Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Nanti Kita Akan Tidur Bersama


__ADS_3

Anna berpikir kalau hanya ditinggal oleh orang tuanya selama dua hari tidak akan menjadi masalah dan dia bisa mengatasinya. Namun, kenyataan tidak seperti itu.


Misalnya hari ini, biasanya pagi-pagi sekali sudah tersedia sarapan di meja makan dan Anna hanya tinggal memakannya. Karena ibunya yang selalu memasak tidak ada, Anna harus memasak sendiri jika lapar dan bahkan mencuci piring sendiri.


Sementara Anna sibuk dengan pekerjaan rumah, Andy hilang entah ke mana. Dia pergi setelah sarapan dan hingga kini sudah malam pun, dia belum pulang ke rumah.


Sudah hampir tengah malam, tapi Andy masih belum pulang juga. Cih! Padahal aku tidak boleh tidur terlalu malam agar kulitku tetap sehat! batin Anna kesal.


Mondar-mandir di depan TV, Anna masih menunggu kepulangan Andy yang bahkan dia tidak tahu pergi ke mana. Sebagai seorang kakak, Anna khawatir jika adiknya keluyuran hingga tengah malam. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap adiknya.


Tepat pukul 01.00 dini hari, Anna duduk di sofa sambil memejamkan mata. Dia sudah tidak bisa menahan kantuk yang menghampirinya.


Awalnya Anna hanya akan memejamkan matanya sejenak, namun ternyata dia benar-benar tertidur pulas. Dengkuran halus mengalun dari bibir mungil Anna yang terlihat kelelahan. Sungguh hari yang melelahkan baginya!


Saat tertidur, Anna dapat merasakan tangan besar seseorang yang mengangkat dan memindahkannya ke kamar. Perasaan yang sama saat dirinya masih kecil tertidur, lalu sang ayah memindahkan tubuhnya ke kamar. Entah itu mimpi atau bukan, namun Anna merasa senang.


Pagi menyapa, Anna terkejut karena dia terbangun di ranjang miliknya dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher.


Jadi yang kurasakan semalam bukan mimpi? Tapi benar-benar ada orang yang memindahkanku ke kamar? Apa itu Andy? Ah, tidak mungkin! Pasti Ayah!


Tiba-tiba rasa senang menghampiri Anna ketika memikirkan bahwa kemungkinan orang tuanya sudah pulang lebih cepat dari yang direncanakan.


Dengan tergesa-gesa, Anna turun dari kamarnya menuju lantai satu. Dia mendengar sedikit keributan dan mencium harum makanan dari arah dapur.


Itu pasti Ibu! pikir Anna lagi.


Namun, dugaannya salah! Ternyata yang ada di dapur adalah pria tinggi berparas tampan dengan mata obsidian sekelam malam yang akan menjadi suaminya, Edgar.


"Kau sudah bangun? Duduklah dan sarapan bersamaku."


Bergeming. Anna terkejut karena kehadiran Edgar yang tiba-tiba, bahkan pria itu memakai apron yang sering digunakan ibunya di dapur.


"Sejak kapan kau ada di sini?"


"Sejak kau tertidur di atas sofa. Andy yang menyuruhku datang karena dia ada urusan di sekolah sehingga diharuskan menginap. Dia bilang ponselmu tidak bisa dihubungi, padahal dia belum mengatakannya padamu. Karena khawatir, dia menyuruhku datang dan memastikan bahwa kakaknya baik-baik saja."


Seketika, Anna tahu bahwa yang menggendongnya saat tidur adalah Edgar. Bahkan sekarang pria itu sudah menyiapkan sarapan.


"Ah, begitu."


Entah mengapa Anna jadi merasa tidak enak pada Edgar. Dia sudah banyak merepotkan calon suaminya.


Larut dalam pikirannya, Anna sampai tidak sadar bahwa Edgar telah berdiri tepat di hadapannya dengan jarak yang sangat dekat. Begitu sadar, dia hampir jatuh ke belakang saking terkejutnya.


