Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Wedding Day


__ADS_3

Pernikahan pun tiba, Anna duduk di kursi tunggu ruang ganti pengantin wanita dengan risau. Sebab, kedua orang tuanya belum terlihat sama sekali sampai saat ini. Padahal sebentar lagi dia akan naik ke altar dan mengucapkan ikrar.


"Relax, Anna. Aku yakin orang tuamu akan segera datang." Grace mencoba menghibur Anna yang terus menggigit bibir bawahnya.


"Bagaimana aku bisa relax? Aku sudah menunda acaranya selama hampir dua puluh menit, namun kedua orang tuaku belum datang juga!"


Orang tuanya sudah berjanji bahwa mereka kan pulang dari London sebelum acara pernikahan dimulai. Jika mereka tidak datang maka Anna tidak segan-segan untuk membatalkan pernikahannya dengan Edgar.


"MC sudah memanggilmu. Anna, sudah waktunya kau keluar."


"Tapi, Grace, bagaimana mungkin aku memasuki altar tanpa didampingi ayahku?"


Pernikahan adalah momen yang seharusnya membahagiakan di mana seorang ayah mendampingi putrinya sambil berpegangan tangan menuju altar pernikahan. Itulah yang Anna tahu.


"Kau bisa meminta tolong adikmu, Anna! kau akan menyesal jika membatalkan pernikahan ini karena keegoisanmu. Bukankah kau mencintai Profesor Edgar?"


Ini adalah hari besar yang selalu Anna nantikan, yaitu pernikahannya dengan Edgar. Namun, di lain sisi Anna juga tidak ingin melanjutkan pernikahannya tanpa kehadiran kedua orang tua yang telah membesarkannya hingga sekarang.


Memejamkan mata, Anna mengatur irama napas dan memfokuskan pikirannya agar mendapatkan ketenangan. Setelah merasa tenang, Anna sontak membuka mata dan bangkit dari duduknya.


"Aku sudah siap."


Keluar dari ruang ganti, Anna menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman dan meraih tangan Andy yang akan menggantikan sang ayah mengantarkannya ke altar.


Namun, baru saja Anna hendak berjalan di karpet merah, sosok pria yang selalu menjadi pahlawannya berdiri di hadapan Anna dengan gagah.


"Serahkan pada Ayah."


Anna melepaskan tangan Andy dan beralih memegang tangan Andrew, sang ayah. Mereka berjalan selangkah demi selangkah sambil mengobrol ringan.


"Kapan Ayah datang? Bagaimana dengan Ibu?"


Wajar saja jika Anna bertanya, dia sempat putus harapan ketika menunggu kedua orang tuanya yang tak kunjung datang.


"Kami baru saja tiba. Ayah tidak telat, kan?"


"Hm, tadinya aku akan membatalkan pernikahannya jika Ayah dan Ibu tidak datang."


Mungkin pernyataan Anna terdengar seperti lelucon bagi Andrew, namun Anna serius ketika mengatakannya.


Sampai di altar pernikahan, Anna melepas kaitan tangannya di tangan Andrew dan berdiri berhadapan dengan Edgar.


Suasana gereja sangat damai ketika sang pendeta melangsungkan upacara pernikahan hingga akhirnya sampai pada tahap pengucapan ikrar.

__ADS_1


"Saya, Edgar Dominic, berjanji akan mencintai dan membahagiakanmu dari hari ini dan seterusnya, dalam keadaan baik, buruk, kaya atau miskin, sakit atau sehat, atas nama Tuhan, keluarga tercinta dan teman-teman."


"Saya, Anna Florence, berjanji akan mencintai dan membahagiakanmu dari hari ini dan seterusnya, dalam keadaan baik, buruk, kaya atau miskin, sakit atau sehat, atas nama Tuhan, keluarga tercinta dan teman-teman."


Selesai dengan ikrar pernikahan, mereka kemudian melanjutkannya dengan saling memasang cincin di jari manis satu sama lain, lalu diakhiri dengan sebuah ciuman.


Suara tepuk tangan dan siulan memeriahkan seisi gereja. Keluarga, teman, dan para tamu undangan lainnya begitu antusias ketika melihat Anna dan Edgar berjalan menuruni altar sambil berpegangan tangan.


"Anna, pegang bunga ini!" Grace menyerahkan sebuah buket bunga yang cantik kepada Anna.


"Ah, iya. Grace, cepat berdiri dekat denganku."


Sebelum acara lempar bunga dimulai, Anna dan Edgar melakukan foto bersama keluarga dan teman dekatnya sebagai kenang-kenangan dalam momen penting yang membahagiakan.


Jepret!


Entah sudah ke berapa kali suara itu terdengar, yang jelas mereka berfoto dengan banyak sekali gaya hingga kehilangan ide untuk gaya foto selanjutnya.


"Grace, kau harus menangkap bunga ini!"


Membubarkan diri, semua orang yang ikut berfoto, berkumpul di belakang Anna dan bersiap untuk menangkap bunga yang akan dilemparkan oleh sang pengantin.


