This Wound

This Wound
Episode 17


__ADS_3

Di ruang keluarga, Deni mengacak rambutnya frustasi setelah apa yang di katakan Lestari padanya.


"Kamu balik ke kamar saja dulu Reyna! istirahatlah bukankah kamu gak boleh letih?" ujar Deni.


"Baik mas." jawab Reyna.


Reyna memilih diam karena takut kena imbasnya, biarlah nanti dia pikir kan lagi caranya, agar Deni bisa memilihnya dan menceraikan Lestari.


Kini Deni duduk sendiri, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan? Deni kira ketika mereka berbicara bertiga, Lestari akan mengizinkannya menikah dengan Reyna tanpa harus bercerai dengannya, toh mereka bersaudara pasti bisa menyayangi dan memahami.


"Aku tidak mau kehilangan Lestari juga anak-anak tapi aku juga harus bertanggung jawab terhadap Reyna! bagaimana pun anak yang di kandungannya adalah anak kandungku!" ujar Deni.


"Apa aku nikahi Reyna hanya sampai melahirkan saja? Setelah itu aku ceraikan dia, Dan aku pun akan menanggung semua biaya anak itu nanti." ujar Deni lagi pelan.


"Tapi bagaimana jika ibu dan bapak tau? apa mereka masih menerimaku? ahh... aku pusing sekali." ujar Deni.


"Lebih baik aku pergi dulu, sambil mencari makanan! Lestari pasti tidak mau masak jika lagi seperti ini." ujar Deni sambil bangkit dan pergi keluar membawa motor.


Di balik dinding sekat antara ruang keluarga dan ruang makan Reyna mengepalkan tangannya, dia tidak mau kalau Deni menikahinya hanya sampai dia melahirkan, yang dia inginkan Deni menikahinya itu selamanya dan Deni harus menceraikan Lestari.


"Itu tak boleh terjadi mas, aku akan melakukan segala cara agar kau berpisah dengan mbak Lestari selamanya." ujar Reyna dalam hati.


Lalu dia kembali melangkah ke arah kamarnya.


****


"Sudah sore, anak-anak rewel gak ya sama ibu? mau ke sana takut ibu liat mata ini bengkak, aku belum siap kalo ibu bapak tau semua ini." ujar Lestari ketika dia melihat jam sudah menunjukan pukul 5 sore.


"Mau masak juga aku lagi malas, biarlah mas Deni yang menyiapkan." ujarnya lagi.


"Apa aku telpon ibu ya? Ya udah deh telpon ibu aja asal jangan Vidio call." pikir Lestari.


Lestari pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu menekan tombol panggil di nomer ibu.


Tut...tut...tut...


"Halo assalamualaikum Lestari." ujar ibu di sebrang telpon sana.

__ADS_1


"Iya ibu waalaikumsalam, ibu anak-anak rewel tidak? Aku mau ke sana belum sempet." tanya Lestari.


"Tidak nak Alhamdulillah, mereka anteng sekali sama kakeknya! kamu ada masalah apa sama suamimu? Apa masalahnya sudah selesai?" jawab ibu.


"Masalah?" tanya lestari lagi.


"Iya Deni bilang ada masalah yang harus kalian selesaikan, apa semuanya baik-baik saja Lestari?" jawab ibu.


"Oh itu bu, iya Bu kami baik-baik saja! hanya ada masalah sedikit, insyaallah kami bisa menyelesaikannya, jika aku udah gak bisa menyelesaikannya, baru aku minta pendapat ibu." ujar Lestari.


"Oh ya sudah, dari tadi ibu memikirkan kalian, semoga masalahnya tidak berlarut-larut ya nak, Amin." ujar ibu.


"Iya ibu Amin, mungkin nanti anak-anak biar mas Deni yang jemput ya Bu." ujar Lestari.


"Iya nak, kamu tenang saja anak-anakmu di sini anteng." jawab ibu.


"Iya Bu terimakasih sudah menjaga mereka." ujar Lestari.


"Iya sama-sama sayang, gak usah berterimakasih ibu senang menjaga mereka, mereka cucu-cucu ibu juga." ujar ibu


Lestari pun tersenyum.