"Kau memang ceroboh!"


"Bukan ceroboh! Aku terkejut karena kau tiba-tiba berada sedekat ini!"


Sekilas, Anna dapat melihat Edgar menyeringai ke arahnya. Seringai yang selalu membuat Anna merinding.


"Maksudmu sedekat ini?"


Edgar mempraktikkan maksudnya dengan mempersempit jaraknya dengan Anna. Hidung mereka bersentuhan, Anna bahkan bisa merasakan deru napas Edgar di wajahnya.


Napas? Anna refleks mendorong dada bidang Edgar yang hampir menciumnya. Dia sama sekali belum gosok gigi, sudah pasti napasnya bau!


Sementara itu, Anna dapat melihat wajah kecewa Edgar. Edgar terlihat seperti anak anjing yang sedang memelas pada tuannya.


"Aku ... belum gosok gigi, jadi jangan menciumku ...."


Bukan itu saja, Anna juga malu dengan penampilannya yang berantakan seperti seorang gelandang. Sungguh memalukan berpenampilan seperti itu di hadapan calon suaminya!


"He? Begitu saja kau malu? Padahal nanti kita akan tidur bersama dan aku akan melihat wajah bangun tidurmu setiap hari."


"Tetap saja aku malu," lirih Anna pelan.

__ADS_1


Benar. Anna hampir lupa dengan kenyataan yang akan terjadi setelah menikah. Tidur bersama! Oh, memikirkannya saja sudah membuat Anna meneguk saliva.


"Tunggu di sini dan jangan dulu sarapan tanpaku! Aku akan kembali setelah mencuci muka dan gosok gigi!"


Anna mengatakan itu sambil berlari kecil ke kamar mandi, lalu kembali setelah lima menit kemudian. Tampilannya lebih segar dan rapi dibanding sebelumnya yang tampak berantakan karena baru bangun tidur.


Duduk berhadapan dengan Edgar, Anna terperangah dengan keterampilan Edgar dalam hal memasak. Di atas meja makan sudah tersusun rapi berbagai jenis makanan sarapan pagi yang terlihat menggugah selera.


"Aku sengaja membuat banyak jenis sarapan agar kau bisa memilihnya. Sebab, aku tidak tahu persis makanan kesukaanmu."


"Aku menyukai semua makanan."


Ya. Anna bukan orang yang pemilih. Dia memakan apa pun yang bisa dimakan, tak peduli rasanya enak atau tidak. Baginya, yang paling penting adalah perutnya kenyang.


Dalam hati yang paling dalam, Anna bersyukur karena Edgar datang ke rumahnya. Pria itu menyelamatkan Anna yang hampir tenggelam dalam kebosanan dan membuat Anna terhindar dari urusan dapur.


"Ah, kenyangnya ...."


Memegang perutnya, Anna sampai merasa sesak karena makan terlalu banyak hingga perutnya membesar.


"Bagaimana bisa seorang wanita makan sebanyak itu? Kau yakin tidak akan sakit perut?"


Wajar saja jika Edgar berkata begitu karena Anna makan lebih dari dua piring. Dia bahkan mencoba semua jenis sarapan yang Edgar buat.


"Tidak perlu khawatir. Aku pasti baik-baik saja!"


Namun, kenyataan yang terjadi berbanding terbalik dengan apa yang Anna ucapkan. Lima belas menit setelahnya, Anna merasakan perutnya seperti ditusuk dan diikat kencang oleh tali sehingga membuat perutnya kesakitan.


Berbaring di ranjang, Anna masih membungkus tubuhnya dengan bathrobe berwarna putih yang selalu dia gunakan ketika selesai mandi. Dengan mata terpejam, Anna mengerang kesakitan seraya memegang perutnya yang tampak kembung.


Mengapa jadi seperti ini? Padahal Edgar mengajakku ke luar, dia pasti sudah menunggu lama di bawah! pikir Anna.


