
Saat sedang bermain catur bersama bapak mertuanya, Deni sesekali melirik ke arah jam dindingnya. Tadi Deni lupa sehabis solat isya, jam tangannya dia tinggal di kamar.
"Kamu sudah ngantuk nak?" tanya bapak.
"Ahh tidak pak, hanya saja apa bapak tidak lelah?" jawab Deni.
"Hahahaha tentu saja tidak, walau bapak ini sudah tua, tapi staminanya masih kuat untuk bergadang! kayanya di sini yang lelah itu kamu bukan bapak!" ujar bapak.
"Hehehe bapak bisa aja, tidak ko pak." jawab Deni dia merasa tidak enak kepada mertuanya.
Dia bukannya lelah, hanya saja ponselnya tertinggal di kamar. Dia takut Reyna mengirimkan pesan yang tidak-tidak, dia juga ingin sekali berbicara kepada Lestari dan meminta maaf tentang apa yang terjadi tadi sore.
"Seperti ya memang kau sudah lelah, kamu sudah tidak fokus bermain." ujar bapak.
"Maaf pak!" ucap Deni.
"Ibu tadi bicara sama bapak, katanya kalian sedang ada masalah! apa masalahnya sudah selesai?" tanya bapak.
"sebenernya ini masalah agak rumit pak, jadi sepertinya agak lama juga aku untuk membujuk Lestari." jawab Deni.
"Memang masalah apa yang sedang kalian hadapi? apa masalah keuangan lagi? bukankah keuangan kalian sudah jauh lebih baik?" tanya bapak lagi.
"Bukan pak, alhamdulillah kalau masalah uang, kami lebih dari cukup pak, namun ada masalah lain yang belum bisa kami ceritakan pak." ujar Deni sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah, semoga masalah kalian cepat selesai nak, namun satu nasihat bapak, jangan kamu sakiti hati Lestari! bagi kami kebahagiannya adalah impian kami, jika suatu saat kamu sudah tidak mencintainya, kembalikan dia pada kami, pintu rumah kami terbuka lebar untuk Lestari." ujar bapak.
Deni yang mendengar ucapan bapak, semakin di landa rasa takut, takut kalau sampai mertua nya tau! dia akan memaksa Deni menceraikan Lestari, Deni juga semakin bersalah kepada mertuanya.
"Iya pak." hanya itu yang bisa Deni ucapkan sekarang.
"Ya sudah, gih kamu segera ke kamar! mungkin Lestari juga sudah menunggumu, bapak tidak ingin anak bapak besok pagi mengomeli bapak karena suaminya bapak ajak bergadang." ujar bapak sambil terkekeh.
"Hehehe iya pak, Deni duluan ya!" jawabnya pada mertuanya sendiri.
Bapak hanya mengangguk saja, deni pun langsung bangkit dan pergi ke kamar istrinya.
Ketika masuk,Deni melihat Lestari sedang memegang ponselnya.
Deg...
__ADS_1
Suara jantung hati Deni.
"Sayang!" ujar Deni sambil menghampiri Lestari.
Lestari melirik kepada Deni.
"Ini, kekasihmu dari tadi terus saja menelpon dan memberikan pesan, baru di tinggal beberapa jam saja dia sudah mencarimu." ujar Lestari sambil memberikan ponselnya.
"Periksalah, siapa tau ada yang penting." ujarnya lagi masih dengan raut wajah yang datar.
Deni pun mengambil ponselnya dan langsung meletakkannya di kasur begitu saja, dia tidak peduli siapa yang menghubunginya? yang sekarang dia pedulikan adalah Lestarinya.
"Sayang, mas minta maaf! tadi mas sudah membentakmu, maaf mas tidak bermaksud membentakmu, sungguh tadi mas hanya refleks saja, mas takut terjadi sesuatu terhadap kandungan Reyna dan itu berbahaya bagimu!Bagaimana nanti kalau seandaikan terjadi sesuatu terhadap Reyna, nanti dia akan melaporkanmu? mas mohon maafkan mas." ujar Deni sambil meraih tangan Lestari dan bersujud di hadapan istrinya.
Lestari hanya diam saja, sambil menatap lurus ke depan, sungguh dia sudah lelah, ini baru awal tapi sepertinya dia akan menyerah.
"Mas bagaimana kalau aku menyerah saja? mari kita bercerai dan kamu bisa menikahi Reyna secara sah dan agama! sepertinya aku kalah mas, sungguh aku tidak sanggup menghadapi semua ini, baru kamu bentak pun hati ini rapuh mas, apalagi jika nanti aku harus merasakan yang lebih pahit lagi." ujar Lestari.
