
Grace berlari seraya melambaikan tangannya pada Kevin. Karena maksudnya sudah tersampaikan, dia hendak memberitahu Anna mengenai hal itu.
"Aku berhasil!" ucap Grace setibanya di hadapan Anna.
Selama beberapa detik, Anna tampak bingung dengan perkataan Grace, lalu dia tiba-tiba membelalakkan mata.
"Maksudmu ... kau berhasil mengajaknya berkencan? Tapi, bagaimana bisa?!"
Grace tersenyum mendengar respon Anna yang terlihat terkejut. Dia berpikir untuk tidak memberitahu Anna tentang bagaimana dia bisa mengajak Kevin berkencan. Lagi pula, kencan tersebut hanya sebuah percobaan dan ada kesepakatan di dalamnya.
"I-itu terjadi begitu saja!" Grace berbicara sedikit terbata-bata. "Oh iya, kami akan berkencan sabtu ini. Apa kau mau ikut? Maksudku kita bisa kencan ganda. Aku dengan Profesor Kevin, sedangkan kau dengan Profesor Edgar!"
"Aku akan menanyakan pendapat Edgar mengenai hal ini."
Sejujurnya Anna tidak keberatan dengan ajakan Grace, namun tetap saja dia harus menanyakan pendapat Edgar terlebih dahulu. Lagi pula, itu adalah pertama kalinya mereka merencanakan kencan ganda. Sebab, selama ini mereka tidak pernah memiliki kekasih.
***
Di sebuah ruangan, terlihat Edgar tengah sibuk membaca buku tebal bersampul merah tua. Buku itu merupakan buku filsafat karya Aristoteles, salah satu dari Trio Filsuf Yunani.
Treeng!
Suara nyaring tiba-tiba terdengar dari luar ruangan Edgar, seperti ada seseorang yang tak sengaja menendang kaleng kosong. Di samping itu pula, Edgar melihat sekilas bayangan hitam yang lewat melalui jendela ruangannya.
Seperti ada seseorang di luar? Siapa, ya? batin Edgar bertanya-tanya.
Karena rasa penasarannya, akhirnya Edgar bangkit dari kursi dan berinisiatif untuk mengecek keadaan di luar ruangannya.
Pintu dibuka, Edgar melangkahkan kakinya ke luar garis pintu dan berjalan ke sebelah kiri ruangan yang sempat ada bayangan hitam.
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang, Edgar jatuh terduduk bersama orang yang menabraknya.
"Ukh! Bokongku!" pekik Anna seraya mengelus pantatnya yang sakit.
"Anna? Aku kira siapa? Kau membuatku terkejut, Sayang!"
Edgar bersyukur karena ternyata bayangan hitam yang dilihatnya adalah Anna. Dia berpikir jika istrinya itu berniat mengerjai dan menakut-nakutinya dengan cara yang kekanak-kanakan.
"Ed, pekerjaanmu sudah selesai, bukan? Aku ke sini untuk mengajakmu pulang!"
Seluruh tubuhnya masih terasa sakit, apalagi bagian sensitifnya. Jika nanti malam Edgar mengajaknya berhubungan intim lagi, Anna berniat untuk menolaknya! Dia ingin mengistirahatkan badannya dan tanpa diganggu siapa pun!
"Tunggu sebentar, Sayang ... aku akan mengambil tasku di dalam."
__ADS_1
Sayang, panggilan Edgar untuk Anna. Panggilan itu lebih sering digunakan oleh Edgar setelah mereka menghabiskan malam bersama hampir setiap hari. Dulu panggilan itu jarang digunakan, namun sekarang Edgar sering menggunakannya, bahkan hampir setiap hari.
Berjalan beriringan, Anna dan Edgar selalu menjadi pusat perhatian para mahasiswa dan dosen di kampus. Mereka masih saja menjadi bahan perbincangan meskipun sudah lebih dari tiga bulan mereka menikah.
Namun, di antara perbincangan tersebut, Edgar selalu tak henti-hentinya mendapat pujian akan ketampanannya dan perhatiannya terhadap Anna. Sebaliknya, Anna justru lebih sering mendapat perkataan negatif dari para mahasiswi yang diketahui adalah penggemar Edgar.
Banyak di antara mereka yang mengatakan bahwa Anna tidak pantas bersanding dengan Edgar. Anna juga dikatai menggunakan pelet untuk mendapatkan hati Edgar yang notabene-nya selalu mengacuhkan wanita.
"Sudah lama menikah, tapi belum hamil! Jangan-jangan dia mandul! Pffft!"
Bukan bisikan, namun perkataan itu terdengar seperti sengaja diucapkan ketika Anna berjalan melewatinya. Terdengar jelas hingga membuat beberapa orang menyetujui perkataan orang tersebut.
"Jangan hiraukan mereka. Mereka hanya iri padamu, Anna ...," bisik Edgar.
"Aku tahu, tapi perkataan mereka menyakitiku, Ed!"
Meskipun Edgar menyuruh Anna untuk tidak memedulikan orang-orang yang membicarakannya, namun Anna merasa sakit! Dia tidak bisa terus-menerus menoleransi orang yang bahkan tidak bisa menjaga ucapannya!
"Biarkan saja. Bukankah kau lelah? Lebih baik kita segera masuk mobil dan pulang ke apartemen."
Anna mengangguk ringan, dia berpikir untuk menuruti perkataan Edgar dan masa bodo dengan orang-orang yang tengah bergosip ria. Namun, lagi-lagi ada seseorang yang memprovokasinya.
