Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Jangan Berbohong


__ADS_3

Venna tertawa terbahak-bahak, tak habis pikir dengan ucapan Kevin yang bodoh. Memangnya kapan Venna menyetujui Kevin untuk berhenti mendekati Edgar? 


"Apa kau kira aku akan menuruti perintahmu?" Venna melangkah mendekati Kevin. "Ah! Jika kau tidak ingin aku menyakiti Edgar, bagaimana jika kau menggantikannya? Waktu itu aku belum sempat mencicipi tubuhmu."


Tidak masalah siapa pun orangnya, Venna hanya menginginkan seorang pria untuk memenuhi hasratnya. Namun, akan lebih baik jika Venna mendapatkan Edgar yang sudah pernah dia sentuh. Apalagi Venna mendengar dari Kevin bahwa Edgar menjadi sama seperti dirinya yang sadisme, itu tentu akan menjadi kombinasi yang menarik. 


"Kau memang gila!" Kevin menepis tangan Venna yang hampir menyentuhnya. 


Daripada terus terlibat dengan Venna, Kevin akhirnya membawa Edgar pergi dari sana. Semua perkataan wanita itu hanya akan membuat Edgar dan dirinya stres. Tidak ada hal baik yang akan terjadi jika berada dekat dengan Venna, yang ada hanyalah membuka kenangan buruk yang sudah lama terpendam.


Sampai di meja di mana Anna dan Grace menunggu, Edgar dan Kevin tidak duduk bersama mereka, melainkan hanya berdiri dengan wajah yang tampak murung. 


"Ada apa dengan wajah kalian?" tanya Anna. 


Baru saja dua pria dominic itu sampai, namun Anna sudah mendapati mereka yang tampak seperti mayat hidup. Mata mereka tidak memancarkan kehidupan. Tatapan mata mereka kosong, terutama Edgar. 


Kevin menghela napas. "Sebaiknya kita segera pulang."


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Anna lagi.


Ditanya seperti itu, Kevin bingung harus menjawab apa. Haruskah Kevin menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Anna? Lagi pula, Anna berhak tahu karena dia adalah istri Edgar. Namun, Kevin juga tidak memiliki kewajiban untuk memberitahu Anna tanpa persetujuan Edgar. 


"Tidak ada. Kami hanya sudah bosan bermain di sini," dustanya. Kevin berpikir untuk tetap diam hingga Edgar memberitahu Anna dengan mulutnya sendiri. 


Aku tidak boleh ikut campur! pikir Kevin. 


"Tapi, kami sudah memesan makanannya. Sayang sekali jika kita pergi sebelum mencicipinya." Kali ini Grace berpendapat. Dia tidak ingin pergi sebelum merasakan makanan yang terkenal di kafe itu, namun dia juga khawatir dengan dua pria dominic yang terlihat pucat di hadapannya. 


"Kita bisa meminta pelayan kafe untuk membungkusnya, Grace. Tidak apa-apa, bukan?" rayu Anna, "Dan ... aku yang akan membayar semua makanannya!"


Anna tidak ingin perasaan khawatirnya memenuhi perasannya saat ini. Jika memang terjadi masalah, Anna akan menunggu hingga Edgar menceritakan masalahnya. Lagi pula, Edgar sudah berjanji untuk tidak merahasiakan apa pun dari Anna. 


Setelah pelayan datang, Anna kemudian meminta pelayan tersebut untuk membungkus semua makanan yang telah dipesan dan langsung membayarnya ke tempat kasir sesuai dengan nota yang tertulis.


"Sepertinya kita harus berpisah di sini." Anna membuka pintu belakang mobil dan menaruh dua kantung plastik makanan dari kafe. 

__ADS_1


"Anna ...," panggil Kevin pelan, "sebaiknya kau yang menyetir mobil."


Perkataan Kevin sontak mendapat tatapan tajam dari Edgar.


"Tidak perlu! Aku bisa menyetir dengan baik. Lagi pula, Anna juga tidak bisa menyetir mobil!" bantah Edgar. Sepertinya Edgar sudah kembali pada dirinya sendiri, melihat dia berbicara dengan nada sedikit emosi.


Anna dan Edgar memasuki mobil mereka, meninggalkan Grace dan Kevin yang masih berdiri di tempat parkir. 


Sebelum benar-benar pergi dari sana, Anna menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Grace. Kevin? Anna tidak seakrab itu dengan Kevin hingga harus melambaikan tangan kepadanya. Ya, meskipun Kevin itu adalah sepupu Edgar yang harus diperlakukan baik.


Selama diperjalanan pulang, suasana hening menyelimuti Anna dan Edgar. Mereka hanya fokus melihat jalanan tanpa ada pembicaraan sedikit pun. Namun, terlalu lama berdiam diri sangat membosankan sehingga membuat Anna memutuskan untuk membuka pembicaraan. 


"Ed, kau yakin tidak apa-apa?" 


Pertanyaan itu masih memenuhi kepala Anna. Melihat tatapan kosong Edgar saat kembali dari toilet, lalu perubahan sikapnya yang tiba-tiba murung dan seperti tak bernyawa membuat Anna berpikir kalau ada sesuatu yang terjadi di toilet. Entah apa itu, namun yang pasti adalah sesuatu yang buruk!


