
Setelah sampai di komplek perumahan tempat lestari tinggal, Lestari menyuruh sang supir berhenti.
Dia pun mencoba untuk menghapus air matanya dan merapihkan penampilannya agar saat dia bertemu dengan ibunya, ibunya tidak mencurigainya.
Setelah melihat penampilannya yang tidak sekusut tadi, Lestari pun berjalan dan masuk ke dalam gerbang rumahnya.
Ibu yang saat itu sedang menggendong Ridwan pun menolah ke arah Lestari dengan tatapan heran.
"Lho lestari, ko kamu jalan? motormu dimana dan kenapa matamu terlihat sehabis menangis?" tanya ibu pada Lestari.
"Oh itu bu tadi lestari ada kecelakaan kecil, jadi motornya aku taro di bengkel dulu, terus ini mata aku kayanya kelilipan karena angin lagi kencang bu jadi aku gesek-gesek terus malah jadi kaya abis nangis ya!" jawab Lestari.
"Tapi kamu gak kenapa-kenapa kan nak?" ujar ibu dengan nada kawatir mendengar Lestari mengalami kecelakaan kecil.
"Alhamdulillah bu tidak apa-apa, hanya motor nya aja tiba-tiba mogok." ujar Lestari berbohong.
"Maaf ibu aku belum bisa jujur sama ibu, aku takut kesehatan ibu akan terganggu jika mendengar ini semua, apalagi Reyna adalah keponakan yang paling ibu sayangi." ujar Lestari dalam hatinya.
"Alhamdulillah, terus bagaimana dengan Reyna nak? apa dia baik-baik saja? bagaimana dengan kandungannya?" tanya ibu dengan nada tak kalah kawatirnya.
"Alhamdulillah Reyna juga baik-baik saja, hanya kandungannya saja yang lemah jadi di butuh istirahat." jawab lestari
"Ya sudah kamu masuk gih! terus cuci mukanya biar gak terlalu keliatan bengkaknya." ujar ibu.
"Iya ibu, Lestari ke dalam dulu ya." ujar Lestari.
Ibu hanya mengangguk saja, ketika Lestari sudah tak terlihat lagi, Ibu menghela nafasnya sendiri seperti ada rasa sesak dalam dadanya.
"Ya Alloh ada apa dengan perasaan ku? kenapa rasanya tidak enak sekali? dan Lestari kenapa kamu berbohong kepada ibu? ibu tau kamu sudah habis menangis tapi ibu juga gak bisa memaksamu untuk bercerita sekarang, ya Alloh semoga lestari baik-baik saja, Amin." ujar ibu pelan.
****
__ADS_1
Di sebuah taman ternyata Deni masih setia berada di sana, Deni sangat frustasi memikirkan segala hal yang akan terjadi.
"Aku harus bagaimana? gimana kalau orangtua Lestari tau? maka sudah di pastikan aku akan di pisah dengan lestari dan anak-anak! itu tidak boleh terjadi, aku sangat menyayangi mereka." ujarnya
Saat dirinya sedang duduk di bangku yang ada di taman sambil memikirkan langkah apa yang harus di ambil? ponsel dalam sakunya bergetar menandakan bahwa ada panggilan telpon dari seseorang, Deni pun mengambil ponselnya lalu menjawab panggilannya.
"Mohon maaf dengan pak Deni?" tanya seseorang.
"Iya dengan saya sendiri." jawab Deni.
"Oh iya mohon maaf pak ini dengan klinik Tiara Medika ingin menyampaikan bahwa ibu Reyna sudah boleh pulang, silahkan bayar administrasinya!" jar seseorang yang menelpon.
"Oh iya baik saya ke sana sekarang." ujar Deni, lalu memutuskan panggilannya.
Deni pun lantas berdiri lalu pergi ke klinik untuk menjemput Reyna pulang sekalian membayar administrasinya.
****
"Maaf ya nak, ibu pulang dulu! bapakmu menelpon katanya ada urusan penting banget." ujar ibu.
"Iya ibu gak apa-apa, ibu hati-hati di jalan! maaf aku gak ikut ke depan, takut Ridwan bangun lagi kalau aku lepas." ujar Lestari.
Karena saat ini anaknya sedang tidur di pangkuannya dan Lisa pun sedang tidur di kasurnya.
"Iya gak apa-apa nak, padahal ibu pengen liat keadaan Reyna dulu, tapi gak apa-apa deh nanti ibu ke sini lagi kalo sudah lenggang." ujar ibu.
Lestari pun tersenyum lalu menjawab.
"Iya ibu, ibu boleh kapan pun mau ke sini." ujar Lestari
Lalu ibu pun bangkit dari atas kasur Lestari pun menyodorkan tangannya untuk mencium punggung tangan ibunya, lalu ibu berjalan keluar dari kamar.
__ADS_1
Setelah ibu tak terlihat, Lestari pun langsung rebahan sambil menumpahkan tangisannya. Dia menatap Ridwan apa yang akan terjadi dengan kedua anaknya jika Deni dan di berpisah.
Tapi jika harus memaafkan dirinya belum bisa, sungguh jika kesalahan yang lain mungkin masih bisa dia maafkan tapi untuk perselingkuhan dia tidak sanggup, apalagi ini Reyna telah hamil dia juga memikirkan bagaimana nasibnya nanti.
"Apa aku harus mengalah untuk kalian mas? lalu aku dan anak-anak harus kehilanganmu." ujat Lestari sambil terus menangis.
"Sekarang pun pasti kamu sedang bersamanya mas." ujar Lestari.
Karena keletihan lestari pun sampai tertidur, dengan Ridwan yang ada di pelukannya dan Lisa di sebelah sisi Ridwan.
****
Setelah mengurus administrasi, Deni pun membawa pulang Reyna lagi. Dia membawa Reyna ke rumahnya dengan Lestari karena dia belum tau harus Bawa Reyna kemana? di dalam mobil pun mereka hanya saling diam tidak ada yang membuka suara, Reyna pun seakan takut salah bicara .
"Biarlah nanti aku pikirkan lagi caranya, biar mas Deni lebih memilih ku." ujar Reyna dalam hati.
Lalu setalah kurang lebih 15 menit mereka pun sampai di rumah, deni memarkirkan mobilnya di teras lalu membantu Reyna turun dan membawanya ke kamar yang Reyna tempati.
"Kamu istirahatlah! ingat jangan beraktivitas kandungan mu masih lemah." ujar Deni.
Reyna yang melihat Deni perhatian padanya pun langsung tersenyum senang.
"Iya mas terimakasih." jawab Reyna.
"Iya, mas ke kamar Lestari dulu." ujar Deni.
Tanpa menunggu jawaban dari Reyna lagi, Deni langsung berlalu dari kamar Reyna menuju kamar lestari.
"Sebentar lagi mas kamu akan seutuhnya milik ku. Akan ku pastikan itu semua." ujar Reyna pelan.
****
__ADS_1
Di dalam kamar Lestari, begitu sampai di kamarnya Deni langsung melihat keadaan Lestari, masih terlihat jelas jejak air matanya. Deni sungguh hatinya teriris melihat orang yang dia cintai terluka malah dia sendiri penyebabnya, dia pun ikut merebahkan diri di samping Lestari. Biarlah saat ini saja dia memeluk Lestari karena Deni tau ketika Lestari sadar dia tidak akan mau di peluk olehnya. Entah lelah habis menangis atau lelah yang lainnya lestari pun sampai tidak menyadari bahwa orang yang membuatnya menangis sekarang sedang memeluknya.