Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Hamil


__ADS_3

Anna terkekeh, dia tiba-tiba mengingat betapa canggungnya dia dengan Edgar saat kencan pertama. Waktu itu Edgar yang lebih banyak berbicara, pria itu bahkan melakukan hal yang tidak terduga dengan mencium Anna di tempat umum. 


Perlahan Anna mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia baru saja berjalan beberapa langkah dengan Grace, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing seperti ada sesuatu yang menghantam kepalanya dengan keras. Tubuhnya terhuyung-huyung, jika tangannya tidak berpegangan pada tiang di sampingnya, mungkin Anna akan jatuh karena kehilangan keseimbangan. 


"Ada apa denganmu? Kau terlihat pucat sekali," tanya Grace. 


"Kepalaku tiba-tiba jadi pusing. Aku juga lemas."


Padahal tadi Anna baik-baik saja, namun dia sekarang tiba-tiba berubah menjadi lemas tak berdaya. Entah apa yang terjadi, yang jelas dia butuh istirahat. 


Anna berjalan dengan dibantu Grace, dia dipapah secara perlahan-lahan hingga sampai di bangku panjang yang ada di taman kampus. 


"Kurasa kita harus memberitahu suamimu, Anna. Kau harus dibawa ke rumah sakit."


Memberitahu Edgar hanya akan membuat pria itu khawatir. Edgar sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya, Anna tidak ingin menambah beban pria itu. 


"Aku akan pergi ke rumah sakit, tapi jangan memberitahu Edgar soal ini. Bisakah kau melakukannya,Grace?"


Lagi pula, dirinya pasti hanya sakit biasa dan akan segera sembuh. Pergi ke rumah sakit bahkan sudah sangat berlebihan, namun jika dia tidak melakukannya maka Grace pasti akan lebih cerewet lagi dan mengadukannya pada Edgar. 


Grace mengangguk ringan. Perlahan dia memapah Anna berjalan menuju gerbang depan. Sebenarnya akan lebih mudah jika Anna pergi ke rumah sakit dengan mobil Edgar, namun temannya itu bersikukuh untuk merahasiakan sakitnya pada suaminya. 


"Taksi!" Grace berteriak sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar taksi yang dia panggil berhenti di depannya. Dia dan Anna masuk dan duduk di kursi belakang taksi. "Pak, tolong antarkan kami ke rumah sakit terdekat."


"Baik, Nona."


Taksi itu melesat dengan kecepatan sedang, mengantar Grace dan Anna pergi ke rumah sakit yang paling dekat dengan kampus mereka. Sesampainya di sana, Grace sontak meminta bantuan perawat untuk membaringkan Anna di ranjang pasien darurat karena Anna terlihat tidak kuat untuk berjalan masuk hingga ke ruang pemeriksaan. 


Dokter mengeluarkan stetoskopnya, memeriksa kondisi fisik Anna yang terbaring lemah. Tangannya dengan lihai menggerakkan stetoskop itu dan memeriksa kedua mata Anna dengan senter kecil.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" Grace menggigit bibir bawahnya, cemas dengan hasil pemeriksaan yang akan diberikan sang dokter. Bagaimana jika Anna mengidap penyakit mematikan? Oh tidak, Grace pasti akan pingsan jika mendengar hal itu. 


"Teman Anda baik-baik saja. Gejala pusing dan lemas itu adalah perubahan hormon dari kehamilan."


"Hamil?! Maksud Dokter teman saya sedang mengandung bayi?" tanya Grace memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi. 


Dokter itu menganggukkan kepala, membenarkan pernyataannya. "Benar. Karena kehamilannya masih terbilang muda, teman Anda tidak boleh terlalu lelah dan mengangkat yang berat-berat."


Grace membungkukkan setengah badannya, berterima kasih kepada sang dokter. Dia sungguh tak percaya jika Anna sedang mengandung. Temannya akan segera menjadi ibu dan dia akan menjadi seorang tante.


"Apa aku benar-benar sedang hamil, Grace?" ucap Anna dengan suara lemah. Dia mengelus perutnya yang masih rata sambil tersenyum. Hatinya sangat bahagia. Di perutnya sekarang ada seorang malaikat kecil yang merupakan buah cintanya dengan Edgar. 


"Selamat, Anna. Kau akan segera menjadi seorang ibu dan Profesor Edgar pasti akan senang mendengar kabar ini."


"Grace, mendekatlah," pinta Anna. Dia membisikkan sesuatu pada Grace dengan wajah serius. "Kau mengerti?"


