Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Keguguran


__ADS_3

Di forum kampus, ada seseorang tanpa nama yang membongkar rahasia Wendy. Karena hal itu, Wendy menjadi ramai dibicarakan. Tatapan-tatapan intimidasi pun diberikan kepada Wendy setiap kali dia berjalan. 


Wendy, membuka forum kampus dan membaca postingan tersebut. Judulnya; Kebohongan Besar Wendy.


Di sana tertulis, Wendy hanya orang miskin yang berpura-pura kaya di depan teman-temannya. Dia memakai barang mahal dari hasil meminta paksa kepada ayahnya yang hanya pekerja kantoran. Bahkan, ayahnya sudah dipecat karena perilaku kasarnya terhadap seseorang.


Setelah membaca semuanya, rahang Wendy mengeras dan tangannya mengepal. Dia tahu siapa pelaku yang menyebar rahasianya. Siapa lagi kalau bukan Anna! 


Dengan hati yang penuh amarah, Wendy sontak mencari keberadaan Anna. Dia tak menyangka jika Anna akan mengkhianatinya seperti itu. Padahal Anna berjanji akan menjaga rahasianya jika dia menuruti semua perintahnya. 


"Awas kau, ya! Jika aku hancur, kau pun harus hancur, Anna!" geram Wendy. 


Selang beberapa waktu, Wendy menemukan keberadaan Anna dan langsung menghampirinya. 


"Anna!" teriak Wendy. 


"Ada apa?" jawab Anna dengan santai. 


"Kau pasti pelakunya, bukan?"


Pelaku? Anna bingung dengan arah pembicaraan Wendy. Apa yang dimaksud wanita itu? Pelaku apa? Dan mengapa semua orang menatap mereka? 


"Tunggu! Aku tidak mengerti maksudmu. Memangnya aku melakukan apa?"


Wendy tertawa keras. Betapa lucunya melihat Anna yang berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa. Dia kemudian menunjukkan postingan di forum kampus kepada Anna. 


"Ini ulahmu, bukan?" tuduh Wendy, kukuh dengan pendiriannya. 


Anna membaca dengan teliti postingan yang ada di forum kampus. Matanya kemudian terbelalak, tak percaya dengan siapa yang sebenarnya melakukan hal ini. Meskipun Anna memang mengancam Wendy, dia tidak berniat membongkar rahasia wanita itu hingga mempermalukannya. Apalagi Anna sudah mendapat kesepakatan yang menguntungkannya, untuk apa dia membongkar rahasia Wendy? 


Anna menghela napas, lalu menggelengkan kepala. "Bukan aku. Mana mungkin aku menulis postingan ini."


"Hahaha ... kau benar-benar pandai bersandiwara. Jelas-jelas hanya kau yang mengetahui rahasiaku. Apa kau masih belum puas menyiksaku seolah aku pembantumu? Dan sekarang kau justru melanggar kesepakatan kita!"


Jika Anna memang hanya satu-satunya orang yang mengetahui rahasia Wendy maka jelas jika dia dicurigai. Namun, apakah benar hanya Anna yang mengetahui rahasia Wendy? Seingatnya, dia pernah menceritakan hal itu pada Grace. Ya, Grace. Namun, Grace pasti bukan pelakunya. Untuk apa Grace melakukan hal itu? Lagi pula, Wendy memiliki banyak pembenci. Pasti ada orang lain yang dendam padanya dan memposting rahasia Wendy, bukan? 


"Dengar, Wendy. Jika aku bilang kalau aku bukan pelakunya maka aku bukan pelakunya!"

__ADS_1


"Cih! Aku tidak percaya pada orang sepertimu!"


Setelah mengatakan itu, Wendy sontak mendorong Anna hingga jatuh ke tanah.


Anna mengerang kesakitan. Darah segar kemudian keluar dari jalan lahir, bercucuran hingga ke ujung kakinya. 


"Anna!" teriak Grace. 


Sejak awal, Grace sudah menyaksikan perseteruan Anna dan Wendy. Namun, dia hanya diam dan berdiri dari kejauhan. 


Grace berlari menghampiri Anna. Melihat Anna yang kesakitan memegang perutnya, dia kemudian menghubungi Edgar mengenai kejadian ini. 


Wendy terlihat panik, dia tidak menyangka jika Anna akan pendarahan. Tidak! Dia bahkan tidak tahu jika Anna sedang hamil! 


Selang beberapa waktu kemudian, Edgar datang bersama Kevin. Kebetulan, saat Grace menghubungi Edgar, Kevin sedang ada di ruangan sepupunya itu dan segera berlari ke tempat yang diberitahukan Grace. 


