This Wound

This Wound
Episode 23


__ADS_3

Di rumah Lestari tepatnya di kamar yang Reyna tempati, Melani dan Reyna sedang berbicara, Reyna sedang merengek dan protes dengan apa yang terjadi sekarang.


"Mah gimana ini? ko jadi seperti ini! aku gak mau pergi dari rumah ini mah." ujar Reyna.


"Kamu tetaplah di sini meminta tanggung jawab Deni! biar mamah saja yang pergi, nanti kita berhubungan lewat telpon saja, biarkan Deni sendiri dulu! siapa tau nanti setelah emosinya reda, dia tidak jadi mengusirmu." ujar Melani.


"Iya ibu mudah-mudahan saja." ujar Reyna.


"Ya sudah ibu pergi dulu, jangan sia-siakan bayi dalam perutmu, kau bisa manfaatkan dia untuk memuluskan rencana mu." ujar Melani.


"Iya ibu." ujar Reyna.


Sebenernya Reyna sangat menyayangi bayi yang ada di perutnya, dia tidak semunafik itu memanfaatkan kehamilannya untuk kepentingan dirinya sendiri, tapi tidak ada cara lain saat ini.


Melani pun pergi dari rumah Lestari di antar Reyna sampai depan rumah saja, lalu Reyna kembali ke kamarnya.


****


Di kamar Deni mengacak semua barang-barangnya, dia marah kepada Reyna dan mamahnya karena telah membongkar kebohongan nya kepada orangtua Lestari.


Sungguh dia tidak ingin kehilangan Lestari juga anak-anaknya.


"Mas harus gimana Lestari, mas gak mau pisah dari kamu." ujar Deni sambil menangis.


"Apa aku minta pendapat Reyhan saja? dia ahli dalam urusan seperti ini." ujarnya lagi.


"Ya aku harus ke sana meminta pendapatnya." ujarnya.


Deni pun lantas bangkit dan buru-buru keluar untuk ke rumah Reyhan, dia juga langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Reyhan terlebih dahulu.


Saat Deni keluar, dia melirik ke arah kamar Reyna.


"Apa dia telah pergi? biar sajalah nanti dia ku urus, sekarang lebih baik aku ke rumah Reyhan! aku gak mau kehidupan istri dan anak-anakku." ujar Deni dalam hatinya.

__ADS_1


Deni pun melanjutkan niatnya untuk ke rumah Reyhan sambil mencoba menghubungi temannya itu.


Tut..Tut...Tut...


"Iya assalamualaikum." ujar yang di sebrang telpon yaitu Reyhan.


"Waalaikumsalam, Rey kamu sekarang sibuk gak?" tanya Deni pada Reyhan.


"Hem.... sepertinya enggak Den, ada apa ya?" jawab Reyhan.


"Ada sesuatu yang ingin aku minta pendapatmu! bisakah kita bertemu Rey?" ujar Deni.


"Oh boleh Den, tapi jangan di rumah gue ya, soalnya ada nyokap." ujar Reyhan.


"Iya udah boleh di tempat kita nongkrong aja gimana?" tanya Deni.


"Boleh lu tunggu situ ya! nanti gue nyusul, gue mau izin dulu ama bini gue." jawab Reyhan.


"Ya udah assalamu'alaikum." ujar Reyhan.


"Waalaikumsalam." jawab Deni.


Setelah sambungan telpon terputus, Deni pun buru-buru menghidupkan motornya lalu bergegas pergi menuju cafe tempat biasa dia dan teman-temannya nongkrong dulu.


****


Di rumah orangtua Lestari, kini anak-anaknya telah tidur siang, Lestari sedang memikirkan apa yang bapak bicarakan tadi.


Bapak meminta Lestari nanti sore ke rumahnya bersama Deni untuk mengambil haknya di temani bapak, sebenernya tujuan utama bapak ingin melihat bagaimana reaksi Deni ketika Lestari ingin mengambil semua harta bersama Deni, Apakah Deni akan memberikannya atau justru akan marah? kata bapak kalau Deni bersungguh-sungguh mencintai dia dan anak-anaknya, pasti Deni akan memberikan apa yang jadi haknya dan anak-anaknya.


"Apa mas Deni akan marah?" ujar Lestari pada dirinya sendiri.


"Semoga saja kau tidak marah mas, malah kau akan memberikannya dengan sukarela, agar aku tau kesungguhanmu dalam mencintaiku." ujar Lestari lagi.

__ADS_1


Lestari pun lantas bangkit, dia ingin melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu karena waktu Dzuhur telah datang.


****


Di sebuah cafe, Deni sedang setia menunggu temannya datang. Tadi Reyhan menghubunginya bahwa dia akan telat datang karena di minta istrinya untuk membelikan makanan terlebih dahulu


saat dirinya termenung sambil menyesap kopi pesanannya, seseorang datang dengan menepuk pundaknya.


"Assalamualaikum bro, maaf kau jadi nunggu lama!" ujar Reyhan yang baru saja datang.


"Waalaikumsalam, tidak apa-apa, di sini aku yang minta bantuanmu jadi maaf jadi merepotkanmu." ujar Deni.


"Udah tidak apa-apa, kau ini kaya sama siapa aja, jadi apa yang ingin kau bicarakan?" ujar Reyhan.


"Hem... sebenernya gue malu mau cerita ini, juga ini bersifat pribadi tapi gue juga gak tau harus minta saran sama siapa lagi, kau adalah teman yang bisa aku mintai saran." ujar Deni


"Ada masalah apa emang kau?" tanya Reyhan.


Deni pun menceritakan apa yang terjadi dalam rumahtangganya termasuk perselingkuhannya dan penyesalannya.


"Itu sih wajar Den, orangtua mana yang mau anaknya di sakiti oleh orang lain, kau juga sudah melampaui batasmu, kesalahanmu ini sangat fatal, apalagi ada Reyna yang sedang mengandung anak kau, hanya orang istimewa yang bisa memanfaatkan kesalahanmu ini." ujar Reyhan.


"Sekarang begini, nanti kalau Lestari datang untuk meminta haknya seperti dia meminta rumah, mobil bahkan usahamu di ambil oleh Lestari, maka kau harus iklaskan dan jangan marah, tunjukkan kepada Lestari bahwa kamu sungguh-sungguh mencintai Lestari." ujar Reyhan lagi.


"Benarkah bisa meluluhkan hati Lestari dengan cara seperti ini." tanya Deni.


"Ya gue sih belum yakin, tapi apa salahnya di coba dulu." jawab Reyhan.


"Lalu bagaimana dengan Reyna?" ujar Deni.


"Iya itu nanti terserah kau dan Lestari." ujar Reyhan.


"Baiklah akan aku lakukan sesuai saranmu, semoga saja caramu berhasil, kalau urusan Reyna, entahlah aku malah jadi enggan melihatnya." ujar Deni.

__ADS_1


__ADS_2