This Wound

This Wound
Episode 37


__ADS_3

Setelah sampai di sekolahan Lisa, ternyata Lisa sedang menunggu jemputannya! ketika dia melihat mobil orangtuanya tiba, Lisa pun langsung menghampiri dan masuk ke dalam mobil.


"Kenapa lama sekali jemput akunya?" tanya Lisa ketika dia sudah duduk dalam mobil dengan wajah cemberut.


"Maaf sayang! tadi jalanan sedikit macet." jawab Lestari.


Namun wajah Lisa masih saja cemberut, Deni pun langsung membujuk Lisa agar tak cemberut lagi.


"Jangan cemberut terus dong sayang ihh jelek!" ujar Deni.


Karena Lisa masih saja cemberut akhirnya Deni membujuk Lisa dengan pergi ke Timezone sekarang juga.


"Emm........ gimana kalau sekarang kita pergi ke Timezone pasti seru ya Bu?" ujar Deni.


"Iya nih yah, kita udah lama kan gak jalan bareng?" jawab Lestari sambil melirik ke arah kaca spionnya agar bisa tau reaksi Lisa seperti apa.


Lisa pun sedikit tersenyum, lalu cemberut lagi.


"Ya sudah deh bu gak jadi saja, karena Kaka Lisanya juga gak mau ke sana!" ujar Daniel sambil tersenyum jahil.


"Ihhh..... ayah siapa yang gak mau? kaka mau ko!" jawab Lisa.


"Tapi wajahnya itu masih cemberut aja, ayah gak mau ah!" ujar Daniel lagi.


"Gak ayah, kaka gak cemberut lagi! nih ayah lihat hehehe...." jawab Lisa sambil menampakan senyumannya membuat Deni dan Lestari terkekeh.


"Nah gitu dong, anak ayah kalau tersenyum jadi cantik ya Bu?" ujar Deni menggoda Lisa.


"Iya yah, siapa dulu dong ibunya?" jawab Lestari sambil tersenyum.


Lisa pun senyum malu-malu ketika dirinya di puji cantik seperti orang dewasa saja, dalam perjalanan pun kembali ramai karena Lisa tidak merajuk lagi.


Setelah sekian lama berada di Timezone yang ada di salah satu mall, mereka pun memutuskan untuk pulang! sebelum pulang mereka juga mampir makan siang dan melaksanakan solat Dzuhur.


*****


Di rumah orangtua Lestari, Reyna kini sedang merapihkan bajunya ke dalam koper! dalam hatinya dia begitu bahagia walau ada sedikit yang mengganjal dari hatinya apalagi mamahnya tidak pernah mengabarinya selama ini, sekarang tiba-tiba ayahnya yang datang bukan mamahnya lalu dimana mamahnya? dia sendiri pun tak tahu namun semua perasaan yang mengganjal itu selalu tetap dia tepis, dia tidak ingin kehilangan momen dimana ayahnya menyayanginya hal yang selama ini dia tunggu.


Ketika dia sedang asyik merapihkan semua yang akan dia bawa, Rina tiba-tiba saja masuk ke kamar Reyna dan duduk di samping Reyna.


"Kamu sudah selesai merapihkan semuanya?" tanya Rina kepada Reyna sambil mengelus rambut panjang Reyna.


"Alhamdulillah sudah budeh." jawab Reyna sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa tidak lelah?" tanyanya lagi.


"Tidak budeh." jawab Reyna sambil menepuk pelan tangan budehnya.


Rina pun menghela nafasnya.


"Budeh mau tanya sekali lagi sama kamu! apa kamu benar-benar sudah memikirkannya untuk kembali ke orangtuamu? entah kenapa perasaan budeh menjadi tak tenang saat akan melepaskanmu ini!" tanya Rina.


Reyna pun tersenyum.


"Iya budeh Reyna sudah berpikir berkali-kali, budeh tenang saja ya jangan kawatir! Reyna akan kembali bersama orangtua Reyna bukan dengan yang lain." Jawab Reyna mencoba menenangkan budehnya.


"Baiklah, budeh tidak bisa memaksamu untuk tetap di sini tapi budeh minta sama kamu, kamu jaga kesehatan! kalau ada apa-apa langsung hubungi budeh atau pakde ya!" ujar Rina.


"Baik budehku sayang." jawab Reyna sambil memeluk budehnya dan mencium pipinya.


"Kalau sudah selesai, keluar lah! kita makan siang bersama-sama, pakdemu sudah menunggu dari tadi." ujar Rina.


"Iya budeh sebentar lagi selesai." jawab Reyna dan Rina hanya mengangguk saja, lalu bangkit dari duduknya dan langsung berjalan keluar kamar.