"Lihatlah! Wajahnya sangat pucat dan tidak memakai riasan. Aku yakin sekali, tidak akan lama lagi Profesor Edgar akan berpaling pada wanita lain karena istrinya tidak bisa mengurus diri dan berpenampilan seperti gelandangan!"
Jika mendengar suara yang sejak tadi memprovokasinya, Anna yakin seratus persen bahwa orang yang menghinanya adalah satu orang! Dan itu adalah orang yang sama!
Mengepalkan tangannya, Anna membalikkan badan dan mencari sosok wanita yang terus mengatainya. Wanita itu menyeringai seraya menatap remeh Anna, seolah-olah mengatakan 'Memangnya kau berani?' dengan tatapannya.
Dengan napas memburu dan tangan mengepal, Anna berjalan menghampiri wanita itu untuk menuntaskan rasa marahnya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah wanita itu hingga meninggalkan bekas merah dan erangan darinya.
"Dasar mulut sampah! Jaga ucapanmu itu! Berani-beraninya kau menghina teman baikku yang sangat aku sayangi! Sekali lagi aku mendengarmu mengatai temanku, akan kupastikan mulutmu robek hingga tak bisa berbicara lagi!" murka Grace.
Tampaknya Anna kalah cepat dengan Grace. Tamparan yang tadinya ingin Anna layangkan pada wanita itu sudah diwakilkan oleh Grace yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Anna menghampiri Grace, namun tidak melerai perkelahian mereka. Sebaliknya, Anna justru melontarkan kata-kata kasar pada wanita itu. Dia tak peduli meskipun sisi buruknya dilihat oleh Edgar.
"Hei, j*lang! Memangnya kau siapa hingga berani mengomentariku? Aku bahkan tidak mengenalmu!" Anna menaruh telunjuknya di dada wanita itu. "Kau bilang jika aku terlihat seperti gelandangan? Hei! Meskipun aku terlihat seperti itu, suamiku masih cinta kepadaku. Kau? Dandananmu saja seperti wanita penghibur, tapi tidak dilirik pria!"
"A-apa kau bilang? Wanita penghibur?" protes wanita itu. Dia meraih rambut Anna dan menjambaknya. "Kau memanggilku j*lang dan menyamakan aku dengan wanita penghibur? Dasar wanita kurang ajar!"
"Argh!" pekik Anna.
__ADS_1
Tidak ingin kalah dari wanita itu, Anna pun menjambak rambut wanita itu dengan kencang hingga mereka berdua saling berteriak.
Kejadian itu ditonton oleh banyak orang, namun tidak ada yang melerai mereka termasuk Grace yang ada di samping Anna.
"Cukup!"
Lama berdiam diri, akhirnya Edgar turun tangan untuk menghentikan perkelahian istrinya dengan salah satu mahasiswi. Dia menepuk kepalanya keduanya dan melepaskan jambakan satu sama lain.
"Wendy, aku lihat kau terus memprovokasi Anna sejak tadi. Apa kau tidak tahu jika perkataanmu itu sangat tidak sopan? Kuharap kau bisa meminta maaf pada istriku!"
Mendengar Edgar membelanya, Anna menyunggingkan bibirnya membentuk seringai tipis, dia merasa puas karena Edgar berpihak padanya. Namun ...
"Kalian juga, Anna, Grace. Kalian salah karena telah terbawa emosi dan melakukan tindakan fisik. Kalian juga harus minta maaf!"
"Tapi, dia duluan yang memancing emosiku!" protes Anna, tak terima jika harus meminta maaf.
Edgar menatap Anna tajam, seolah-olah mengatakan bahwa dia harus mengikuti perintah Edgar.
Satu hal yang harus Anna ingat bahwa Edgar bukan hanya suaminya, tapi juga seorang dosen. Pria itu harus profesional dengan tak membenarkan tindakan salah yang dilakukan mereka bertiga. Baik Wendy, Anna, maupun Grace, mereka bertiga diharuskan saling bertukar maaf di hadapan Edgar.
Karena permintaan maaf itu adalah paksaan dari Edgar, mereka bertiga hanya mengucapkan kata maaf tanpa benar-benar tulus mengatakannya. Jauh di dalam hati, mereka masih saling mencaci maki satu sama lain dengan emosi yang di tahannya.
"Bagaimana bisa kau mengenal wanita itu? Siapa namanya? Wendy?" tanya Anna ketika dia dan Edgar sudah masuk mobil.
"Aku mengenal semua muridku."
Tentu saja itu bohong. Sebenarnya, wanita bernama Wendy itu adalah orang yang selalu mendekati Edgar. Wanita itu bahkan sudah sering menyatakan perasaannya dan mengajak Edgar tidur bersama.
Meskipun Edgar menolaknya mentah-mentah, namun wanita itu justru lebih berani dengan selalu berpakaian seksi dan berdandan tebal di hadapan Edgar.
Wanita itu! Sudah berapa kali aku menolak dan mengacuhkannya, tapi tetap tidak mau menyerah! batin Edgar.
"Ed, apa kau kecewa padaku?"
Anna tiba-tiba teringat dengan perkataan Wendy yang menyebutkan mandul.
"Kecewa kenapa? Aku tidak mengerti maksudmu?"
"Maksudku, aku belum mengandung anak kita padahal kita sering melakukannya ...," lirih Anna.
Tampaknya Anna benar-benar memikirkan perkataan Wendy hingga menyalahkan dirinya sendiri.
Edgar melihat wajah Anna yang sedikit menunduk, lalu menghela napas.
"Jangan dipikirkan. Lagi pula, kita baru melakukannya belum lama ini ... jadi wajar saja jika kau belum mengandung."
__ADS_1