This Wound

This Wound
Episode 28


__ADS_3

"Assalamualaikum..." ujar Lestari ketika sampai di depan pintu rumah orangtuanya.


"Waalaikumsalam, eh cucu-cucu nenek." jawab ibu ketika membukakan pintu sambil langsung menggendong Ridwan.


Lestari pun mencium punggung tangan ibu.


"Bapak ada di rumah bu?" tanya Lestari pada ibu.


"Ada sayang, bapak lagi di belakang." jawab ibu.


"Ya sudah ayo masuk." ujar ibu.


"Iya ibu." jawab Lestari dan langsung masuk beriringan dengan ibu sambil menuntun Lisa.


"Kakek...." panggil Lisa dengan suara cemprengnya ketika sampai di ruang keluarga neneknya.


Bapak yang kebetulan ada di belakang mendengar suara Lisa, cucunya yang sangat dia sayangi langsung menghampirinya.


"Cucu kakek." ujarnya sambil memeluk dan menggendong Lisa dan menciumi pipi gembulnya.


"Hahahaha..... geli kakek." ujar Lisa.


"Hahahaha.... kakek senang kalian datang." ujarnya.


"Oh iya tumben kamu pagi-pagi sudah datang? pasti ada sesuatu yang mau di bicarain!" tanya bapak.


"Hehehe iya pak, kebetulan Lestari juga lagi senggang dan bingung mau ngapain di rumah, Lisa juga kan lagi libur sekolah." jawab Lestari.


"Ada apa? apa Deni mengganggumu?" tanyanya lagi.


"Gak ko pak, gini lho karena aku sekarang sendiri terus kalau mau ngerjain tugas rumah gak ada yang jagain anak-anak, jadi aku putuskan untuk menyewa orang untuk membantuku pak, bu! itu juga gak menginap pak hanya untuk bantu-bantu saja, kalau memasak aku yang kerjain." jawab Lestari.


"Oh bagus itu kenapa gak dari kemaren saat Deni ada? mungkin dengan begitu perhatianmu jadi gak berkurang untuk Deni." ujar bapak.


"Iya sih pak, tadinya aku masih bisa melakukannya sendiri pak, mas Deni juga bantu jagain anak! eh taunya gara-gara ini malah mas Deni yang kurang aku perhatikan." ujar Lestari.


"Ya sudah yang lalu biarlah berlalu, sekarang ke depannya kamu harus bisa belajar dari pengalaman!" ujar bapak.


"Oh iya apa kamu sudah dapat orangnya." tanya bapak.


"Nah itu pak Alhamdulillah sudah dapat, padahal baru kemaren aku tanya-tanya sama bu Aminah, eh tadi dia ke rumah bawa sodaranya yang kebetulan lagi membutuhkan pekerjaan ya sudah aku terima saja, karena aku liat dia gak neko-neko terus usianya juga sudah tidak muda walau tidak tua juga pak namanya bu Rasmi." jawab Lestari panjang lebar.


"Ibu Aminah yang tetanggamu itu?" tanya ibu.


"Iya ibu, yang kata ibu orangnya baik sekali." jawab Lestari.


"Oh itu ibu juga kenal sama sodaranya yang bernama Rasmi, memang betul dia sekarang jadi tulang punggung keluarganya, dengan kamu menerimanya untuk bekerja di rumah kamu sudah membantunya sayang." ujar ibu.


"Emang bener bu? Alhamdulillah kalau begitu." ujar Lestari.

__ADS_1


"Iya nak." jawab ibu.


"Ya sudah kamu pasti belum makan siang kan?" tanya ibu lagi.


"Iya Bu kan baru jam 11." jawab Lestari.


"Ya sudah bantuin ibu masak yu, nanti kamu dan anak-anak makan di sini saja!" ujar ibu.


"Biar anak-anakmu sama kakeknya.


"Siap ibu." jawab Lestari.


"Ya udah pak, nitip anak-anak ya! ibu sama Lestari mau masak." pinta ibu sama bapak.


"Iya siap, biar kakek yang jagain cucu kakek ini, sini bu Ridwannya biar kakek yang gendong dan kakak Lisa turun dulu ya! nanti kita bermain di belakang." jawab bapak sambil menurunkan Lisa dari gendongannya dan meraih Ridwan dari gendongan ibu.


"Baik kakek, hore maen kelinci lagi ya kek." ujar Lisa karena di belakang rumah orangtuanya memang ada kelinci.


"Iya sayang " jawab bapak sambil mencium pipi Lisa dan mengajaknya ke belakang.


Setelah ibu dan Lestari sampai di dapur, ibu langsung saja mengeluarkan bahan-bahan yang akan di pasak dari dalam kulkas, mereka pun dengan kompak menyiangi sayuran beserta bumbunya seperti bawang dan cabai juga ayam yang ibu cuci terlebih dahulu lalu di ungkeb.