"Iya nak." jawab ibu.


"Assalamualaikum bu." ujar Lestari


"Waalaikumsalam." jawab ibu.


Klik.


" Em... huhh" suara Lestari yang menghela nafasnya.


"Syukurlah kalau mereka tidak rewel." ujar Lestari.


"Aku buat teh saja deh, terus sambil kompres mata ini biar gak keliatan bengkak." ujar Lestari lagi.


Dia pun bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur.

__ADS_1


Pertama Lestari menuju lemari es dulu untuk melihat adakah batu es untuk mengompres matanya. Setelah di liat ada, lalu lestari mengompres matanya sendiri di kamar mandi sambil mencuci matanya.


Setelah selesai lestari pun melanjutkan tujuan utamanya membuat teh agar pikirannya rileks.


Ketika sudah selesai lestari membawa teh yang masih mengepul untuk kembali ke kamarnya. Namun pas dia sampai depan kamar Reyna, Reyna tiba-tiba saja datang, Reyna yang menyadari bahwa Deni pun baru pulang langsung menyenggol lestari, alhasil teh yang masih mengepul jatuh ke badan Reyna, Reyna pun pura-pura terjatuh.


Pyarrrrrr....


"Aww.. sakit mbak." ujar Reyna.


Lestari yang kaget atas apa yang di lakukan Reyna pun hanya diam mematung, Lestari masih syok dalam belum menyadari keadaan sekitar.


Diluar Deni yang mendengar benda jatuh dan teriakan Reyna yang kesakitan langsung buru-buru masuk ke dalam tanpa membawa makanan yang sudah dia beli, yang dia sangkutkan di motor.


Ketika sampai dimana suara Reyna, Deni begitu kaget melihat Reyna terjatuh! badannya sedikit basah dan ada pecahan kaca di sekitarnya, juga Lestari yang diam mematung hanya melihatnya.


"Reyna!" ujar Deni keras.


Lestari yang mendengar suara suaminya langsung tersadar dan hendak membantu Reyna, namun tangannya yang baru saja hendak membantu berhenti ketika Reyna berbicara


"Ampun mbak, jangan sakiti anakku! aku tau aku salah." ujar Reyna sambil menangis.


Lestari melotot, jadi ini sebagian dari drama Reyna yang ingin membuat Deni berpikir kalau dirinya ingin mencelakai Reyna.


Deni yang mendengar ucapan Reyna pun begitu salah paham, dia begitu geram kepada lestari dan tidak menyangka Lestari bisa berbuat seperti itu! Deni pun berjalan menghampiri Reyna dan langsung membantu Reyna.


"Lestari mas gak menyangka, kamu bisa berbuat jahat seperti ini! jika kamu marah kamu lampiaskanlah pada mas bukan pada bayi yang ada di kandungan Reyna." bentak Deni tanpa mau mendengar dahulu penjelasan Lestari, dia langsung percaya saja pada drama yang di ciptakan Reyna.


"Kamu tau sendiri kan kandungan Reyna itu lemah, mas gak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu dengan kandungan Reyna." ujar Deni lagi sambil menggendong Reyna dan masuk ke dalam kamar yang Reyna tempati.


Lestari tambah syok ketika Deni berani membentaknya demi Reyna, karena baru kali ini Deni berani membentaknya. Harusnya Deni tidak mudah percaya begitu saja, karena apa yang dia lihat tidak semuanya benar.


Lestari yang sakit hatinya berlari ke kamar sambil menangis, dia masih tidak terima Deni membentaknya! dia juga tidak menyangka Reyna yang dia sayangi begitu licik untuk mendapatkan Deni suaminya.


"Kamu tega mas sama aku, segitukah kepercayaanmu padaku mas?" ujar lestar di sela Isak tangisnya.


☘️☘️ Hay Hay segitu dulu ya, besok lanjut lagi 🤗☘️☘️

__ADS_1


Maaf baru update kemaren selama 3 hari lagi sakit jadi gak kepikiran ide untuk menulis. Dukung terus author ya dengan tinggalkan like, vote and coment agar author semangat dalam menulis.


Salam sehat buat kalian semua 🤗🤗


__ADS_2