Apakah jangan-jangan wanita tua itu terlibat? pikir Anna. 


Berapa kali pun Anna berpikir, Anna yakin jika wanita tua itu bukan orang baik. Perasaan Anna selalu tak nyaman dengan kehadiran wanita tua itu.


"Aku dalam keadaan baik, Anna. Hanya sedikit lelah," dustanya. Edgar tersenyum lembut kepada Anna agar percaya bahwa dia baik-baik saja.


"Pasti terjadi sesuatu 'kan? Kau tiba-tiba bersikap aneh, begitu pula dengan Profesor Kevin. Jika ada masalah, ceritakan padaku, Ed! Kau sudah berjanji tidak akan berbohong lagi padaku!"


Marah! Anna tidak suka jika Edgar memendam masalahnya sendiri. Setiap kali Anna berada dalam masalah, Edgar akan membantu menyelesaikannya. Namun, mengapa Edgar tidak ingin berbagi masalahnya dan membuat Anna membantunya? Bukankah pasangan harus saling membantu dan mempercayai? 


Ckiiit! 


Edgar menginjak rem secara tiba-tiba hingga membuat mobil mengeluarkan suara nyaring akibat gesekan ban dengan aspal. 


"Ed!" teriak Anna. Anna terkejut karena kepalanya hampir membentur dashboard mobil. 


Tidak memedulikan teriakan Anna, Edgar membenamkan wajahnya di stir mobil seraya memejamkan mata. Bohong kalau dirinya berkata baik-baik saja, nyatanya Edgar sangat terguncang setelah bertemu kembali dengan Venna. Mengapa Venna harus kembali di saat Edgar sudah bahagia bersama Anna? 


"Aku bertemu wanita itu," lirih Edgar. 

__ADS_1


"Apakah wanita itu memakai floppy hat?"


Edgar mengangguk ringan. "Hn, dia adalah wanita yang menculik dan mencabuliku di masa lalu. Namanya Venna."


Meskipun Anna baru mengetahui identitas Venna, namun Anna sama sekali tidak terkejut. Dari awal melihatnya pun, Anna sudah merasakan perasaan yang tidak enak terhadap wanita tua itu. 


Anna menghela napas panjang. "Kau tahu? Venna adalah wanita tua yang sering aku bicarakan padamu. Sepertinya dia sering datang ke kampus kita, bahkan kemarin aku bertemu dengannya di samping ruanganmu."


Tepat sekali. Edgar pernah beberapa kali diberitahu oleh Anna, namun tidak pernah benar-benar mendengarkan. Jika mengacu pada perkataan Anna waktu itu, artinya Venna sudah lama bebas dari penjara jauh sebelum Edgar berkonsultasi pada Dokter Bryan.


Anna menarik tubuh Edgar ke dalam pelukannya. Pria tangguh dan cerdas seperti Edgar ternyata bisa terluka akan sesuatu.


"Ingatlah kalau aku selalu ada di sisimu. Jangan pernah berpikir kalau kau sendirian dan memendam masalahmu sendiri, Ed."


Edgar melepaskan pelukan Anna, lalu menatap mata Anna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Anna ...," lirih Edgar, "aku lapar."


Tatapan mata dan lirihan Edgar nyaris membuat Anna salah paham. Tadinya Anna berpikir kalau Edgar agar menciumnya, namun tampaknya Anna terlalu berharap.


"Kalau begitu, kita harus segera sampai apartemen dan mencicipi makanan yang kita bungkus di kafe."


***


Di apartemen, terlihat Anna dan Edgar tengah duduk berhadapan di meja makan. Di hadapan mereka masing-masing sudah ada makanan yang dibawa di kafe taman bermain. Semua makanan itu direkomendasikan oleh pelayan kafe tersebut. 


"Ini apa?"


Bentuknya lonjong, berwarna kuning emas, dan ketika digigit ada keju mozarella yang meleleh dan bisa ditarik. Baru kali ini Edgar melihat makanan yang unik seperti ini, rasanya pun luar biasa lezat. 


"Ini adalah makanan asal Korea, namanya corndog. Aku mendengar dari Grace kalau kafe itu sudah dibeli oleh orang Korea. Makanya, menu yang ada di kafe itu sangat asing untuk kita."


Anna menggigit corndog hingga tinggal setengahnya dan menunjukkannya pada Edgar. "Lihat? Di bawah keju mozarella ada sosis berukuran besar."


Saking senangnya Anna, dia tidak sadar bahwa Edgar tengah melihatnya sambil terkekeh-kekeh. Hanya karena sebuah makanan, namun Anna sudah terlihat sangat senang seperti anak kecil yang diberikan hadiah. Oleh karenanya, Edgar sampai melupakan pertemuannya dengan Venna yang membuat harinya buruk. 


"Sepertinya kau sangat menyukai makanan ini. Aku akan mencari resepnya dan membuatkannya untukmu lain kali."

__ADS_1


Soal masak-memasak, Edgar adalah ahlinya. Tidak perlu khawatir soal rasa karena masakan Edgar tidak pernah gagal sekali pun. 


"Hn! Buatkan aku corndog banyak sekali, Ed!"


__ADS_2