"By the way, bukankah kita ada jadwal kuliah pagi? Tapi karena kondisimu sedang tidak baik, kau bisa membolos kuliah. Sedangkan aku ... haruskah aku ikut membolos? Aku akan di sini, menunggumu di rumah sakit."


"Tidak! Kau harus masuk kuliah, Grace. Ah, maksudnya kita berdua akan masuk kuliah hari ini."


Karena Anna sudah mengetahui penyebab sakitnya, dia berpikir untuk tidak melewatkan materi kuliah lagi. Lagi pula, dia hanya hamil muda dan bukannya mengidap penyakit mematikan. Dia hanya perlu berhati-hati dan menghindari kegiatan yang bisa membuatnya lelah karena bisa membahayakan janin. 


Perlahan Anna turun dari ranjang pasien, dia dan Grace pergi dari rumah sakit setelah membayar tagihan pemeriksaan dengan uang yang ada di dompet.


"Anna, kurasa kita terlambat."


Anna dan Grace berdiri di depan pintu kelas. Di balik pintu itu, seorang dosen yang terkenal kejam tengah mengajarkan materi kepada para mahasiswa. Dosen itu tidak memiliki rasa ampun kepada mahasiswa yang diajarnya, apalagi kepada mahasiswa yang berbuat kesalahan. 


"Grace, kabur dari situasi ini tidak akan membuat kita lolos dari hukuman. Kita harus menghadapinya."

__ADS_1


Meskipun mereka sekarang kabur dari mata kuliah yang diajarkan si dosen kejam, dosen itu pasti akan menandai mereka di lain waktu karena membolos pelajarannya. Jadi, masuk kelas karena terlambat sedikit mungkin tidak terlalu menjadi masalah untuk dosen itu. Ya, semoga. 


Anna meneguk ludahnya, dia memegang tangan Grace karena cemas dengan situasi selanjutnya. Dengan sekali tarikan napas, dia membuka pintu kelas dan membuat para mahasiswa serta dosen yang mengajar menatap ke arahnya. 


"Anna, sepertinya kita akan tamat," bisik Grace pelan.


"Maafkan kami karena terlambat, Profesor." Anna berteriak sembari membungkukkan badannya. Dia tidak berani menatap dosen kejam itu dengan kedua matanya. "Kami terlambat karena-"


"Apa pun alasannya, aku tidak mau dengar! Sekarang kalian berdua harus pergi ke toilet gedung ini dan membersihkan semua bilik yang ada di sana."


Membersihkan toilet? Mereka hanya telat masuk kelas beberapa menit, namun dihukum dengan hukuman yang cukup berat. Oh ayolah, membersihkan toilet bukan hal yang mudah apalagi jumlah bilik toiletnya sangat banyak! 


"T-tapi Profesor, kami hanya-"


"Baik, Profesor, kami akan segera melaksanakannya!" potong Anna sebelum Grace protes dan membuat sang dosen lebih marah lagi. 


Anna menyeret Grace dan membawanya pergi ke toilet perempuan. Ini pertama kalinya dia dan Grace dihukum karena terlambat masuk kelas. Hukuman pertama yang cukup kejam untuk seseorang yang selalu mengikuti pelajarannya. 


"Dia hanya bilang 'toilet' tanpa menggunakan embel-embel pria atau wanita," gerutu Anna. 


"Aku benci dosen itu, sangat membencinya!" ucap Grace sambil mencengkeram erat pegangan pel. 


"Bukan hanya kau yang membencinya, tapi semua orang. Pantas saja dia belum menikah dengan umurnya yang hampir 40 tahun itu, sifatnya saja jelek! Tidak ada pria yang mau mendekatinya."


Mulutnya memang mengumpat, namun tangan Anna dengan lihai menyikat seluruh bagian toilet dari mulai lantai, tembok, dan WC yang baunya sangat menyengat. Anna ingin segera menyelesaikan hukumannya dan beristirahat. Karena kehamilannya, dia jadi cepat lelah dan emosinya naik turun. 


"Kau istirahat saja, biar aku yang mengurus sisanya," ucap Grace. Dia khawatir jika Anna akan tumbang lagi jika terlalu kelelahan. 


Grace menyuruh Anna duduk di salah satu bilik toilet, sedangkan dirinya melanjutkan hukuman yang diberikan dosen. Toilet itu sudah hampir bersih sepenuhnya, hanya tinggal mengelap cermin dan wastafel. Pekerjaan yang mudah meskipun hanya dilakukan oleh satu orang. 

__ADS_1


__ADS_2