Jangankan berjalan, duduk saja sudah membuat Anna kesusahan. Dia hanya bisa meringkuk di ranjang tanpa bisa melakukan apa pun. Padahal dia ingin berganti pakaian karena berbaring dengan menggunakan bathrobe sangatlah tidak nyaman dan bisa membuatnya terkena flu.


Samar-samar Anna mendengar suara Edgar di sekitar kamarnya. Karena tidak kuat menoleh, akhirnya Anna hanya mengangguk ringan sebagai jawaban dari pertanyaan Edgar.


Tuk tuk tuk


Suara sepatu Edgar terdengar lebih jelas. Tampaknya pria itu menghampiri Anna yang tengah berbaring lemah di ranjang.


Meskipun dengan mata terpejam, Anna dapat merasakan hawa keberadaan Edgar yang berada di sampingnya. Tangan pria itu menyentuh dahi Anna dengan punggung tangannya, lalu menyeka keringat yang bercucuran di pelipis Anna dengan sapu tangan.


"Jangan terlalu banyak bergerak, aku akan pergi ke luar untuk membeli obat."


Lagi-lagi Anna merepotkan Edgar. Karena terlalu serakah, Anna jadi mengalami sakit perut hingga demam. Padahal besok adalah hari yang paling dinantikan, jadi dia harus segera sembuh sebelum hari esok tiba.


Selang beberapa waktu, Edgar kembali dengan kantung berisi obat dan segelas air putih di tangannya. Anna sontak memposisikan dirinya menjadi duduk dengan bantuan dari Edgar, lalu menelan beberapa butir obat sekaligus dan meneguk habis segelas air putih.


"Tidurlah. Aku akan berada di sampingmu hingga kau sembuh."


Anna tersenyum lemah dan mengucapkan terima kasih tanpa bersuara kepada Edgar. Karena efek minum obat, matanya terasa lebih berat sehingga dia pun tertidur pulas dalam sekejap.


Entah sudah berapa lama Anna tidur, namun perutnya sudah tidak sakit dan demamnya pun sudah turun. Tubuhnya terasa lebih ringan dan tidak lengket, padahal dia berkeringat banyak sekali saat tidur.


Masih nyaman berbaring di ranjang, Anna yang tidur telentang membalikkan tubuhnya ke arah samping.


Keras? Sejak kapan gulingku sekeras ini? pikir Anna dengan mata yang masih terpejam.


Dirabanya sesuatu yang keras itu oleh kedua tangan Anna hingga terdengar suara lenguhan. Karena heran, Anna sontak membuka matanya dan melihat wajah tampan Edgar yang tengah tertidur berada di sampingnya.


"Kyaaaaaaaaaaaaa!"


Suara teriakan melengking memenuhi area kamar. Anna terkejut karena Edgar tidur di sampingnya dan yang lebih parahnya adalah dia malah meraba-raba Edgar. Tangannya kini berada di pangkal pinggang Edgar yang masih terpejam.


Segera menarik tangannya, Anna refleks mendorong dada Edgar hingga pria itu jatuh dari ranjang dan terdengar suara benturan yang lumayan keras.

__ADS_1


"Akh!" erang Edgar ketika dia jatuh dari ranjang. Edgar berdiri sambil mengerjapkan matanya yang sedikit buram. "Kau sudah bangun? Bagaimana dengan perutmu?"


"Keluar dari kamarku!"


Anna menyembunyikan dirinya di bawah selimut. Dia menatap kedua telapak tangannya yang sempat meraba-raba tubuh Edgar, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan tersebut.


"Baiklah, kurasa kau sudah sembuh. Kalau begitu aku akan pulang."


Suara langkah kaki Edgar terdengar semakin menjauh. Namun, sebelum Edgar benar-benar pergi, Anna berlirih pelan.


"Terima kasih."


"Kau mengatakan sesuatu?"


Tampaknya Edgar mendengar ucapan terima kasih Anna yang seperti bisikan.


"Aku tidak mengatakan apa pun, jadi cepat pergi sana!"


Saat ini Anna sangat malu. Dia tidak ingin Edgar melihat wajahnya yang memerah karena pria itu pasti akan menggodanya.


