
setelah melajukan mobil mengikut arahan dari ibu tadi, namun sudah berapa ratus meter tidak ada kendaraan yang ibu tadi sebutkan! bahkan plat nomernya pun tidak ada yang sama.
"Gimana mas apa sudah terlihat mobilnya?" tanya Melani.
"Belum Melani, bahkan dari tadi tidak ada yang sama dengan plat nomer yang ibu tadi sebutkan." jawab Agus.
"Bagaimana ini mas? aku takut kita akan terlambat menolongnya!" ujar Melani sambil menangis.
"Kamu berdoa saja Melani semoga semuanya baik-baik saja!" ujar Agus.
Mereka pun langsung saling diam dengan pikirannya masing-masing, Deni terus saja melajukan mobilnya hingga sudah satu jam lamanya namun mobil Dengan plat nomer yang ibu tadi sebutkan tidak terlihat.
"Bagaimana ini pak? apa kita putar balik saja ke kontrakan om Rudi? kita tunggu dia kembali! siapa tau hati om Rudi terbuka dan tidak jadi menjual Reyna!" ujar Deni.
"Baiklah, kita putar balik saja! bapak pun ingin memberi pelajaran terhadap si Rudi yang kurang ajar itu." jawab Agus.
"Baik pak." ujar Agus lalu memutar kemudinya berbelok arah menuju tempat tadi.
Setelah sampai di kontrakan Rudi waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, namun ibu yang tadi memberi informasi masih ada seperti sedang menunggu seseorang, ketika mereka turun ternyata si ibu tadi menghampiri mereka.
"Syukurlah kalian datang! apa kalian tidak menemukan mobil yang Rudi bawa?" tanya si ibu itu.
"Iya bu, kamu sudah tertinggal jauh." jawab Deni.
"Begini saya tadi lupa memberitahu kepada kalian bahwa wanita yang sedang hamil tadi yang katanya anak Agus itu di bawa tidak sadarkan diri dan saya pun tidak tau penyebabnya apa? karena dari awal Rudi bawa ke sini dia sudah dalam keadaan seperti itu." ujar si ibu.
"Astagfirullah, apa yang terjadi dengan Reyna!" ujar Melani sambil menangis.
"Apa Rudi bersama seseorang selain dengan anaknya itu." tanya Agus.
"Iya pak, tentu saja dia bersama temannya untuk membantu membawa wanita itu! apa kalian sudah mencarinya di rumah sakit terdekat? karena tadi ada yang menanyakan keadaan wanita itu, Rudi menjawab bahwa dia pingsan karena mual kelamaan berada dalam mobil." ujar si ibu itu.
Tapi feeling Agus gak begitu, pasti Rudi sengaja membuat Reyna pingsan agar memuluskan rencananya.
__ADS_1
"Bolehkah kami masuk ke kontrakan Rudi terlebih dahulu? kami ingin beristirahat dulu, siapa tau nanti Rudi pulang ke sini!" ujar Agus.
"Boleh pak, nanti saya mintakan kunci cadangannya kepada tetangganya yang biasa menitipkan kunci kontrakan."Jawab si ibu.
"Baik Bu, terimakasih atas bantuannya." ujar Agus.
"Sama-sama pak, mari bu, pak, dan masnya!" jawab si ibu.
Si ibu itu pun mengantarkan mereka ke depan kontrakan Rudi dan meminta kunci cadangan ke tetangga Rudi, memberitahukan bahwa mereka yang datang adalah keluarga Rudi sehingga yang memegang kunci memberikannya.
"Istri macam apa aku, ketika aku baru mengetahui bahwa mas Rudi mengontrak di sini!" ujar Melani dalam hati.
"Melani kamu istirahat saja dulu! jangan lupa tunaikan kewajiban kita kepada Alloh lalu berdoa untuk kebaikan Reyna." perintah Agus.
"Baik mas!" jawab Melani.
Melani pun masuk ke dalam lalu ke kamar mandi yang ada di kontrakan itu, tapi sebelumnya Melani sudah meminjam mukena si ibu tadi sebelum mereka masuk ke kontrakan Rudi.
"Apa yang akan bapak lakukan ketika nanti bertemu om Rudi?" tanya Agus dengan tiba-tiba.
"Maaf!" ujar Deni.