"Kamu tau nak, tadi pagi ayahnya Reyna membuat keributan di sini." ujar ibu.


"Keributan apa bu?" tanya Lestari heran.


Ibu pun menceritakan keributan yang terjadi tadi pagi, Lestari yang mendengarnya pun kaget! ko bisa ada seorang ayah yang begitu.


"Iya dia kecewa dan menangis, dia juga tidak berani menghampiri ayahnya! ibu kasian sam Reyna, pantas saja dia iri padamu." jawab ibu.


"Tapi yang ibu senangi sekarang, sepertinya sekarang benar-benar menyesali perbuatannya! semoga saja kedepannya kehidupan Reyna lebih baik lagi." lanjutnya.


"Alhamdulillah kalau dia menyesali semua perbuatannya." ujar Lestari bersyukur.


"Kamu sudah tidak marah sama dia?" tanya ibu.


Lestari pun tersenyum.


"Marah dan kecewa itu sudah pasti bu, tapi menahan benci dan dendam juga tidak baik untuk aku bu! jadi aku udah iklaskan semua yang terjadi, mungkin ini pelajaran juga untuk aku agar aku bisa lebih baik lagi." jawab Lestari bijak.


Reyna yang memang dari tadi ada di sana tanpa mereka sadari mendengar perkataan Lestari barusan langsung terharu.


"Terimakasih mbak." ujarnya membuat ibu dan Lestari terkejut.


"Reyna!" ujar Lestari dan ibu.


"Sejak kapan kamu di situ?" tanya ibu.


Reyna pun menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Belum lama budeh." jawabnya kepada ibu.


"Mbak maafin aku ya, maaf untuk segalanya dan terimakasih sudah mau memaafkan aku." ujar Reyna pada Lestari.


Lestari pun tersenyum.


"Iya tidak apa-apa, yang penting kamu sudah menyesalinya." jawab Lestari dan mereka pun berpelukan.


"Alhamdulillah anak-anak ibu aku lagi, ayok Reyna bantu kita memasak! dan kamu jangan merasa sendiri lagi! di sini ada Lestari mbak mu, budeh dan pakde yang akan mendukungmu." ujar ibu.


"Baik budeh." jawab Lestari.


Mereka pun lanjut mengerjakan kerjaan yang tertunda tadi! di sela-sela aktivitas mereka, mereka pun bercanda menjadikan dapur ibu ramai dengan obarolan mereka.


Setelah selesai Lestari pun izin kepada ibu dan Reyna untuk mengecek anaknya juga ponsel yang berada di tasnya.


Ibu dan Reyna pun mengangguk pertanda mempersilahkan Lestari.


"Langsung panggilkan bapakmu untuk makan siang." ujar ibu.


"Baik ibu." jawab Lestari.


Lestari pun pergi dari dapur menuju ke ruang keluarga untuk mengambil ponselnya dulu lalu langsung ke belakang menghampiri bapak dan anak-anaknya.


Ketika sampai Lestari bisa melihat bapak yang sabar mengajak anak-anaknya bermain membuat Lisa tertawa lepas! Lestari pun menghampiri mereka.


"Seneng banget anak ibu mainnya sampai ketawa-ketawa begitu." ujar Lestari ketika sudah sampai dekat Lisa.


"Iya ibu kakek lucu." jawab Lisa.


"Kalian sudah selesai masaknya?" tanya bapak.


"Sudah pak, ini di suruh ibu untuk panggilkan bapak." jawab Lestari.


"Ya sudah yuk cucu-cucu kakek kita makan!" ujarnya sambil menggendong Ridwan.


"Ayo kek! aku juga sudah lapar." jawab Lisa sambil bangkit dari duduknya.


Lestari pun tersenyum sambil membantu Lisa dan melangkah mengikuti bapaknya, tapi saat baru 2 langkah ponselnya tiba-tiba saja berdering menandakan ada panggilan masuk, dan ternyata yang melakukan penggilan adalah Deni yang menelpon vidio call.


"Lisa ini ayah menelpon." ujar Lestari sambil mencoba menghentikan langkah Lisa.


"Ayah telpon bu?" tanyanya riang.


"Iya sayang." jawab Lestari.


Lisa pun dengan semangat mengangkat telpon dari ayahnya dan mereka mengobrol lama dengan Lisa yang bercerita ini itu pada Daniel.


☘️ Sekian dulu ya, semoga kalian suka.☘️

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya buat author dengan like, vote dan poinnya, tidak lupa dengan komentarnya agar author bisa tau kesalahan dalam penulisannya.


Terimakasih.


__ADS_2