Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Bertamu


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah kejadian di taman bermain. Di saat itu pula Anna mulai menghindari Edgar.


Ketika mereka tidak sengaja berpapasan di kampus, Anna langsung memutar balik arah jalannya agar pandangan mereka tidak bertemu.


Begitu pula saat di tengah pelajaran. Tatkala Edgar menjelaskan semua materi yang dia ajarkan, Anna selalu menundukkan kepalanya. Jika Edgar memberi pertanyaan pun, Anna menjawab seraya menatap sepatunya bukan matanya.


Anna melakukan itu karena dia memiliki alasan tersendiri. Anna tidak bisa mengontrol debaran jantungnya saat melihat sosok Edgar. Selalu seperti itu. Rasanya seperti jantungnya akan melompat ke luar, lalu Anna akan mati.


“Apa kau ada acara setelah ini?” tanya Grace yang sedang mengoleskan lipstik merah ke bibirnya melalui pantulan cermin toilet.


“Tidak. Kenapa kau bertanya?” timpal Anna yang sibuk memainkan ponselnya.


“Kalau begitu, temani aku makan dessert di kafe.”


“Baiklah. Lagi pula, aku juga senggang.”


Anna menyetujui ajakan Grace begitu saja tanpa bertanya lebih lanjut.


Grace dan Anna pergi ke kafe di ujung jalan, dekat kampus mereka. Kebetulan kafe itu menyediakan menu dessert baru dan mereka ingin mencobanya.


Mereka duduk di kursi yang masih tersedia. Karena pembukaan menu baru, kafe itu jadi ramai pengunjung. Namun, untungnya mereka masih bisa mendapatkan kursi.


Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan dua buku menu untuk memesan. Tanpa membuka buku menu, mereka mengatakan pada pelayan itu bahwa mereka menginginkan dessert terbaru di kafe tersebut.


Pelayan itu pergi setelah mencatat pesanan Anna dan Grace.


Beberapa saat setelah pelayan pergi, datanglah dua orang laki-laki yang tidak Anna kenal dan duduk di kursi kosong tepat di hadapan mereka.


Kedua orang itu menyapa Grace. Tampaknya mereka kenalan Grace. Anna mengalihkan pandangan ke arah Grace, dia menyipitkan matanya dan menatap tajam temannya itu.


“Kau tidak bilang padaku kalau kau juga mengundang 'orang asing' ke kafe ini!” ucap Anna dengan nada kesal.


“Hahahaha ... i-itu ....“ Grace tertawa kaku sekaligus bingung cara menjelaskannya.


Anna kesal karena Grace tidak berkata jujur padanya kalau dia mengajak orang asing, terutama mereka laki-laki. Anna tidak ingin banyak bicara, jadi dia hanya akan diam saja.


“Namamu Anna 'kan, temannya Grace? Aku Peter, dan ini Romy,” ucap pria yang katanya bernama Peter itu.


“Kau lebih cantik daripada yang di foto,” imbuh pria satunya lagi.


Foto? Foto apa?! Anna bingung dengan apa yang dibicarakan kedua pria itu. Anna menatap kembali Grace. Namun, Grace mengalihkan pandangannya dari tatapan Anna. Tampaknya itu memang ulah teman baiknya itu.


Anna berdiri dan menghentakkan kedua tangannya di atas meja dan berhasil membuat semua orang menatapnya. Dia menghela napas panjang dan membisikkan beberapa kata pada telinga Grace.


“Aku akan meminta penjelasan mu nanti, Grace!”


Anna meraih tas yang dia bawa, dan pergi meninggalkan Grace serta dua pria asing itu.


Dia berjalan kaki menuju rumahnya seraya mendengarkan musik yang dia putar lewat earphone miliknya. Setidaknya musik bisa membuat Anna tenang.


***


Setibanya di rumah, Anna melihat sepatu formal hitam yang tersusun rapi di depan pintu. Sepertinya rumahnya kedatangan seorang tamu.


Anna melepaskan sepatu yang dia pakai di depan pintu masuk dan memakai sandal rumah.

__ADS_1


“Aku pulang!” teriak Anna memberitahu keluarganya bahwa dia sudah tiba di rumah.


Anna melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamarnya berada. Ketika berjalan, Anna mendengar orang tua beserta adiknya sedang mengobrol dengan tamu yang datang.


Anna tidak memedulikannya dan berniat masuk ke kamarnya tanpa menoleh sedikit pun.


Namun, Olivia Florence - Ibu Anna menyadari kepulangan Anna dan langsung memanggilnya agar menghampiri mereka.


“Putri Ibu sudah pulang? Kemarilah, Nak.” Suara lembut Olivia memanggil Anna.


Dengan terpaksa Anna menuruti perkataan sang ibu dan memutar balikkan tubuhnya ke arah mereka. Ya, di sana ada Ayah, Ibu, adik laki-lakinya, dan Edgar.


Edgar? Kenapa dia ada di rumahku? Lebih baik aku segera masuk kamar. batin Anna bertanya-tanya.


“Maaf, Ibu. Anna sangat lelah, jadi Anna akan beristirahat di kamar.”


Anna langsung membuang wajahnya saat tak sengaja beradu pandang dengan Edgar dan bergegas masuk ke kamarnya.


“Ah, sayang sekali. Anna berkata dia ingin beristirahat. Maaf, Nak Edgar."


Edgar hanya membalas ucapan Olivia dengan senyuman, lalu tatapannya beralih pada pintu kamar Anna yang tertutup.


Edgar ingin tahu alasan Anna terus menghindarinya. Maka dari itu, dia mendatangi kediaman Anna sekaligus mengakrabkan diri dengan keluarga gadis itu.