"Sebenernya Reyna pun sama budeh, hati Reyna merasa ada yang mengganjal! tapi Reyna ingin mencoba dulu karena Reyna rindu akan kasih sayang seorang ayah." ujar Reyna pelan pada dirinya sendiri.


"Terakhir aku mendapatkan pelukan dari ayah saat aku masih kelas 1 SD, sampai sekarang baru aku merasakannya lagi! entah ada apa dengan ayah? hingga berubah menjadi dingin." ujarnya tak terasa air mata pun menetes lalu Reyna buru-buru menghapusnya.


****


Seperti yang di di bicarakan tadi oleh Reyna, Rudi kini telah datang ke rumah Agus orangtua Lestari untuk menjemput Reyna.


"Assalamualaikum." ujarnya.


"Waalaikumsalam." jawab Agus, Rina dan Reyna bersamaan karena memang mereka sedang menunggu kedatangan Reyna.


"Masuk Rudi!" ujar Agus.


Rudi pun masuk ke dalam rumah Agus dan duduk di kursi tamu.


"Apa kabar mas, mbak?" tanyanya pada Agus dan Rina.


"Kabar kami baik." jawab Agus.


"Maaf mas untuk waktu itu, aku benar-benar menyesal!" ujar Rudi tapi Agus bisa melihat tidak ada raut serius dalam wajah Rudi.


"Baiklah aku sudah memaafkanmu." jawab Agus sambil menghilangkan pikiran anehnya.

__ADS_1


"Baiklah mas, pasti Reyna sudah mengatakan apa maksudku datang ke sini mas!" ujar Rudi.


"Iya dan bisakah kita bicara dulu berdua saja? sebelum kalian pergi!" tanya Agus.


"Mas mau bicara apa?" tanya Rudi karena takut rencananya di gagalkan oleh Agus.


"Sudah ikut denganku ke belakang sebentar!" ujar Agus sambil bangkit dan pergi ke arah belakang rumahnya.


"Reyna tunggu dulu ya di sini sama budehmu! ayah mau bicara dulu sama pakde mu, nanti setelah selesai bicara baru kita berangkat." ujar Rudi pada Reyna.


"Iya ayah." jawab Reyna tersenyum.


Lalu Rudi pun bangkit dan mengikuti Agus ke belakang rumah Agus.


Setelah sampai Rudi pun tanpa menunggu lama langsung saja bertanya kepada Agus.


"Mas mau bicara apa?" tanyanya.


"Apa kamu benar-benar menyesal terhadap Reyna? apa kamu benar-benar sudah menerimanya?" tanya Gus to the point.


"Iya aku sungguh-sungguh mas!" jawab Rudi.


"Apa kamu serius? bagaimanapun pun mas tau masalalu mu!" ujar Agus.


"Kenapa mas jadi banyak bertanya? dan mas jangan terlalu ikut campur urusanku!" jawab Rudi dengan nada sedikit di tinggikan karena Rudi paling tidak suka kalau ada orang yang mengungkit masa lalunya.


"Walaupun Reyna bukan anak kandungmu, setidaknya kau harus ingat di saat kau menyayanginya saat belum tau dia darah dagingmu! mas tau dalam hati kamu yang paling terdalam kau menyayanginya Rudi! lupakan masalalu dan mulai lah menerima Reyna dengan tulus!" ujar Agus.


"Mas tidak pernah tau apa yang aku rasakan mas! dan aku pinta mas jangan terlalu ikut campur urusan ku dengan Reyna! aku tulus atau pun tidak itu adalah urusanku." jawab Rudi.


"Justru karena mas tau dan karena mas peduli, agar kelak kau tidak menyesal Rudi! dan harus kamu ingat, jika terjadi sesuatu terhadap Reyna kau akan menerima akibatnya!" ujar Agus dengan nada sedikit tinggi juga karena kalau terlalu tinggi takut Reyna mendengarnya.


Rudi pun bangkit dari duduknya.


"Terserah mas, aku tidak peduli." ujarnya sambil melenggang pergi tanpa menjawab ancaman Agus.


"Rudi....Rudi...aku belum selesai bicara!" ujar Agus namun tak bisa berteriak karena takut Reyna curiga.


"Akhh....... kenapa adikku yang satu ini susah sekali di nasehati? entah sampai kapan dendamnya akan hilang? kasian Reyna yang tidak tau apa-apa?" ujar Agus frustasi sambil mengacak rambutnya sambil menerawang jauh memikirkan kejadian beberapa belasan tahun lalu.


☘️Sekian dulu ya...☘️


INSYAALLAH episode selanjutnya langsung flashback masalalu orangtua Reyna ya, jadi yang penasaran ikutin terus cerita Lestari ini ya πŸ˜πŸ˜πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa dukungan authornya ya dengan like, vote and komentarnya, tidak lupa juga dengan poin untuk semangatnya, terimakasih πŸ€—πŸ€—πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2