
Edgar mengenakan pakaiannya. Dia pun membantu Anna berpakaian meskipun Anna masih belum sadar dari tidurnya.
Setelah membereskan kekacauan di kamarnya, Edgar segera menghubungi dokter pribadi keluarga Dominic untuk datang dan memeriksa kesehatan Anna. Dia takut terjadi hal buruk pada istrinya.
"Dokter, bagaimana keadaan Anna?"
"Dia kelelahan dan terdapat banyak luka lebam di tubuhnya. Apa kau yang melakukannya?"
Dokter pribadi keluarga Dominic adalah teman baik ayah Edgar. Dokter itu mengetahui tentang trauma yang Edgar alami karena dia adalah orang yang menangani dan merawat Edgar setelah kejadian penculikan di masa lalu.
"Aku tidak tahu ... aku tidak mengingatnya," lirih Edgar dengan wajah merasa bersalah.
"Apa kau tidak ingin mempertimbangkan tawaranku untuk pergi ke psikiater? Kau sakit, Ed. Kau harus sembuh, setidaknya demi istrimu."
Edgar terdiam, matanya melihat ke arah Anna yang terbaring tak berdaya.
"Aku akan memikirkannya."
"Lebih baik kau jujur pada istrimu mengenai masa lalu yang membuatmu seperti ini. Aku yakin dia pasti mengerti."
Edgar tak pernah berpikir untuk menceritakan kisah masa lalunya pada Anna. Dia takut jika Anna akan menjauhinya setelah mengetahui penyakitnya.
Setelah dokter yang memeriksa pergi, Edgar duduk di sisi ranjang dan memegang tangan Anna. Tangan Anna sudah lebih dingin dibanding sebelumnya. Tampaknya obat yang diberikan dokter itu sudah bereaksi.
"Air ...," lirih Anna dengan suara sedikit tercekat.
"Anna? Kau sudah sadar? Syukurlah." Edgar refleks memeluk tubuh Anna.
"Ed ... air ...."
"Air? Maaf, aku terlalu senang karena kau sudah sadar."
Dengan cepat Edgar menuangkan segelas air putih dari teko kaca yang ada di atas meja samping ranjang. Edgar membantu Anna meminumkan segelas air itu sedikit demi sedikit hingga gelas itu kosong.
"Anna, maafkan aku. Karena aku, kau jadi sakit seperti ini."
"Ed, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku? Aku tahu, kau selalu menghindariku sebelum ini."
Karena Edgar selalu menghindarinya, Anna jadi melakukan segala cara untuk menggoda Edgar. Namun, Anna tidak tahu kalau Edgar memiliki sisi lain saat sedang berhubungan intim.
"Sadisme. Aku mengalami kelainan itu, Anna. Itu sebabnya aku tidak ingin tidur denganmu."
__ADS_1
"Ed, aku ...."
"Aku tidak ingin menyakitimu. Berkali-kali aku menahan hasratku ketika melihatmu, namun aku malah melakukan kesalahan fatal."
Anna hanya diam mendengarkan, dia berharap Edgar akan menceritakan semua masalahnya.
"Waktu kecil aku pernah diculik oleh seorang wanita gila. Wanita itu melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak dan ... aku salah satu dari anak tersebut."
Entah mengapa Anna tidak ingin Edgar melanjutkan cerita masa lalunya. Hatinya sakit ketika melihat pria yang dicintainya mengalami hal buruk di masa lalu.
"Sssttt! Ed, jangan dilanjutkan."
Tubuh tegap Edgar kini terlihat rapuh. Anna sontak memeluk tubuh itu dengan erat dan mencoba menenangkannya.
"Ed, tidak peduli masa lalumu seperti apa. Namun, aku tetap mencintaimu. Aku akan membantuku sembuh dari penyakit dan kelainan itu."
"Anna ...."
"Berhentilah menyalahkan dirimu! Aku tidak suka dengan Edgar yang bersikap cengeng. Tidak seperti dirimu saja!"
Dalam hal ini bukan hanya Edgar yang salah, melainkan juga Anna. Sebab, Anna yang memulai semuanya. Meskipun begitu, Anna sama sekali tidak menyesal karena telah menggoda Edgar dan membuat dirinya terluka. Jika kejadian semalam tidak ada, mungkin Anna tidak akan pernah tahu mengenai kelainan Edgar yang selama ini dirahasiakan.