Sementara itu, Anna masih mengurung diri di kamar. Sejak tadi dia masih mendengar obrolan keluarganya dengan Edgar. Hari sudah mulai malam, tetapi Edgar masih belum pergi dari rumahnya.


“Argh! Kenapa dia belum pergi juga? Ini 'kan sudah waktunya jam makan malam. Aku lapar!” Anna memegang perutnya yang lapar karena belum makan apa pun dari siang.


Tunggu! Sepertinya Anna mendengar ibunya mengatakan sesuatu pada Edgar.


“Nak Edgar, bisa tolong bangunkan Anna? Ketuk saja pintunya, jika Anna masih belum bangun, Nak Edgar masuk saja ke dalam.”


Tampaknya Olivia sangat mempercayai Edgar sampai mengizinkan pria itu memasuki kamar Anna.


Anna yang sejak tadi menguping lewat pintu sontak berbaring di ranjangnya dan berpura-pura tidur ketika mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya.


Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar kamar dan suara Edgar memanggil namanya.


Anna tak menanggapi dan terus berpura-pura tidur dengan harapan Edgar segera pergi dari depan kamar.


Namun, Edgar belum menyerah, dia memutar pegangan pintu kamar Anna sampai terbuka dan masuk ke dalamnya seperti yang Olivia perintahkan sebelumnya.


Edgar duduk di sisi ranjang, lalu mendekatkan bibirnya tepat di telinga Anna.


“Aku tahu kau tidak tidur. Puu—uuh.” Edgar dengan sengaja meniup telinga Anna dan membuat Anna bergidik.


“Hooaamm ... jam berapa sekarang?” Anna berpura-pura melihat jam weker di sebelahnya.


Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Anna segera beranjak dari ranjangnya dan berlari kecil menuju pintu kamarnya yang terbuka, meninggalkan Edgar sendiri.


“Gadis aneh! Tapi aku tetap menyukainya,” gumam Edgar saat melihat sosok Anna mulai menjauh.


Edgar kemudian menyusulnya untuk ikut makan malam bersama dengan keluarga Florence.


Edgar merasakan kehangatan saat dia bersama keluarga Florence dibanding dengan keluarganya sendiri. Itu karena keluarga Florence selalu penuh dengan canda tawa meskipun sedang makan.

__ADS_1


Sebaliknya, di keluarganya selalu penuh dengan keheningan kecuali saat sang ayah yang memulai pembicaraan.


Meskipun begitu, sebenarnya William Dominic sangat menyayanginya. Hanya saja dengan sifatnya yang dingin dan juga kaku, beliau tidak bisa mengekspresikan kasih sayangnya dengan benar.


Setelah makan malam selesai, satu persatu orang mulai meninggalkan meja makan. Dimulai dari sang kepala keluarga, kemudian adik laki-laki Anna dan menyisakan tiga orang. Anna, Edgar, serta Olivia.


Sebelum pergi, Olivia menyerahkan kunci kamar tamu kepada Edgar.


“Nak Edgar boleh memakai kamar tamu untuk di tempati.” Olivia menunjuk ke arah kamar tamu yang tepat di samping kamar Anna.


Kini, tinggal mereka berdua saja yang tersisa. Anna dan Edgar.


Anna beberapa kali menatap Edgar dengan sudut matanya. Edgar tampak tenang.


Anna kemudian beranjak dari kursi hendak masuk ke kamar, akan tetapi Edgar membuntutinya dari belakang.


Anna mempercepat jalannya dan berhasil masuk lewat pintu yang dia buka. Namun, saat akan menutup pintunya kembali, ada sesuatu yang menghalangi.


Edgar menahan pintu kamar Anna dengan tangannya. Anna berusaha mendorong pintunya dan berakhir melukai tangan Edgar hingga Edgar meringis sakit.


Anna refleks membuka pintunya lebar-lebar setelah mendengar suara kesakitan Edgar.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Anna khawatir.


Ketika Anna sibuk mengkhawatirkan Edgar, itulah kesempatan Edgar memasuki kamar Anna. Edgar menutup pintu kamar Anna dan menguncinya dari dalam.


“Kenapa kau terus menghindariku?” desak Edgar yang mulai makin mendekati Anna.


Anna terus memundurkan dirinya saat Edgar mendekat. Selangkah demi selangkah dia terus mundur sampai punggungnya menyentuh tembok.


Anna menelan ludahnya saat tahu dia sudah terpojok. Edgar kemudian mengurung Anna dengan kedua tangannya yang dia tempelkan di tembok agar Anna tidak bisa kabur.


“Ka-kapan aku menghindarimu?” sanggah Anna.


“Seperti sekarang. Kau bahkan tidak berani menatap mataku langsung.”


Jantung Anna berdebar sangat kencang, wajahnya mulai memerah dan badannya mulai lemas.


“I-itu ka-karena-“ Anna berhenti sejenak sebelum mengatakan semua alasannya. “kau seperti akan membunuhku,” sambung Anna.


“Membunuhmu? Kapan aku begitu?” Edgar sedikit bingung dengan apa yang sedang Anna katakan.


Anna menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Maksudku, kau selalu membuatku berdebar tak karuan. Rasanya seperti jantungku akan lepas dari tempatnya.”


Edgar tertawa mendengar penuturan Anna.


Ternyata Anna tidak membencinya. Edgar sempat takut saat mengetahui Anna yang terus menghindarinya, sekarang perasaan Edgar sudah lega.


Mendengar Edgar tertawa, Anna meraih tangan Edgar yang sempat terjepit lalu meremasnya kencang.


"Akh!"


Suara tawa berganti dengan suara rintihan. Edgar menaruh tangannya yang tidak sakit di atas kepala Anna, lalu mengacak-acak rambut gadis itu.

__ADS_1


“Jangan menghindariku lagi! Aku tidak suka!”


__ADS_2