
"Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku ada jadwal mengajar pagi." Kevin berdiri setelah dia melihat jam tangannya.
"Hn, pergilah."
Kevin berbohong mengenai jadwal mengajar, sebenarnya dia mendapat jadwal mengajar siang. Namun, karena tidak ingin meneruskan pembicaraan yang sensitif baginya, dia lebih memilih menghindar secara baik-baik.
Keluar dari ruangan Edgar, Kevin menghela napas panjang dan mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya dia bisa melupakan perasaannya terhadap Anna. Sebab, Anna sudah menjadi milik Edgar! Kevin tidak ingin menjadi perusak hubungan orang karena perasaan yang dia miliki.
Seperti ada seseorang! pikir Kevin. Dalam sepersekian detik, dia melihat sesosok orang yang bersembuyi di balik semak-semak.
"Keluar 'lah. Aku tahu kalau kau bersembunyi di semak-semak!" teriak Kevin dengan lantang.
Dugaannya tepat. Seseorang keluar dari semak-semak. Orang itu memakai topi yang menutupi wajahnya, namun karena rambutnya panjang, Kevin berpikir bahwa orang itu adalah wanita.
"Siapa kau? Kenapa kau bersembunyi di sana?" tanya Kevin. Dia heran, mengapa orang yang mencurigakan bisa masuk ke kampus dengan bebas?! Mengapa dia ada yang mencegahnya?
Wanita itu tidak menjawab, dia kemudian membuka topinya dan memperlihatkan wajahnya kepada Kevin.
Deg!
Tubuhnya gemetar hebat, pupilnya melebar, napasnya memburu. Kevin tahu siapa wanita di hadapannya! Wanita gila yang menculiknya dan Edgar. Wanita gila yang melakukan pelecehan seksual terhadap Edgar hingga membuat Edgar menjadi seorang sadisme
Bagaimana dia bisa ada di sini? Kenapa dia dibebaskan dari penjara?
Walaupun Kevin tidak sampai dilecehkan dan disiksa oleh wanita itu seperti Edgar, namun dia tetap memiliki trauma tentang kejadian itu. Kevin bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Edgar dengan baik, padahal dia adalah kakaknya.
"Venna?" lirih Kevin dengan bibir sedikit bergetar. Dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Kau ...." Venna melihat tahi lalat di bawah mata Kevin. "Kevin?"
Kevin tidak tahu tujuan kedatangan Venna, namun yang pasti, jangan sampai Edgar melihat Venna di sini. Edgar pasti akan sangat menderita jika bertemu dengan orang yang menyebabkannya menjadi seorang sadisme.
"Tidak tahu malu! Berani-beraninya kau datang ke sini setelah perbuatan tercelamu padaku dan Edgar! Pergilah!"
"Aku datang ke sini untuk meminta maaf kepada Edgar. Tapi, aku tidak menyangka jika kau pun ada di kampus ini."
Minta maaf? Wanita gila itu berkata bahwa dia ingin meminta maaf? Sulit dipercaya!
"Kau pikir aku percaya dengan perkataanmu? Kau menjadikan Edgar seperti dirimu! Tapi, sekarang kau berkata ingin meminta maaf?"
Tampaknya semakin tua umur, semakin gila pikirannya. Mana mungkin Venna berubah menjadi baik setelah keluar dari penjara? Pasti itu hanya akal-akalan dia!
"Aku-"
"Kevin? Kau berbicara dengan siapa?" celetuk Edgar dari belakang Kevin.
__ADS_1
Deg!
Mengapa di saat keadaan buruk seperti ini Edgar datang? Kevin harus menyembunyikan Venna dari hadapan Edgar! Jangan sampai Edgar melihat wanita itu dan membangkitkan traumanya!
Sebelum Edgar datang menghampirinya, Kevin memakaikan topi untuk menutupi wajah Venna dan menyembunyikannya di punggungnya.
"Ed? Kenapa kau ke luar?" tanya Kevin.
"Aku seperti mendengar seseorang bertengkar dan ternyata itu kau. Siapa wanita itu?" Edgar berjalan mendekati Kevin dan berniat untuk melihat wanita yang disembunyikan Kevin di balik punggungnya. Namun, Kevin menahan tangan Edgar agar berhenti.
"Dia wanita yang aku bicarakan tadi. Aku tidak ingin kau melihat wajahnya karena dia milikku!" dustanya. Kevin berharap kalau Edgar akan percaya bahwa wanita yang dia sembunyikan adalah wanita yang sudah menikah dan disukai Kevin.
"Benarkah? Maaf karena aku mengganggu kalian. Kalau begitu, aku akan pergi dari sini."
Kevin tersenyum dan mengusir Edgar dengan tangannya. Jantungnya hampir berhenti karena kedatangan Edgar yang tiba-tiba. Syukurlah karena Edgar percaya dengan kebohongan yang Kevin buat.
Setelah melihat punggung Edgar menjauh, Kevin sontak menghadap Venna. Tatapan tajam nan menusuk dia arahkan pada wanita yang sudah tua itu.
"Aku harap kau tidak pernah muncul lagi di sekitarku dan Edgar!" ucap Kevin dengan tatapan tajamnya.
Venna terdiam mendengar penuturan Kevin, namun bukan berarti dia setuju dengan pemuda itu. Tampaknya Kevin dan Edgar sangat membencinya. Bagaimana tidak? Venna adalah dalang dari trauma masa lalu mereka!
Melihat Kevin menjauh, Venna kemudian menyeringai. "Menarik! Mereka tumbuh dengan sangat baik dan menjadi pemuda tampan!"