Ya tadi saat dimana Reyna terus menghubungi Deni dan mengirimkan banyak pesan, entah apa isi pesannya pun karena Lestari sendiri malas untuk mengangkat atau sekedar membaca pesan dari Reyna kepada suaminya. Lestari berpikir, bahwa ketika nanti dia di madu dia bahkan harus rela waktunya bersama Deni akan terganggu dengan panggilan Reyna seperti sekarang ini. Dia juga tidak bisa menebak, Apakah Deni akan terus bersikap baik kepadanya? Akankah Deni mempercayai nya? setelah tadi pun Deni membentaknya tanpa tau yang sebenernya terjadi. Lestari berpikir lebih baik dirinya mengalah sebelum kalah dan merasakan sakit yang lebih perih daripada tadi.
"Sayang please, mas mohon! jangan berkata seperti itu lagi, mas tidak mau kehilanganmu dan anak-anak." ujar Deni sambil menangis.
"Pikirkan anak-anak kita sayang!" ujar Deni.
"Anak-anak perlahan akan mengerti mas, kita juga bisa membesarkan mereka bersama tanpa harus satu rumah, aku tidak akan melarang mas menemui mereka." ujar Lestari.
"Gak sayang, mas gak akan bisa!" jawab Deni.
"Mas harus bisa, jika mas gak bisa berbicara kepada ibu dan bapak biar aku saja yang menyampaikannya." ujar Lestari.
"Tidak mas mohon sayang!" ujar Deni dengan wajah melasnya.
"Tidak mas, maafkan aku yang tak sanggup bertahan." ujar Lestari sambil menarik tangan Deni dan merebahkan tubuhnya yang sudah lelah.
"Tidurlah mungkin kamu sudah lelah! jadi bicaramu ngelantur, sampai kapan pun sayang mas tidak akan menceraikanmu." ujar Deni sambil ikut merebahkan dirinya di samping Lestari, Deni pun memeluk lestari dari belakang.
Lestari hanya diam saja, mau protes pun dia terlalu lelah biarlah untuk malam ini suaminya memeluknya, mungkin saja malam ini adalah malam terakhir dia dan suaminya biasa seperti ini, kita kan gak tau apa yang akan terjadi besok. Lagian sebenarnya, Lestari pun sangat nyaman berada di pelukan suaminya seperti sekarang ini.
****
__ADS_1
Di rumah lestari, suara bel terus berbunyi membuat Reyna yang sedang istirahat terbangun. Dia pun melihat ke arah jam dinding nya waktu sudah menunjukan jam 7 malam. Karena memang Reyna belum terbiasa solat tepat waktu, malah terkadang terkesan sengaja tidak melaksanakannya seperti saat ini tidak melaksanakan salat dengan alasan masih lemah. Karena bunyi bel yang terus berbunyi tanpa henti, Reyna pun dengan terpaksa bangun dari tidurannya untuk mengetahui siapa gerangan yang bertamu malam-malam seperti ini.
"Sebentar." ujar Reyna.
Lalu dia berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu rumahnya.
"Mamah!" ucap Reyna kaget.
Ada apa mamah nya ke sini? jangan sampai mamah nya ini mengacaukan semua rencana nya.
"Kenapa lama sekali membuka pintunya? Apa jam segini Lestari sudah tidur?" tanya mamahnya dengan nada kesal
"Maaf mah mbak lagi pergi, aku sedang istirahat jadi baru membukakan pintu." jawab Reyna.
"Ya sudahlah, pergi kemana lestari?" tanya mamahnya Reyna sambil melenggang masuk.
"Bagus juga rumah mbakmu, nanti aku cari suami sepertinya, kalau perlu kamu rebut suami si Lestari itu." ujar mamahnya Reyna.
Membuat Reyna terkejut.
"Apa aku tak salah dengar? Apa jika dia mengetahui aku hamil anak mas Deni, dia akan mendukung ku dan membantuku? ucapnya dalam hati, Reyna merasa senang jika memang mamah nya mau membantunya.
"Mah!" ujar Reyna ketika ibu nya sudah duduk di sofa.
"Tunggu.. tunggu... Reyna ada apa dengan wajahmu yang pucat? dan ibu merasa perutmu sedikit membuncit? " tanya mamah.
"Sebenernya aku ingin menceritakan sesuatu kepada mamah tapi aku takut mamah marah." jawab Reyna.
"Kamu mau mengatakan apa?" tanya mamahnya.
Dengan ragu-ragu, Reyna menceritakan perselingkuhannya dengan Deni dan juga kehamilan.
Sebenernya Reyna juga sedikit takut, takut bahwa ibunya akan mencacinya tapi setelah mendengar ucapan mamahnya tadi, dia sedikit berani, walau dia juga tak tau apa reaksi mamahnya nanti
"APA!" ucap mamah dengan suara keras. Membuat Reyna memejamkan matanya.
☘️Sudah dulu ya gays..☘️
Semoga kalian suka...
__ADS_1
Ikuti terus cerita nya agar tidak penasaran ya, Salam sehat untuk semuanya.