tanya Deni sedikit emosi.


"Jadi mas pikir aku hanya pura-pura hamil begitu? hah.... mas pikir aku sepicik itu?" jawab Reyna sambil tersenyum meremehkan.

__ADS_1


"Jadi kamu benar-benar hamil?" ujar Deni. "Kalau kamu benar-benar hamil kenapa kamu tidak bilang sama mas? dan malah bilang sama lestari Reyna!" ujar Deni lagi.


"Apakah kalau aku bilang sama mas, mas akan langsung menerima? tidak mas, yang ada mas akan menyuruh aku menggugurkannya! ingat mas, walau aku seorang penzinah dan pendosa tapi aku masih seorang manusia yang tidak akan tega membunuh darah dagingnya sendiri." ujar Reyna.


"Bukan begitu Reyna, aku pun tak akan pernah memintamu menggugurkannya, aku pasti mencari solusi lain Reyna! kalau kau datang ke sini, ini semua akan semakin runyam." ujar Deni sambil mengacak rambutnya frustasi.


"Aku tidak mau tau mas, bagaimana pun janin yang aku kandung adalah darah dagingmu! aku meminta pertanggungjawaban mu atas dia, di sini kita berdualah yang salah bukan hanya aku, jadi yang harus menanggungnya bukan hanya aku saja kamu pun harus! aku gak mau tau dan aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah,as pikir kan lagi bagaimana jalan keluarnya qku tidak akan bilang sama mbak Lestari siapa yang menghamiliku tapi aku juga tidak akan tinggal diam jika mas tidak melakukan apapun! aku beri waktu 2 bulan mas, aku ingin tau apa yang akan kamu lakukan? dan jalan keluar apa yang akan kau ambil?" ujar Reyna panjang lebar, Lalu menutup pintunya segera.


Dia tidak jadi mengambil airnya karena sudah puas mengeluarkan uneg-unegnya pada deni.


Deni yang mendengar apa yang di katakan Reyna semakin frustasi, waktu 2 bulan apa dia bisa menemukan jalan keluarnya? apa dia bisa setelah 2 bulan Lestari mengetahuinya dan Lestari meninggalkannya? apa dia akan sanggup hidup tanpa Lestari? kalau saja Reyna tidak nekat datang ke sini dan tinggal di sini mungkin Deni bisa menemukan jalan keluarnya, mungkin juga Deni bisa menikahi Reyna secara diam-diam sebagai bentuk tanggung jawabnya tapi Reyna malah nekat datang ke sini dan menceritakan kisah mereka pada Lestari, walau Lestari tidak tau yang di ceritakan Reyna adalah suaminya sendiri! membuat semuanya makin runyam saja.


Deni pun kembali ke kamarnya , lalu dia merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


"Sayang apa yang harus mas lakukan? haruskah mas jujur kepadamu? dengan resiko kamu akan meninggalkan mas! sungguh mas menyesal sayang, mas tidak mau kehilangan kamu dan anak-anak kita." ujar Deni dalam hati sambil memeluk istrinya dengan erat dan tak terasa Deni meneteskan air matanya.


Tak lama Deni pun tertidur mungkin karena sudah lelah juga.


****


"Sayang mas berangkat ke mesjid dulu ya." ujar Deni.


"Iya mas." jawab Lestari.


Lestari pun mencoba membangunkan lisa juga Reyna untuk melakukan salat bersama.


Reyna yang memang tidak terbiasa bangun subuh, begitu susah sekali di bangunkan membuat Lestari tidak enak sendiri.


"Ya sudahlah, aku kan sudah coba bangunkan dia, tapi dianya yang tak bangun jadi aku tidak berdosa." ujar lestari.


Lestari dan lisa pun solat bersama dan setelahnya Lisa tidur kembali menemani adiknya tidur di kamar orangtuanya, sedangkan Lestari melakukan aktivitasnya seperti biasa yang dia lakukan.


Ketika semua tugasnya sudah selesai Lestari ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengecek anak-anak nya, lalu setelah melihat anak-anaknya aman dia pun kembali ke dapur untuk membuat sarapan.

__ADS_1


Lestari bingung tak biasanya suaminya belum pulang, biasanya suaminya itu akan langsung pulang setelah solat berjamaah dan berzikir bersama, mungkin dia sedang ada perlu dulu pikir Lestari.


Saat sedang asyik menyiapkan sarapan tiba-tiba ada yang melingkarkan tangan pada perutnya.


"Kamu ini mas bikin kaget saja, sudah sana jangan ganggu aku dulu!" ujar Lestari.


"Aku maunya begini gimana dong?" ujar Deni jahil.


"ish...nanti bikin sarapannya tak jadi-jadi mas, kamu seperti biasanya aja jagain anak-anak! nanti kalau sudah matang aku panggilin." ucap Lestari.


"Ok sayang." jawab Deni lalu mengecup pipi Lestari.


Setelah itu dia pergi ke kamar sesuai yang di perintahkan Lestari yaitu menjaga anak-anaknya.


Di balik tembok ada seseorang yang sedang melihat kemesraan mereka mengepalkan tangannya.


"Sebentar lagi mbak, posisimu akan tergantikan olehku, karena aku yakin kamu tidak akan memaafkan orang yang menghianatimu." ujar Reyna dalam hati, lalu dia menghampiri Lestari dan menawarkan bantuan.


"Mbak mau aku bantu?" tanya Reyna tiba-tiba membuat Lestari sedikit terkejut.


"Maaf mbak aku bangun kesiangan." ujar Reyna.


"Tidak apa-apa Reyna, apakah kamu sudah solat Reyna?" tanya Lestari.


"Belum mbak, aku belum sempat solat." jawab Reyna.


"Ya sudah kamu solat dahulu saja! biar ini mbak selesai kan sendiri, tinggal sebentar lagi ko! nanti setelah solat kamu ke sini lagi kita sarapan bersama." ujar Lestari sambil tersenyum.


"Ya sudah mbak, maaf ya." ujar Reyna.


Lestari hanya mengangguk saja.


Reyna pun berjalan kembali ke arah kamarnya setelah itu kembali ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan solat di musola rumah Lestari.

__ADS_1


~ Dukung aku yuk dengan tinggalkan like, vote and comen, agar semakin semangat menulis nya. ~


__ADS_2