Ya, awalnya tujuan Venna memang ingin meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Namun, melihat dua orang yang pernah menjadi korban pelecehan dirinya, hasrat yang sempat terkubur lama tiba-tiba bangkit kembali hingga membuat dia bersemangat.
Selama di penjara, Venna memang berniat untuk meminta maaf kepada para korbannya setelah bebas. Namun, tampaknya semua itu tidak benar-benar bisa dia lakukan. Darahnya berdesir ketika dia bertemu dengan Kevin dan melihat Edgar sekilas, bahkan di pikirannya sekarang seolah-olah ada seseorang yang menyuruhnya untuk tidak menyerah dan melepaskan kedua pemuda itu.
"Sepertinya aku harus merubah penampilanku. Terlalu lama di dalam penjara membuat kulitku keriput dan kusam."
Banyak orang yang mengira dirinya gelandangan karena penampilannya yang kotor dan tidak terawat. Itu sangat wajar karena selama di penjara tidak ada yang namanya salon, bahkan dia dan tahanan lainnya diperlakukan seperti sampah!
Bruk!
"Ah!" Anna terjatuh ke lantai. Dia tidak sengaja menabrak seseorang karena berjalan tergesa-gesa dan sambil melihat ponsel.
Menengadahkan kepalanya, Anna berniat untuk meminta maaf kepada orang yang dja tabrak. Namun, dia terkejut karena ternyata dia menabrak wanita tua yang pernah menanyakan Edgar di jalan.
"Anda ...." Tadinya Anna akan menanyakan identitas wanita itu, namun dia mengurungkan niatnya. Anna menggelengkan kepala. "Ah, maafkan saya. Apa Anda terluka?"
"Saya baik-baik saja." Mengucapkan itu, Venna kemudian langsung pergi dari hadapan Anna.
"Kenapa wanita tua itu ada di sini?"
Anna sempat berpikir bahwa pemandangan ini sangat tidak asing. Tepat! Waktu itu dia pernah bertabrakan dengan seseorang di dekat ruangan Edgar. Orang itu berlari seolah-olah ada orang yang akan mengejarnya.
__ADS_1
'Topi itu ... sepertinya dia orang yang sama dengan orang yang menabrak ku. Jadi, kami sudah tiga kali bertemu, huh?' pikir Anna.
Entah apa tujuan dari wanita tua itu, namun firasat Anna mengatakan bahwa wanita itu berbahaya. Jika wanita itu orang baik, tidak mungkin dia menguntit Edgar terus-menerus!
"Sepertinya aku harus menyuruh Edgar untuk berhati-hati," lirih Anna.
Anna berjalan menuju ruangan Edgar, namun tidak ada siapa pun di dalam sana. Ke mana perginya Edgar? Tidak biasanya pria itu pergi ke luar ruangan.
"Halo, Ed? Kau di mana?" Anna menelpon Edgar seraya menunggu di sofa.
"Aku di sini."
"Hey!" Anna terkejut karena Edgar tiba-tiba datang membuka pintu, padahal Anna baru saja menelponnya. "Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
"Firasat," ucap Edgar. Padahal sebenarnya dia melihat Anna masuk ke dalam ruangannya.
"Ed, sepertinya kau harus berhati-hati. Aku melihat wanita tua itu ada di depan ruanganmu. Dia memakai topi hitam."
Topi hitam? Yang Edgar tahu, wanita bertopi hitam itu adalah kekasih Kevin. Mengapa dia harus berhati-hati dengan wanita itu?
"Sepertinya kau keliru, Sayang. Wanita itu adalah kekasih Kevin. Aku tadi sempat bertemu dan diperkenalkan oleh Kevin. Rambutnya panjang dan berantakan, bukan?"
Kekasih Kevin? Tidak mungkin! Anna jelas-jelas melihat kalau wanita itu adalah wanita tua yang pernah menanyakan Edgar. Dia tidak mungkin salah lihat! Lagi pula, matanya masih sangat normal.
Namun, terserah jika Edgar tidak mempercayainya. Anna hanya berharap kalau wanita tua itu tidak memiliki niat buruk terhadap Edgar. Edgar sudah cukup menderita, Anna tidak ingin suaminya lebih menderita lagi.
Anna menghela napas. "Terserahmu saja. Memangnya Profesor Kevin memiliki kekasih?"
"Hn, dia mengatakannya padaku."
Gawat! Bagaimana dengan Grace? Anna khawatir jika Grace tidak akan baik-baik saja setelah mendengar berita ini! Padahal Grace sangat antusias karena akan pergi kencan dengan Kevin. Sepertinya Anna lebih baik diam dan tidak mengatakan hal ini.
"Besok kau tidak sibuk, bukan?" tanya Anna.
Besok adalah hari minggu, hari libur sekaligus hari kencan ganda yang sudah direncanakan. Anna harus memastikan jadwal Edgar terlebih dahulu sebelum dia mengajaknya ikut bersama Grace.
Edgar menyeringai kecil. "Kenapa bertanya? Apa kau ingin mengajakku berkencan?"
"Ya ... aku ingin mengajakmu berkencan. Tapi, ini sedikit berbeda."
Anna sengaja tidak memberitahu Edgar bahwa kencan yang dia maksud adalah kencan ganda. Sebab, jika Edgar mengetahui, dia pasti akan menolak! Mengapa Edgar menolak? Karena Edgar tidak suka jika acara yang seharusnya dia habisnya berdua dengan Anna justru diganggu oleh orang lain.
"Berbeda bagaimana?"
Edgar tampak kebingungan dengan pernyataan Anna. Kencan yang berbeda? Apakah Anna akan memberinya kejutan di kencan nanti? Entah mengapa Edgar jadi tidak sabar menantikannya!
__ADS_1
"Kau akan mengetahuinya besok!"