"Aku senang karena telah melakukannya denganmu, Ed."
Anna melepaskan pelukannya dan berganti memegang tangan Edgar.
"Aku tidak peduli jika harus menjadi korban dari kelainanmu, Ed. Itu lebih baik daripada kau mencari wanita lain untuk melampiaskan hasratmu yang tidak tuntas padaku. Jangan menahannya lagi, Ed."
Membayangkan Edgar tidur dengan wanita lain karena tidak ingin menyakiti Anna saja sudah membuat Anna merinding. Jangan sampai itu terjadi!
"Badanku terasa lengket dan aku ingin mandi. Tolong bantu aku berjalan, Ed. Aku masih merasa nyeri di bawah sana."
Seperti yang orang-orang katakan, ketika selaput dara wanita robek untuk pertama kalinya oleh seorang pria, rasanya sangat menyakitkan! Anna sudah merasakan itu sekarang.
"Maaf," lirih Edgar.
Lagi-lagi Edgar meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi pada Anna.
Set!
Dalam sekejap, Edgar menggendong Anna di depan dada. Pria itu membawa Anna masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat di bathtub.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Nikmati waktu mandi-mu dan beritahu aku jika sudah selesai."
Saat Edgar hendak melangkah keluar dari kamar mandi, Anna memanggilnya sehingga mau tak mau membuat Edgar berhenti.
"Ed!" Anna diam sejenak. "Aku tidak ingin sendiri. Jadi, temani aku mandi."
"Kau yakin?"
Anna menganggukkan kepala, sejujurnya dia ingin mandi bersama Edgar.
Sementara itu, Edgar yang sempat ragu akan permintaan Anna akhirnya menuruti keinginan sang istri. Edgar bahkan membantu Anna melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub bersama.
Dalam hatinya, Edgar sangat gelisah. Bagaimana tidak? Dia dan Anna sama-sama tidak memakai pakaian dan berada di bathtub yang sama.
"Kau terangsang, Ed?"
"Aku berusaha menahannya, Anna. Jangan khawatir."
Anna hanya terkekeh kecil mendengar jawaban Edgar. Pria itu benar-benar berusaha keras untuk tidak menyentuh dan menyakiti Anna lagi.
"Maaf, Ed. Aku tidak bisa membantumu kali ini."
Karena tidak tega melihat Edgar tersiksa, Anna berinisiatif untuk keluar dari bathtub dan memakai handuk. Dia akan membiarkan Edgar menyelesaikan masalahnya sendiri.
Keluar dari kamar mandi, Anna segera berpakaian rapi dan berdandan tipis. Sebenarnya Anna merasa bersalah karena membiarkan Edgar menuntaskan hasratnya sendirian, padahal Anna yang menggoda Edgar lebih dulu walaupun secara tidak langsung.
Anna melihat Edgar keluar dari kamar mandi melalui pantulan cermin. Wajah suaminya tampak lesu, seperti orang sakit.
"Kau baik-baik saja?"
Anna sungguh khawatir melihat Edgar yang lesu dan tidak bertenaga, bahkan wajah tampannya sedikit merah. Apa Edgar kelelahan karena merawat Anna yang sakit dari pagi? Atau ...
"Ed, kau demam! Sepertinya kau tertular dariku!" Anna memegang dahi Edgar dengan punggung tangannya.
Ada-ada saja dengan hari ini. Anna dan Edgar demam secara bergantian. Jika tadi pagi Edgar yang merawat Anna, sekarang keadaannya menjadi terbalik. Namun, Anna baru tahu kalau Edgar bisa jatuh sakit.
Walaupun Anna bukan seorang dokter dan tidak pernah merawat orang sakit, setidaknya dia tahu caranya merawat dan menjaga orang sakit setelah melihat ibunya yang kompeten.
Anna menyuruh Edgar berbaring di ranjang dan mengompres dahinya dengan air hangat yang telah disediakan sebelumnya. Dia juga memberi Edgar paracetamol untuk meredakan demam dan berharap Edgar cepat sembuh.
"Aku belum sembuh total dan kau malah ikut-ikutan sakit! Suami macam apa kau ini?!"
__ADS_1
"Hn, aku suami yang sangat mencintai istrinya." Edgar tersenyum tipis. "Maaf karena merepotkanmu."