"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Agus merasa heran.
"Karena walau bagaimana pun aku yang pertama yang telah membuat hidup Reyna hancur, sekarang di tambah dengan om Rudi entah apa yang di rasakan Reyna nanti!" jawab Deni merasa bersalah.
"Tidak apa-apa yang lalu biarlah berlalu, bapak tau kamu pasti menghawatirkan Reyna juga! apalagi anak yang di kandungnya adalah anak biologismu! tapi tetap yang di lakukan Rudi sudah di luar batas, tidak ada maaf untuknya." ujar bapak.
"Iya pak, aku pun tak percaya om Rudi bisa melakukan itu! oh iya pak aku lupa mengabari Lestari, pasti dia menunggu kabar dari kita." ujar Deni.
"Ya sudah kabari Lestari sekarang! kau tau sendiri Lestari seperti apa? jangan bilang terlebih dahulu keadaaan di sini! kita tunggu kepastiannya dulu besok." perintah Agus.
"Baik pak." jawab Deni lalu mengeluarkan ponselnya, namun pas di cek ternyata ponselnya kehabisan baterai.
__ADS_1
"Ya Alloh pak ternyata ponselku habis baterainya! pantesan dari tadi tidak mendengar panggilan masuk, bisa jadi Lestari menghubungiku tapi nomernya tidak aktif." ujar Deni ketika menyadari bahwa ponselnya kehabisan baterai.
"Ya sudah kamu cepetan isi dayanya! agar Lestari tak semakin gelisah di sana, kabari dia sambil mengisi daya saja agar lebih cepat!" ujar Agus.
"Baik pak, aku ambil dulu changernya di mobil." jawab Deni lalu Agus mengangguk dan Deni pun mengambil changernya di mobil.
****
Sedangkan di rumah orangtua Lestari, Lestari dan Rina sedang gelisah menunggu kabar berita dari Agus juga Deni namun tak kunjung datang! Ridwan juga tidak biasanya dari tadi dia terus menangis, apa mungkin ini adalah ikatan batin antara dirinya dan Ridwan karena tengah gelisah? untunglah Lisa pengertian di jam masih terbilang siang ini sudah tidur.
"Bagaimana ini bu? mas Deni dan bapak belum menghubungi kita! mana Ridwan malam ini begitu rewel." ujar Lestari.
"Mungkin hati kita yang sedang gelisah hingga Ridwan pun ikut gelisah perasaannya, kamu tenangkan dulu hatimu! agar Ridwan juga merasa tenang." perintah Rina.
"Baik ibu." jawab Lestari sambil menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya sendiri dan berpikir yang positif bahwa semua akan baik-baik saja.
Benar saja setelah dirinya merasa lebih sedikit tenang, Ridwan pun tertidur kembali dengan keadaan tenang, Rina yang memang sedang berada di kamar Lestari juga karena sama-sama menunggu kabar dari suami dan menantunya.
"Bu aku telepon duluan saja mas Deninya! siapa tau dia lupa mengabari." ujar Lestari sambil mencoba melakukan panggilan telpon, namun sayang nomer ponsel Deni sedang di luar jangkauan.
"Duh bu gimana ini? nomer ponsel mas Deni tidak bisa di hubungi!" ujarnya.
"Coba kamu telpon ke nomer Melani!" pinta ibu.
"Iya ibu benar, aku coba telpon ke nomer Tante Melani." ujar Lestari sambil mencoba memanggil nomer Melani juga, namun sayang nomer Melani pun sama sedang di luar jangkauan juga.
"Sama bu tidak bisa di hubungi! ya Alloh semoga mereka baik-baik saja." ujarnya sambil menahan air matanya karena gelisah dan kawatir.
"Kamu tenang sayang! nanti Ridwan ikut gelisah lagi! kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja." ujar ibu mencoba menenangkan Lestari padahal hatinya juga sedang gelisah! namun Rina harus tetap terlihat tegar di depan anaknya.
☘️Sekian dulu ya.☘️
Maaf baru up, author mau serius dulu di novel yang satunya yang berjudul "Pergi karena cinta"
__ADS_1
Padahal sama kadang di sana juga jarang up 🤭
Mohon dukungannya ya, dengan like, vote dan komennya. Terimakasih. 🥰🥰