Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Kesempatan dalam Kesempitan


__ADS_3

"Kau benar!" Anna terkekeh kecil. "Ah! Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah sudah selesai?"


"Sedikit lagi. Kau pulanglah lebih dulu, jangan menungguku."


Anna tidak berpikir untuk meninggalkan Edgar karena dia tidak ingin pulang sendiri. Dia juga tidak mungkin pulang bersama Grace karena temannya itu pasti sudah pulang sejak tadi setelah ditinggalkan olehnya di kafe.


"Sepertinya aku akan menunggumu hingga selesai dengan pekerjaanmu. Aku ingin kita pulang bersama."


"Jika itu keinginanmu, aku tidak akan memaksamu untuk pulang. Tapi, jangan salahkan aku jika kau merasa bosan di sini."


Edgar bangkit dari sofa dan segera duduk di kursi kerjanya. Dia kembali berkutat dengan laptop dan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.


Suamiku memang tampan! batin Anna.


Meskipun menunggu adalah hal yang membosankan, namun jika menunggu suami dengan paras tampan dan rupawan, tentu saja Anna tidak akan merasa bosan. Sebab, dia bisa melihat dengan puas wajah Edgar yang terlihat seperti patung Dewa Yunani.


Detik demi detik terlewati, pada akhirnya Anna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana yang hampa.


"Ed, apa kau menginginkan seorang anak?"


Salah satu tujuan dari pernikahan adalah meneruskan keturunan, namun Anna ingin tahu dengan pendapat Edgar tentang seorang anak dalam pernikahan mereka.


"Aku ingin, tapi tidak sekarang. Tidak dengan diriku yang memiliki kelainan ini." Edgar memijit pangkal hidungnya. "Aku tidak ingin kau menjadi korban dari kekerasan seksual karena menginginkan seorang anak."


Anna mengerti dengan ketakutan Edgar. Pria itu takut jika dirinya yang sadisme terus menyakiti Anna ketika berhubungan. Padahal jika ingin hamil, Anna harus sering berhubungan badan dengan Edgar.


"Pergilah ke psikiater. Aku yakin kau pasti bisa sembuh dari kelainan itu."


Awalnya Anna merasa tidak masalah dengan kelainan Edgar, namun ketika mengingat permintaan Kevin dan sikap Edgar yang menghindar karena tidak ingin menyakiti Anna saat berhubungan, Anna jadi mendukung Edgar agar pergi menemui psikiater dan berkonsultasi mengenai kelainan pria itu.


"Aku akan mencobanya," lirih Edgar pelan.


"Ke psikiater?"


"Hn, tapi aku ingin kau menemaniku saat pergi ke sana."


Anna tersenyum seraya mengangguk ringan. Tanpa Edgar minta pun, Anna pasti menemani pria itu pergi ke psikiater. Lagi pula, dia yang menyarankannya dan tentu saja dia harus menemaninya.


"Ah! Kalau begitu, aku akan mencari tahu psikiater mana yang akan kita kunjungi," ucap Anna berinisiatif.


"Tidak perlu. Aku akan meminta dokter pribadi keluarga Dominic untuk merawatku."


Anna mengerutkan dahinya. "Maksudmu dokter yang waktu itu datang memeriksaku?"

__ADS_1


"Benar! Dia bukan hanya dokter biasa, tapi juga pintar dalam bidang psikologi. Dia juga yang menyarankan aku untuk dirawat agar sembuh dari kelainan ini."


Pantas saja dokter itu menjadi dokter pribadi dari keluarga Dominic, ternyata dia memiliki banyak keahlian. Anna jadi ingin mengetahui berapa upah yang dibayar keluarga Dominic untuk sang dokter!


"Kalau begitu, kapan kita akan pergi menemui dokter itu?"


Sebelum menjawab pertanyaan Anna, Edgar melihat jadwal mengajarnya di laptop. "Besok! Aku memiliki satu jadwal mengajar, tapi aku bisa meminta dosen lain untuk menggantikan aku."


"Oke!" Anna bangkit dari sofa, lalu menghampiri Edgar. "Apa tugasmu masih banyak? Kalau benar, aku akan membantumu menyelesaikannya."


"Tidak perlu, aku hanya perlu menginput data-data ini ke laptop, lalu selesai!"


Sebenarnya Anna ingin sekali meringankan pekerjaan Edgar sebagai dosen dengan cara membantunya. Namun, pria itu selalu menolak bantuan Anna dan menyelesaikan semua pekerjaannya sendiri.


Anna berdiri di samping Edgar yang tengah sibuk mengetik di laptop. Edgar terlihat serius dan tak terganggu dengan berdirinya Anna di sampingnya, padahal Anna sudah beberapa kali memainkan rambut Edgar dan menciumi tengkuk pria itu.


Tak!


Suara tabrakan kecil terdengar begitu Edgar menutup laptopnya dengan sekali dorongan tangan.