Edgar tidak menyadari bahwa aku meraba-rabanya, bukan? Benar! Lagi pula, dia tadi masih tidur dan aku pun tidak sengaja melakukannya!


Anna keluar dari selimut setelah dirasa Edgar sudah tidak ada di kamarnya. Ketika mendengar suara mobil yang baru saja dinyalakan, Anna sontak bangkit dari ranjang dan berlari kecil ke arah jendela. Dia melihat mobil sport Edgar meninggalkan rumahnya.


Dia sungguh pergi! batin Anna.


Setelah mobil sport Edgar tidak terlihat di jalanan, Anna berjalan menghampiri cermin besar seukuran tingginya seraya meregangkan tangannya ke atas hingga terdengar bunyi otot-otot yang tertarik.


Berdiri di hadapan cermin, Anna tertegun begitu melihat pakaian yang dia gunakan. Bukan bathrobe yang membalut tubuhnya, melainkan piyama terusan berwarna merah muda dengan renda di bawahnya.


"Edgaaaaaaaarrrr!"


Pantas saja Edgar tidak membantah ketika Anna menyuruhnya pergi, ternyata pria itu berniat melarikan diri setelah berbuat sesukanya.


Mengganti pakaian Anna saat Anna sedang tidur, tampaknya Edgar sama sekali tidak merasa bersalah. Pria itu bahkan tidur tepat di samping Anna!


Anna mencoba berpikir positif dan mendapat kesimpulan. Ya. Edgar pasti mengganti pakaiannya karena saat itu tubuhnya banyak mengeluarkan keringat hingga terasa lengket.


Meskipun Anna meyakinkan dirinya berulang kali bahwa Edgar tidak ada niatan buruk, namun dia tetap tidak bisa menerimanya begitu saja!


Bagaimanapun, saat itu Anna hanya menggunakan bathrobe tanpa pakaian dalam! Jika Edgar mengganti pakaian Anna, sudah pasti pria itu melihat tubuh polosnya, bukan?


Seketika Anna meneguk saliva, kala membayangkan Edgar sungguh mengganti pakaiannya. Pandangannya beralih pada sesuatu di antara pahanya, sesuatu yang dijaganya hingga menikah nanti.


Tidak sakit. Syukurlah tidak terjadi apa-apa! batin Anna merasa lega.


Hampir saja Anna kehilangan kepercayaannya terhadap Edgar. Kini, Anna sangat yakin bahwa Edgar bukanlah pria yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Edgar hanya berniat membantunya mengganti pakaian tanpa melakukan hal lebih!


Kruyuk


Suara mengerikan keluar dari perut Anna. Melihat jam weker di atas meja, Anna menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan satu atau dua jam dia tidur, melainkan lima jam! Pantas saja perutnya bergoyang meminta untuk diisi.


Dengan langkah gontai, Anna berjalan ke luar kamar menuju dapur dan berharap ada makanan yang bisa dia makan secepatnya.


Membuka kulkas, Anna membelalakkan mata ketika kulkasnya penuh dengan masakan rumah. Dia mengambil salah satu kotak makan dengan sebuah catatan yang menempel di luar kotak tersebut.


Makanlah ketika kau sudah bangun, tapi jangan serakah! Jangan lupa dihangatkan dulu sebelum kau memakannya!


Tertanda, Edgar.


Anna sontak menahan tawanya ketika selesai membaca catatan yang sengaja ditinggalkan Edgar untuknya. Pria itu sungguh merawatnya hingga sembuh sama seperti yang selalu dilakukan ibunya. Memberikan obat, mengganti pakaian, bahkan memasak makanan kesukaannya.


Setelah diingat kembali, jelas-jelas tadi pagi Edgar berkata bahwa dia sama sekali tidak tahu makanan kesukaan Anna. Namun, pria itu mengisi penuh kulkas dengan semua makanan yang Anna suka! Sungguh mengejutkan!


"Aku mencintaimu, Ed."

__ADS_1


__ADS_2