"Apa yang terjadi?" tanya Edgar begitu sampai di tempat kejadian. 


Semua orang menatap Wendy. Wendy yang merupakan pelaku pun mundur ke belakang dan melarikan diri. 


"Cepat panggil ambulans!" titah Edgar kepada siapa saja. 


Anna dilarikan ke ICU karena sedang dalam keadaan darurat. Sudah lama sejak dokter memeriksanya, namun belum ada tanda-tanda dokter yang akan keluar dari ruangan. 


Setelah menunggu beberapa menit kemudian, akhirnya sang dokter muncul dengan raut wajah yang kurang baik. 


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Edgar segera. 


"Istri Anda baik-baik saja, namun bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan karena benturan yang cukup keras hingga menyebabkan pendarahan."


"Maksud Dokter, istri saya keguguran?" Edgar memastikan perkataan sang dokter. 


"Benar. Saat saya memeriksanya pun, bayi dalam kandungannya sudah sangat lemah."


Edgar kehilangan kata-kata, begitu juga dengan Kevin. Mereka syok mendengar berita buruk ini, namun Anna pasti lebih syok dan sedih mendengarnya. 


"Dok, saya ingin menemui istri saya," lirih Edgar dengan napas yang tersengal. 

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Edgar berjalan memasuki ruangan di mana Anna dirawat. Anna terlihat sedih, namun tak ada air mata yang jatuh. Wanita terkasihnya itu hanya diam menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tak mengatakan apa pun, meskipun Edgar menghampirinya. 


"Anna?" panggil Edgar dengan suara pelan. 


Anna tidak menoleh atau menjawab. Dia tetap menatap kosong ke luar jendela. 


Ah, betapa malangnya nasib Anna. Dia harus kehilangan bayi yang bahkan belum tahu jenis kelaminnya karena sebuah kesalahan yang dia tidak ketahui. 


Seandainya dia tahu, siapa yang menjebaknya hingga Wendy menyalahkannya ... 


Seandainya dia lebih berhati-hati ... 


Ah, tidak. Seandainya dia tidak berurusan dengan Wendy sejak awal, mungkin hal mengerikan seperti ini tidak akan terjadi. 


"Anna ... maafkan aku ... hiks ...," isak Edgar sembari memeluk Anna. 


Tidak, ini bukan salahmu! Anna ingin mengatakan itu, namun mulutnya terkunci rapat. Dia hanya bisa berkedip dan mendengarkan semua kata-kata yang Edgar utarakan padanya dengan tulus. 


Anna merasa tidak pantas berbicara. Tidak! Dia merasa tidak pantas hidup setelah kehilangan malaikat kecilnya.


Menangis. Anna yang tidak membuka mulutnya sama sekali tiba-tiba menangis dengan kencang di pelukan Edgar. Bulir-bulir bening air mata terus jatuh membasahi pipinya dan pakaian Edgar. 


"Aku membunuhnya! Aku membunuh malaikat kecilku ...," ucap Anna sembari berurai air mata. 


Edgar mengeratkan pelukannya dan mengelus punggung Anna yang terlihat rapuh. 


"Tidak, Anna. Kau tidak membunuhnya! Ini semua salah Wendy. Aku akan menghukumnya untukmu!"


Percuma! Meskipun Wendy dihukum, bayi dalam kandungannya tidak akan hidup kembali. Lagi pula, Anna tidak bisa menyalahkan Wendy sepenuhnya. Wanita itu mendorongnya karena ada sesuatu yang menyulut amarahnya. Anna bahkan tidak yakin kalau wanita itu tahu mengenai kehamilan Anna. 


Di samping itu, Anna mencurigai satu orang. Namun, Anna terus menepis pikirannya itu. Anna berpikir kalau orang itu tidak mungkin melakukannya. Tidak ada alasan untuknya menyakiti Anna. Itulah yang ada di pikiran Anna. 


Tangisannya reda. Anna memejamkan matanya di bahu lebar Edgar. Edgar adalah satu-satunya orang yang Anna percayai. Meskipun pria itu pernah berbohong, Anna tetap mempercayainya. Suami over protektif yang sangat berharga untuk Anna. 


"Anna? Apa kau tidur?" tanya Edgar. 


Edgar bisa merasakan hembusan napas Anna di bahunya. Hembusan napas yang teratur dan dengkuran halus yang menyertainya. 

__ADS_1


Perlahan, Edgar melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuh Anna di ranjang pasien. Dia menatap wajah Anna dan mencium bibirnya sekilas. 


__ADS_2