Bunga untuk pernikahan yang dipegang oleh mempelai pengantin wanita merupakan perlambang bagi kesuburan dan juga keindahan. Ketika bunga tersebut dilempar dan didapatkan oleh seseorang yang masih lajang, diharapkan akan bisa segera menyusul pengantin untuk menikah dan mendapatkan kehidupan yang bahagia.


Hap


Bunga yang Anna lemparkan ditangkap oleh seorang pria tampan yang berdiri jauh dari kerumunan orang yang merebutkan buket bunga. Pria itu tak lain adalah Kevin. Dia bahkan terkejut karena tiba-tiba ada bunga yang terlempar ke arahnya sehingga membuat dia refleks menangkap bunga tersebut.


"Profesor? Wah ... sepertinya Anda yang akan menyusul Profesor Edgar dan Anna, ya!" Grace menghampiri Kevin yang tengah diam dengan sebuket bunga di tangannya.


Sementara itu, Kevin yang tak peduli dengan tradisi lempar bunga dan artinya itu hanya mengangkat bahu dan menyerahkan bunga tersebut kepada Grace.


"Aku tidak membutuhkan ini!"


Setelah mengatakan itu dan memberikan bunga pada Grace, Kevin melangkahkan kakinya dan pergi entah ke mana.


"Heh?"


Bagai pinang dibelah dua, sikap acuh Kevin sangat mirip dengan Edgar. Bukan hanya wajah, namun juga sikapnya pun mirip! Sepertinya memang semua anggota keluarga Dominic seperti itu.


"Dia memberikannya padamu?" Anna langsung bertanya begitu Grace tiba di hadapannya dengan membawa bunga.


"Seperti yang kau lihat sendiri, Profesor Kevin memberikannya padaku atau lebih tepatnya membuangnya padaku."

__ADS_1


Kata membuang memang lebih tepat daripada memberi. Ya, lagipula mana mungkin Kevin memberikannya secara tulus. Mereka bahkan tidak seakrab itu untuk saling berbagi.


"Kau sudah mempersiapkannya?" Grace kembali berbicara.


Mendengar pertanyaan Grace yang sedikit membingungkan, Anna sontak mengangkat sebelah alisnya ke atas.


"Mempersiapkan apa?"


"Bereproduksi."


Blush. Seketika wajah Anna merona ketika mendengar perkataan Grace yang sedang menggodanya dan membuatnya berpikiran kotor.


"A-aku tidak tahu. Apa aku akan baik-baik saja?"


Gugup, khawatir, dan takut, bercampur menjadi satu. Karena sudah menjadi pasangan suami-istri, sudah pasti Anna akan melewati malam pertama dengan Edgar. Entah mengapa hatinya merasa belum siap dengan semua yang akan terjadi padanya.


"Anna, dengarkan aku!" Grace menepuk bahu kiri dan kanan Anna, lalu menatap Edgar yang tengah mengobrol dengan teman-temannya. "Jika aku melihat Profesor Edgar, sepertinya dia bukan orang yang mudah puas jika bermain sekali. Jadi, kau harus mempersiapkan dirimu baik-baik!"


Karena Grace berbicara sambil melihat Edgar, sontak Anna pun ikut mengalihkan pandangannya kepada pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya dan wajahnya merona.


Ya Tuhan, ada apa denganku?


Siang berganti malam, para tamu undangan telah sepenuhnya meninggalkan pesta pernikahan Anna dan Edgar. Gedung yang tadinya penuh dengan kerumunan orang, sekarang sepi tanpa ada seorang pun orang selain kedua keluarga yang menggelar pesta pernikahan.


"Kami ada akan pulang lebih dulu. Selamat bersenang-senang anak-anakku."


Wajar saja jika kedua orang tua Anna pamit lebih dahulu, sebab mereka sama sekali belum istirahat dari kepulangannya di London dan langsung menghadiri pernikahan. Sedangkan Andy, dia telah menghilang sejak tadi tanpa pamit sama sekali.


Selanjutnya, kedua orang tua Edgar juga Kevin pamit pulang. Ya, lagi pula sudah tidak ada lagi yang harus dikerjakan di gedung itu, tentu saja karena pesta pernikahannya sudah selesai.


"Sekarang hanya tinggal kita berdua. Haruskah kita pulang juga?"


Edgar mengulurkan tangannya meminta bergandengan tangan dengan Anna.


"Ah benar. Sepertinya kita harus segera pulang dan ti-tidur."


"Hn, kita harus tidur setelah melalui semua acara yang melelahkan ini."


Tidur! Kata itu terdengar berbeda di telinga Anna. Pasangan suami-istri lain biasanya menyebut kata "tidur" sebagai kata lain dari melakukan hubungan intim. Namun, entah mengapa Edgar terlihat biasa saja, tidak seperti Anna yang menahan gugupnya hingga berbicara sedikit terbata-bata.


"Maaf, aku tidak bisa berjalan cepat karena gaunku terlalu panjang."


"Setelah ini buang saja gaun itu. Gaun itu sudah menyusahkanmu, Istriku."

__ADS_1


__ADS_2