Edgar membuka kacamata, lalu menaruh kacamata itu di dalam tempatnya.


"Anna ...."


"Aku lapar."


Sudah pukul 02.10 siang! Tentu saja Edgar pasti lapar, pria itu bahkan belum mengisi perutnya dengan makanan apa pun karena melewatkan makan siangnya. Anna juga merasa bodoh karena dia tidak membawa makanan saat berkunjung ke ruangan Edgar.


"Kalau begitu kita harus makan dulu sebelum pulang ke apartemen."


Edgar menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak! Aku ingin memakan masakan yang kau buat."


Padahal Edgar tahu betul kalau Anna tidak pandai memasak seperti dirinya, namun pria itu selalu saja menyuruhnya memasak.


"Jangan salahkan aku jika rasanya tidak enak, ya?!"


Anna mengembungkan pipi dan membuatnya terlihat menggemaskan di mata Edgar.


Sementara Edgar yang tak bisa mengontrol tangannya, sontak tersenyum seraya mencubit pipi Anna hingga meninggalkan bekas merah di sana.


"Jika kau berekspresi seperti itu, mungkin saja aku akan memakanmu saat ini juga!" goda Edgar dengan menampilkan seringai khasnya.


"Aku tidak keberatan, asalkan kau bisa memperlakukanku dengan baik dan membungkam mulutku agar kita tidak ketahuan karena melakukan hal tidak senonoh di ruangan dosen."

__ADS_1


Edgar tertegun, tak menyangka dengan jawaban yang dilontarkan Anna. Wanitanya itu bahkan sudah terlalu pintar membalas perkataannya dengan kata-kata berani. Untung saja hanya ada mereka berdua di ruangan itu, bagaimana jika orang lain mendengarnya? Semoga saja tidak ada! Dia tidak ingin jika istrinya yang terkenal polos tiba-tiba tertangkap basah karena mengatakan kata-kata yang tidak pantas untuk di dengar.


***


"Sudah siap!"


Anna menaruh semangkuk mashed potato yang dia buat dengan resep yang ada di internet. Dia tidak tahu rasanya enak atau tidak karena sengaja tidak mencicipinya dan langsung disuguhkan pada Edgar.


Melihat Edgar memasukkan suapan pertamanya, Anna berharap jika rasa masakannya tidak buruk.


"Mm ... rasanya enak," ucap Edgar.


Anna memanyunkan bibirnya, dia tahu jika Edgar berbohong. Sebab, Edgar langsung minum air putih setelah memakan suapan pertama.


"Jujur saja padaku kalau rasanya memang tidak enak."


"Kau terlalu banyak menambahkan garam dan juga kentangnya kurang matang." Edgar mengambil sendoknya kembali dan memasukkan suapan kedua. "Tapi karena ini masakanmu, aku akan memakan semuanya."


Meskipun Edgar mengatakan akan memakan semuanya, namun Anna tidak ingin jika suaminya sakit perut karena memakan makanan yang belum matang sempurna.


Oleh sebab itu, ketika Edgar hendak memasukkan suapan ketiga, tiba-tiba Anna mengambil sendok yang Edgar pegang dan menarik mangkuknya.


"Jangan memakannya lagi. Lebih baik kita memesan makanan saja ...," lirih Anna pelan.


Menghela napas, Edgar merasa bahwa dirinya telah menyakiti hati Anna meskipun secara tidak langsung. Dia tidak ingin melihat wanita yang dicintainya murung dan berpikir untuk melakukan sesuatu yang bisa menghiburnya.


"Aku bisa memakan semuanya." Edgar menarik kembali mangkuk beserta sendoknya dari tangan Anna. "Sebagai gantinya, aku harus mendapat sebuah ciuman manis darimu. Ciumanmu adalah makanan terbaik untukku!"


Anna mendengus kecil setelah dia mendengar perkataan yang tidak masuk akal dari Edgar. Pria itu selalu membuat alasan aneh agar mendapat perhatiannya.


Cup!


Ciuman ringan diberikan Anna untuk Edgar. "Aku akan memberikan ciuman di setiap kau menghabiskan satu sendok masakanku. Tanpa minum!"


"Hoo ... benarkah? Kau harus menepati janjimu, Istriku!" ucap Edgar dengan seringai miliknya.


Edgar berencana untuk memakan sedikit demi sedikit mashed potato agar mendapat banyak ciuman dari Anna. Dia menyendoknya hanya seperempat sendok makan, lalu melahapnya dengan cepat.


"Hey! Kau curang! Kau hanya memakannya sedikit, tapi memintaku untuk menciummu?"


Anna menggerutu melihat Edgar yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Pria itu memang pandai memanfaatkan keadaan agar menjadi suatu keuntungan baginya.


"Ingat! Kau harus menepati janjimu, Sayang~"

__ADS_1


__ADS_2